Aneh Tingkah Kim Jong Un Mendadak Pakai Sandal, Pakar Sebut Sang Diktator Waspada Penyakit Ini

Akan tetapi, perhatian yang ditujukan kepada pemimpin Korea Utara itu bukan karena isi pidato, melainkan alas kaki yang dikenakannya.

Tayang:
Kolase Tribun Medan/IST
Kim Jong Un - Aneh Tingkah Kim Jong Un Mendadak Pakai Sandal, Pakar Sebut Sang Diktator Waspada Penyakit Ini 

TRIBUN-MEDAN.com - Korea Utara kembali menjadi sorotan banyak mata.

Sebelumnya, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sempat buat heboh terkait kondisi tubuhnya yang tiba-tiba nampak jauh lebih kurus.

Kini di bulan Oktober tahun 2021, Kim Jong Un kembali menjadi sorotan terkait pakaiannya selama acara formal.

Kim Jong Un menarik perhatian pengamat internasional selama melakukan pidato yang menandai pendirian partai berkuasa Korea Utara pada Minggu (10/10/2021).

Akan tetapi, perhatian yang ditujukan kepada pemimpin Korea Utara itu bukan karena isi pidato, melainkan alas kaki yang dikenakannya.

Mengutip Reuters yang melansir video yang disiarkan oleh media pemerintah pada hari Senin, Kim Jong Un berjalan di atas karpet merah aula mewah

mengenakan apa yang tampak seperti sandal hitam mengkilap dengan kaus kaki hitam, untuk melengkapi setelan gelapnya, dasi merah anggur, dan kacamata.

Colin Zwirko, koresponden analitik senior untuk NK News yang berbasis di Seoul, melihat alas kaki itu.

Dia mengatakan tidak jelas mengapa Kim memutuskan untuk memakai sandal itu, atau apakah dia pernah memakainya sebelumnya.

Zwirko mengatakan, apa pun alasannya, Kim tampaknya mengambil langkah akhir-akhir ini untuk melindungi kesehatan dan kenyamanannya.

"Dia kehilangan berat badan yang signifikan dalam waktu singkat di bulan Mei dan pada bulan September dia terlihat berdiri di atas tikar empuk selama pidato panjang, yang tidak biasa," kata Zwirko.

"Tampaknya dia ekstra hati-hati dengan COVID dan mungkin berurusan dengan masalah kesehatan yang sedang berlangsung," tambahnya.

Pilihan pakaian Kim sering diteliti dengan cermat oleh analis internasional yang mencari petunjuk tentang kesehatannya.

Padahal hal tersebut merupakan rahasia yang dijaga ketat di Utara.

Ketika Kim muncul kembali di media pemerintah pada awal Juni setelah tidak terlihat di depan umum selama hampir sebulan, para analis mencatat bahwa arlojinya tampaknya diikat lebih erat daripada sebelumnya di sekitar pe.rgelangan tangan yang tampaknya lebih ramping.

Hal itu memicu spekulasi mengenai kesehatan Kim Jong Un.

Media pemerintah kemudian jarang menyebutkan kesehatan pemimpin itu, Seorang penduduk Pyongyang yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, bahwa semua orang di Korea Utara patah hati setelah melihat gambar Kim yang tampak "kurus".

Dalam pidatonya pada hari Minggu, Kim fokus pada isu-isu partai dan mendesak para pejabat untuk fokus pada peningkatan kehidupan warga dalam menghadapi situasi ekonomi yang "suram".

Dilarang membahas kesehatan Kim Jong Un

Sebuah sumber mengatakan unit pengawas lingkungan Korea Utara telah membuat resmi pernyataan yang memperingatkan orang untuk tidak mendiskusikan kesehatan Kim Jong-Un, sang pemimpin Korea Utara Ini.

Melansir Daily Mail, Jumat (20/8/2021), sebuah sumber yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan, "Unit pengawas Korea Utara juga mengatakan penurunan berat badan secara tiba-tiba bukan karena masalah kesehatan, melainkan karena dia menderita dalam kesendirian demi negara dan orang-orang dalam krisis.”

