Kematian Seekor Babi Pernah Jadi Pemicu Perang Amerika vs Inggris: Pertempuran Berlangsung Sengit

Tahukah Anda perang dua negara besar Amerika dan Inggris sempat bersitegang hanya persoalan seekor babi? 

Tayang:
Pixabay
Perang Babi 

Sehingga, dia sangat marah dan membunuh babi itu.

Babi itu dimiliki karyawan Inggris dari Perusahaan Teluk Hudson, Charles Griffin.

Griffin memiliki beberapa babi dan terkenal karena membiarkan mereka berkeliaran dengan bebas di seluruh pulau.

Ketika Griffin mengetahui tentang kematian babinya, dia pergi untuk menghadapi Cutlar untuk  menawarkan membayar sebagai kompensasi untuk babi yang mati.

Tapi Griffin menolak dan melaporkan Cutlar pada otoritas Inggris setempat yang kemudian mengancam akan menangkap Cutlar.

Ini membuat marah warga Amerika setempat yang kemudian membuat petisi yang meminta perlindungan Militer AS.

Petisi diterima Jenderal William SnHarney, komandan Departemen Oregon.

Pandangan anti-Inggris Harney terkenal pada saat itu, dan tanpa berpikir panjang dia mengirim 66 orang kompi infanteri ke-9 AS ke San Juan pada 27 Juli 1859.

Setelah mendengar berita ini, James Douglas, gubernur British Columbia, memutuskan mengirim tiga kapal perang Inggris ke daerah itu sebagai unjuk kekuatan.

Selama bulan berikutnya, kedua belah pihak perlahan-lahan meningkatkan kehadiran militer mereka.

Infanteri ke-9 AS menolak untuk mengalah, bahkan mengira mereka kalah jumlah secara besar-besaran.

Kedatangan Laksamana Robert L Baynes Panglima Angkatan Laut Inggris di Pasifik, membuat segalanya berubah.

Ketika Douglas memerintahkan Baynes untuk mendaratkan pasukannya di San Juan dan menyerang infanteri ke-9 AS, Baynes menolak.

Dia memilih tidak melibatkan dua negara besar dalam perang yang dipicu babi.

Kabar akhirnya mencapai Washington dan London. Para pejabat di kedua sisi Atlantik terkejut bahwa perselisihan tentang babi telah berkembang menjadi perselisihan yang melibatkan sebanyak 3 kapal perang, 84 senjata, dan lebih dari 2.600 orang.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved