China Lakukan Provokatif, Sebut AS Tak Sekuat yang Dibayangkan Orang, Bakal Pecah Perang Dunia Ke-3
Media pemerintah China mencap perang Afghanistan sebagai "pelajaran menyakitkan" bagi AS dan Sekutunya.
TRIBUN-MEDAN.COM - Setelah Amerika dan sekutunya mengakhiri pendudukan 20 tahun Afghanistan yang diklaim Taliban sebagai kemerdekaan penuh, 31 Agustus 2021, China langsung melancarkan aksi provokatif.
Media pemerintah China mencap perang Afghanistan sebagai "pelajaran menyakitkan" bagi AS dan Sekutunya.
Editor tabloid Partai Komunis China (PKC) Global Times, Hu Xijin, mengatakan perang di Afghanistan harus diingat sebagai pelajaran menyakitkan dalam sejarah AS.
"AS tidak sekuat yang dipikirkan orang Amerika sendiri," tulisnya dalam postingan terpisah di Twitter dan Weibo.
"Mereka tidak dapat mengubah dunia; mereka harus belajar untuk rendah hati dan melepaskan gagasan gila tentang Amerika sebagai 'suar demokrasi'," lanjutnya, Selasa (31/8/2021).
Sementara itu pada pertemuan Dewan Keamanan PBB, perwakilan China Geng Shuang mengatakan, tindakan pasukan asing di Afghanistan selama 20 tahun terakhir, termasuk pertanggungjawaban pidana atas pembunuhan sembarangan warga Afghanistan oleh pasukan AS dan Sekutunya, tidak dapat dihapuskan dan harus diselidiki.
Kini, setelah berakhirnya pendudukan di Afghanistan, AS dan sekutunya mulai meningkatkan pertahanan di kawasan Lait China Selatan.
Bahkan beberapa pakar mengungkapkan Sebelum bahwa perang dunia tiga bakal pecah bermula dari kawasan dekat dengan wilayah China dan Taiwan tersebut.
Hal itu ternyata bukan isapan jempol belaka terbukti dari beberapa negara di sekitar China yang mulai meningkatkan pertahanan mereka.
Salah satunya adalah Jepang yang kini makin sering bersitegang dengan China di perbatasan kedua negara.
Sebagai perbandingan, anggaran pertahanan Jepang untuk tahun fiskal 2021 adalah 5,3 triliun yen.
Nilai ini menandai kenaikan anggaran selama 10 tahun berturut-turut.
Jumlah itu belum termasuk pengeluaran yang terkait dengan menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, yang mencapai 200 miliar yen per tahun.
Peningkatan anggaran pertahanan Jepang ini jelas bertujuan untuk mempercepat peningkatan kemampuan dalam domain baru, dan mempromosikan pengembangan teknologi baru untuk menghadapi kehadiran militer China yang semakin meningkat.
Dilansir dari Kyodo, permintaan anggaran untuk tahun 2022 tersebut telah diajukan oleh Kementerian Pertahanan Jepang pada hari Selasa (31/8/2021), sebelum nantinya harus dibahas terlebih dahulu oleh parlemen.
Rencana belanja militer Jepang tahun 2022
Kementerian Pertahanan Jepang mengatakan, mereka akan mengabaikan biaya upgrade 70 unit jet tempur F-15, yang rencananya akan menerima rudal baru dengan biaya mencapai 398,0 miliar yen.
Sebagai gantinya, pengeluaran akan dialihkan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan.
Jumlahnya naik 114,1 miliar yen menjadi 325,7 miliar yen.
Beberapa teknologi yang akan menjadi fokus termasuk pesawat tanpa awak yang menggunakan kecerdasan buatan yang akan disiapkan untuk mendukung jet tempur generasi berikutnya.
Anggaran itu juga mencakup pengembangan sistem spektrum elektromagnetik untuk menembak jatuh drone dan ancaman udara lainnya dengan laser energi tinggi atau gelombang mikro.
Dari total anggaran yang diajukan, 130,0 miliar yen di antaranya akan digunakan kementerian untuk membeli lebih banyak jet tempur siluman canggih seri F-35.
Sementara 10,2 miliar yen akan digunakan untuk pengadaan kapal angkut kecil dan menengah untuk mendukung operasi pertahanan pulau terpencil di barat daya Jepang.
Kementerian Pertahanan Jepang berencana menempatkan unit rudal di Pulau Ishigaki untuk memperkuat kemampuan pertahanan di sekitar rantai kepulauan Senkaku yang disengketakan dengan China.
Anggaran sebesar 37,9 miliar yen juga disiapkan untuk pengadaan rudal standoff yang akan diluncurkan dari berbagai platform, termasuk kapal dan pesawat.
Belum cukup sampai di situ, Kementerian Pertahanan Jepang juga meminta 5,8 miliar yen untuk memodifikasi radar untuk kapal baru yang dilengkapi dengan sistem pencegat rudal Aegis.
Meski masih harus melalui berbagai proses untuk mendapat persetujuan, permintaan anggaran untuk tahun depan ini hampir dipastikan akan disetujui mengingat situasi keamanan kawasan yang memang sedang tidak menentu.
Sementara, Korea Selatan Nekat Naikan Utang Sampai 50% Demi Tingkatkan Pertahanan
Halnya dengan pemerintah Korea Selatan mengumumkan peningkatan belanja dalam anggaran tahunan di akhir masa jabatan lima tahun Presiden Moon Jae-in.
Peningkatan belanja yang cukup agresif ini dilakukan dengan mendorong segala prospek pencapaian anggaran berimbang di tengah defisit fiskal yang memburuk.
Pada Selasa (31/8/2021), Kementerian Keuangan Korea Selatan melaporkan, akan menganggarkan belanja pada rekor terbesar yakni 604,4 triliun won setara US$ 518,4 miliar di tahun 2022.
Jumlah tersebut naik 8,3% dibandingkan dengan anggaran belanja tahun ini, sebelum dua pengeluaran darurat tambahan dirancang guna menawarkan bantuan pandemi kepada rumah tangga.
Rencana pengeluaran ini akan membawa rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) Korea Selatan menjadi 50,2%. Ini pun jadi rekor terbesar.
"Utang kami akan melebihi 50% (ekonomi) dalam jangka menengah, tetapi, ketika kami mulai membalikkan keadaan untuk posisi fiskal yang lebih baik. Kami mengharapkan, peningkatan yang cukup besar dalam neraca pembayaran fiskal tahun depan," kata seorang pejabat anggaran di Kementerian Keuangan Korea Selatan.
Pada tahun 2025, Korea Selatan mengharapkan rasio sebesar 58,8%, menurut Kementerian Keuangan.
Pandemi virus corona telah memaksa pemerintah Moon Jae-in yang berhaluan kiri untuk berkompromi pada tujuan fiskalnya, dengan menawarkan paket bantuan pandemi yang ambisius dalam enam pengeluaran fiskal tambahan sejak awal tahun lalu.
Rasio utang terhadap PDB Korea Selatan pun telah menggelembung dari sekitar 40% ketika mulai menjabat pada tahun 2017.
Anggaran 31 Agustus dipandang sebagai tindakan penyeimbang antara menuangkan dana ke layanan sosial yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi ekonomi yang melambat dan mengurangi ketimpangan pendapatan yang meningkat, sambil menghindari tekanan lebih lanjut pada keuangan negara.
Sekitar sepertiga dari total pengeluaran, setara 216,7 triliun won, akan dialokasikan untuk kesejahteraan dan pekerjaan, untuk menutupi kenaikan biaya sosial karena ekonomi yang melambat paling cepat di antara anggota OECD, menciptakan masalah jangka panjang bagi negara.
Pemerintah juga telah mengalokasikan 11,9 triliun won untuk pengeluaran di bidang terkait lingkungan untuk bekerja menuju tujuan netralitas karbon negara itu pada tahun 2050.
Pemerintah juga mengusulkan 55,2 triliun won untuk belanja pertahanan nasional.
Kementerian Keuangan menyebut akan menerbitkan obligasi sebesar 167,4 triliun won pada 2022.
Kenaikan obligasi negara diproyeksikan mencapai 94,9 triliun won.
Kepala Intelijen Ini Ungkap Pergerakan Mata-mata Rusia dan China yang Disebut Bak Teroris: Menebar perselisihan dan Menyerang
Sebelumnya, Perang dunia 3 telah dimulai oleh beberapa negara dengan kekuatan militer yang cukup modern.
Perang tersebut bukan seperti perang-perang sebelumnya yang sangat terlihat jelas lantaran saling serang menggunakan senjata.
Namun kini perang dunia telah menggunakan strategi maupun rencana-rencana yang bisa menjatuhkan lawan masing-masing.
Salah satunya dengan mengirimkan mata-mata untuk sekedar mencari informasi dari lawan maupun menjadi pengacau di kubu lawan.
Hal itu yang baru-baru ini diungkap oleh badan intelijen Inggris, MI5 mulai mewaspadai manuver agen mata-mata dari Rusia dan China.
Bahkan ketua badan intelijen, Ken McCallum pun yang langsung mengungkapkan apa yang ia dapati beberapa waktu ini.
Direktur Jenderal MI5, Ken McCallum, pada Rabu (14/7/2021) lalu mengatakan, intelijen Inggris telah mencatat 10.000 pendekatan terselubung oleh mata-mata asing yang berusaha memanipulasi orang-orang biasa di Inggris.
Lebih lanjut, McCallum menegaskan, ancaman dari Rusia dan China ada di level yang sama dengan terorisme.
"Mereka berusaha mencuri teknologi, menabur perselisihan dan menyerang infrastruktur," ungkap McCallum, seperti dikutip Reuters.
Insiden 9/11 di Amerika Serikat hampir 20 tahun yang lalu menjadikan penanggulangan terorisme sebagai prioritas sebagian besar badan intelijen negara-negara Barat.
Belakangan, geliat mata-mata Rusia dan China kembali mengalihkan fokus para intelijen Barat, kembali ke metode intelijen kuno di mana mata-mata yang melacak mata-mata lain.
"Kita harus, dari waktu ke waktu, membangun kesadaran dan ketahanan publik yang sama terhadap ancaman negara yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun terhadap terorisme," lanjut McCallum dalam pidatonya di markas MI5, Thames House.
Para intelijen Inggris mengakui Rusia dan China secara independen berusaha mencuri data sensitif komersial dan kekayaan intelektual, serta ikut campur dalam politik dan menabur informasi yang salah.
Baik Rusia maupun China menyangkal mereka ikut campur di luar negeri, berusaha mencuri teknologi, melakukan serangan siber, atau menabur perselisihan.
McCallum, yang merupakan intelijen senior, mengatakan, seluruh negara harus waspada terhadap ancaman mata-mata asing.
"Penelitian-penelitian brilian di Inggris telah dicuri dan disalin. Kami juga melihat melihat bisnis dilubangi oleh hilangnya keuntungan yang telah mereka bangun dengan susah payah," ungkap McCallum, menggambarkan ulah mata-mata asing.
MI5 yang memulai aksinya pada 1909 dengan fokus menangani ancaman dari Jerman era Perang Dunia II, kini telah berkembang menjadi salah satu badan intelijen paling disegani di dunia.
Pandangan baru MI5 terkait Rusia dan China ini kemungkinan besar akan menjadi acuan baru bagi pergerakan banyak badan intelijen nasional di seluruh dunia.
(*/Tribunmedan/ Sosok.Id)
Baca juga: China dan Australia di Ambang Perang Habis-habisan, Amerika dan Inggris Kirim Banyak Persenjataan
Baca juga: SAAT China Mulai Kuasai Timor Leste dan Laut China Selatan, Australia-Amerika Nyatakan Siap Perang
Baca juga: Timor Leste Lalui Fase Terburuk Covid-19, Dibiarkan Sekarat Gara-gara China-Australia Saling Sikut
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/militer-australia.jpg)