Seperti yang pernah terjadi dalam setiap bencana, termasuk bencana alam, perang, bahkan bencana kelaparan, maka hampir dipastikan anak-anaklah yang selalu menjadi korban.

Termasuk yang terjadi di Korea Utara ini, yang memaksa orang untuk melakukan apa pun demi bisa mendapatkan makanan.

Keditaktoran dari kepemimpinan Kim Jong-Un inilah yang membuat rakyatnya menderita dalam kelaparan dan melakukan caranya sendiri untuk bisa makan.

Seorang ayah yang kelaparan diberitakan telah dieksekusi karena membunuh kedua anaknya untuk dimakan.

Kebijakan tertutup yang dianut negara komunis ini, menyebabkan kelaparan tersembunyi terjadi di provinsi pertanian di Hwanghae Utara dan Selatan.

Akibat kelaparan itu menewaskan hingga 10.000 orang.

Kelaparan itu pulalah yang memicu kekhawatiran bangkitnya kembali kanibalisme di negara komunis tersebut.

Itu hanyalah salah satu kisah yang terekspos di saat para penduduk bertarung melawan kelaparan di negara itu.

Kelaparan terjadi karena kekeringan dan kekurangan menyerang pertanian yang diperparah dengan para pejabat partai yang menyita makanan.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un, menurut situs Dailymail, telah menghabiskan banyak uang untuk peluncuran dua roket.

Padahal, ada berbagai laporan soal kekurangan makanan di negara itu dan keprihatinan atas meninggalnya  10.000 orang karena kelaparan.

Reporter dari Asia Press yang melakukan penyamaran mengatakan kepada Sunday Times, bahwa seorang pria bahkan berani menggali kuburan cucunya sendiri dan memakan mayat cucunya itu.

Ada pula seorang pria yang merebus anaknya sendiri untuk dimakan, karena kelaparan yang merajalela.

Peristiwa lain juga dilaporkan bahwa seorang ayah membunuh anak perempuan tertuanya saat istrinya sedang pergi dan kemudian membunuh anak laki-lakinya juga karena anaknya itu menyaksikan aksi brutalnya.

Ketika istrinya kembali, sang suami hanya mengatakan bahwa mereka memiliki ‘daging’.

Namun, istrinya menjadi curiga dan menghubungi pejabat berwenang, yang kemudian menemukan bagian lain dari tubuh anak-anaknya itu.

Para jurnalis melaporkan bahwa stok makanan disita dari dua provinsi untuk diberikan kepada penduduk di Pyongyang.

Salah satu pejabat Partai Buruh Korea yang berkusa, lapor Sunday Times, mengatakan bahwa di satu desa di kawasan Chongdan, menjadi gila karena kelaparan.

Pria itu merebus anaknya sendiri, memakan daging anaknya, namun akhirnya ditangkap.

Koran pemerintah Korea Utara, belum lama ini, mengumumkan agar seluruh warga bersiap untuk makan akar rumput dalam menghadapi musim kelaparan yang akan datang.

Namun, koran itu menyatakan bahwa warga Korea Utara tidak boleh menyalahkan pemimpin mereka, Kim Jong-Un, jika jutaan rakyat mati kelaparan.

"Bahkan jika kita sampai tidak sanggup lagi, kita tetap harus menunjukkan kesetiaan kepada pemimpin kita, Kim Jong-un, hingga ajal tiba," demikian tulisan di tajuk surat kabar di Korea Utara.

Laporan dari The Telegraph menyatakan, bahwa rakyat di Ibu Kota Pyongyang sudah diperintahkan untuk memberikan beras sebanyak 1 kilogram kepada negara.

Entah apa yang akan terjadi kemudian, namun kini banyak warga sudah mulai menyetok makanan untuk menghadapi gelombang kelaparan.

(*/ Tribun-Medan.com)

Artikel ini sudah tayang di Grid

Sumber: Grid.ID
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved