Membenahi Pendidikan Berarti Merdeka
Good education good nation, demikian para pemikir merumuskan tentang betapa pentingnya pendidikan dalam sebuah negara.
TRIBUN-MEDAN.COM - Good education good nation, demikian para pemikir merumuskan tentang betapa pentingnya pendidikan dalam sebuah negara. Betapa pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan bangsa manusia di permukaan bumi mana saja.
Memang tak dapat dipungkiri ada masa-masa tertentu, pendidikan tersubordinasi di dalam kehidupan perpolitikan satu negara. Ini sudah kita rasakan pada era Orde Lama, bahkan sampai masa Orde Baru pendidikan di Indonesia masih belum sebagaimana yang kita harapkan. Orde berikutnya Nadiem Makarim.
Diakui memang banyak yang telah dicapai di dalam pembangunan selama Orde Baru. Dari salah satu bangsa yang termiskin di dunia menjadi bangsa di dalam kelompok bangsa-bangsa yang berpendapatan menengah. Namun demikian, perkembangan yang pesat dilihat dari segi pendapatan per kapita telah mengorbankan hak asasi manusia dan kemerdekaan individu. Lalu bagaimana pula setelah Nadiem Makarim meluncurkan Link and Mach?
Pada masa ini praksis pendidikan kita tidak lagi diarahkan kepada peningkatan kualitas. Dengan sendirinya pendidikan tidak mempunyai daya saing global sebagaimana yang dilaporkan dalam berbagai laporan internasional. Akuntabilitas pendidikan sangat rendah meskipun diterapkan apa yang disebut prinsip “link and match”. Akuntabilitas pendidikan pada masa ini ditentukan oleh penguasa bukan oleh konsumen.
Masyarakat semakin lama semakin jauh terlempar dari kebudayaan dan telah merupakan hasil karya birokrasi. Selanjutnya peranan keluarga dan masyarakat terlepas dari praksis pendidikan. Akhirnya krisis yang berkepanjangan–diawali krisis ekonomi–adalah juga krisis dunia pendidikan kita.
Justru itu, saatnyalah kini paradigma baru pendidikan diterapkan sehinggga “link and match” yang dikonsepkan benar-benar mengejawantah dalam kehidupan keseharian. Dengan demikian peran pendidikan dalam menciptakan manusia yang siap pakai tidak hanya ada di atas kertas saja.
Siap Pakai
Pertanyaannya apakah ‘manusia yang siap pakai itu’? Banyak rumusan sudah dibuat oleh para pakar. Pada kesempatan ini mari kita menyamakan persepi tentang ‘manusia yang siap pakai tersebut’.
Menurut penulis, manusia siap pakai adalah manusia yang berkompetensi di bidangnya sesuai dengan jenjang dan spesialisasi pendidikan yang dimilikinya. Contoh kecil, tamatan SD (sekolah dasar) dapat dikatakan berkompetensi bila ia bisa membaca, menulis, berhitung dan memiliki sopan santun sesuai ajaran agama dan keyakinan yang dianutnya. Begitulah seterusnya hingga perguruan tinggi.
Menyahuti akan pentingnya paradigma baru pendidikan itu, pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional. Pemberhasilan penerapannya ada di tangan guru, meskipun stakeholders pendidikan tak dapat diabaikan, bahkan harus bersinergi dengannya.
Justru itu, komponen bangsa–terutama guru–yang terlibat langsung maupun tidak dengan dunia pendidikan, harus siap melakukan perubahan paradigma. Selama ini, sejak Indonesia merdeka, kita hanya mengenal nama kurikulum sesuai tahun penerapannya. Di awal kemerdekaan kita mengenal Kurikulum 1947.
Kemudian mengalami perubahan pada Kurikulum 1964. Kurikulum ini hanya bertahan empat tahun, sebelum akhirnya pemerintah menerapkan Kurikulum 1968 sebagai penggantinya.
Tujuh tahun kemudian muncul Kurikulum 1975, lalu diganti Kurikulum 1984, dan berganti lagi menjadi Kurikulum 1994. Akan tetapi, kali ini nama kurikulum pengganti yang digagas sejak awal oleh Depdiknas bukan Kurikulum 2004 misalnya, melainkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, dan kurikulum 2013.
Mengapa yang pertama-tama harus berubah adalah guru? Jawabnya sederhana, seperti yang dikemukakan pada awal tulisan, guru adalah ujung tombak keberhasilan sebuah kebijakan bidang pendidikan karena merekalah tokoh yang bersentuhan langsung dengan kondisi riil di lapangan. Oleh karena itu, sudah sewajarnya bila semua pihak – terutama pemerintah – harus mendorong dan mendukung agar guru bisa mengembangkan diri untuk bisa menjadi penggerak dari sebuah perubahan.
Secara sederhana, karakteristik kemampuan peserta didik itu diterjemahkan melalui semacam kriteria: anak yang cerdas, biasa-biasa saja, dan lemah. Mengingat karakteristik kemampuan setiap anak berbeda, sesuai bakat dan kemampuan masing-masing.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/gagfsfsfds.jpg)