Matewri Belajar Sekolah

Materi Belajar Sejarah: Penyebab Terjadi Perang Padri dan Tokoh-tokoh Perang Padri

Perang Padri adalah salah satu perlawanan rakyat pada masa kolonialisme Belanda di Indonesia pada abad ke-19.

Ist
Tuanku Imam Bonjol dalam Perang Padri 

Tuanku Lintau dan Tuanku Rao menjadi tokoh Harimau Salapan selanjutnya yang dikalahkan Belanda pada Januari 1833. Pada bulan yang sama, garnisun Belanda diserang dan menewaskan 139 serdadu. Hal ini menandai kompromi antara kaum adat dan kaum Padri, sehingga Belanda kemudian menangkap Raja Pagaruyung Sultan Tangkal Alam Bagagar. Menghadapi seluruh masyarakat Minangkabau, Belanda melunakkan sedikit konfrontasinya dengan mengeluarkan Plakat Panjang. Pernyataan bahwa Belanda datang hanya untuk berdagang

Gubernur Jenderal Dominique Jacques de Eerens mengirim Mayor Jenderal Cochius pada 1837 untuk menggempur Bonjol. Bonjol belum berhasil ditaklukkan sejak awal tahun 1833. Belanda mengepung benteng Bonjol selama enam bulan sejak Maret sampai Agustus 1837. Pada bulan Agustus benteng berhasil dijatuhkan dan Imam Bonjol melarikan diri. Kekuatan terakhir Kaum Padri berhasil runtuh dan tidak dapat bangkit kembali setelahnya.

Tokoh-Tokoh Perang Padri
1. Tuanku Imam Bonjol
Tuanku Imam Bonjol adalah salah satu dari ulama besar yang memimpin gerakan Padri. Ia dianggap sebagai tokoh yang kuat karena memiliki kedudukan yang kuat berupa benteng di atas bukit wilayah Bonjol. Setelah Tuanku nan Renceh wafat, ia menggantikannya sebagai panglima perang. Imam Bonjol menyerah kepada Belanda pada 1837 setelah kesulitan menyatukan pasukan yang tercerai-berai. Ia menyesalkan kekerasan yang dilakukan oleh kaum Padri kepada kaum Adat dalam rangkaian perang tersebut. Imam Bonjol wafat pada 8 November 1864 di Lotta, Minahasa tempat pengasingan terakhirnya.

2. Tuanku Pasaman
Tuanku Pasaman adalah salah satu dari Harimau Selapan yang memimpin gerakan Padri. Ia bertanggungjawab atas serbuan Padri ke istana Pagarruyung yang menyebabkan Sultan harus menyingkir dari Minangkabau. Serangan ini menjadi rangkaian awal dari konflik Padri-Adat sebelum terlibatnya Belanda.

3. Tuanku Nan Renceh
Tuanku Nan Renceh adalah salah satu ulama yang kuat pendiriannya terhadap penggunaan jalan kekerasan dalam gerakan Padri. Ia bertugas menjadi pimpinan gerakan sekaligus panglima perang. Setelah wafat, digantikan oleh Tuanku Imam Bonjol sebagai panglima perang Padri. Tuanku Nan Renceh berjasa dalam menyebarkan ide-ide gerakan Padri kepada pembesar Minangkabau.

4. Mayor Jenderal Cochius
Mayor Jenderal Cochius adalah perwira tinggi Belanda yang ahli dalam penerapan taktik Benteng Stelsel. Ia dikirim ke Minangkabau pada tahun 1837 untuk menyerbu Bonjol dan mengakhiri peperangan. Cochius memerintahkan penyerangan besar-besaran terhadap benteng Bonjol selama enam bulan (Maret-Agustus 1837). Pada awal Agustus baru Belanda dapat menguasai keadaan, Benteng Bonjol jatuh pada 16 Agustus 1837 dan Imam Bonjol melarikan diri.

5. Letnan Kolonel Raaf
Letnan Kolonel Raaf adalah salah satu perwira yang didatangkan ke Minangkabau setelah perjanjian antara kaum adat dan Belanda disepakati. Ia datang pada Desember 1821. Pada maret 1822, ia berhasil memukul mundur Padri dari Pagarruyung dan mendirikan Benteng Van der Capellen di Batusangkar. Ia terus memimpin pasukan menekan gerakan Padri yang tadinya tidak terbendung, meskipun akhirnya wafat pada April 1824.

6. Letnan Kolonel Elout
Letnan Kolonel Elout memasuki peperangan pada tahun 1831 dengan membawa Sentot Prawirodirjo yang membelot dalam rangkaian Perang Jawa. Ia menjadi salah satu perwira yang bertugas menangkap pimpinan kaum adat ketika mereka berkompromi dengan Padri untuk bersama-sama menggempur Belanda. Ia menangkap Sultan Tanah Alam Bagagar yang diduga bertanggungjawab atas serangan kepada garnisun belanda yang menewaskan 139 serdadu.

Akhir Perang Padri
Akhir dari Perang Padri telah dapat dilihat ketika Benteng Bonjol jatuh pada Agustus 1837. Bonjol adalah posisi kuat terakhir yang dimiliki oleh kaum Padri di Minangkabau. Sehingga kejatuhannya menyebabkan pasukan tercerai-berai, Imam Bonjol kesulitan untuk menyatukannya kembali.

Pada Oktober 1837, Belanda berhasil menangkap Imam Bonjol yang kemudian diasingkan ke Cianjur pada Januari 1838. Perang masih berkobar sampai Belanda berhasil menduduki Rokan Hulu yang diduduku oleh Tuanku Tambusai. Kerajaan Pagarruyung serta wilayah Minangkabau kemudian masuk ke bagian Pax Netherlandica.

(*/tribun-medan.com)

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari tribun-medan.com. Mari bergabung di Channel Telegram "Tribun Medan Update", caranya klik link https://t.me/tribunmedanupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved