Ritual Pernikahan Teraneh, Dari Ibu Mertua Menemani Malam Pertama hingga Ditunggui Keluarga

Terkait soal tradisi pernikahan, sama seperti tradisi lainnya, berbeda-beda di berbagai negara atau tempat.

Editor: AbdiTumanggor
Ilustrasi/ pengantin (malam pertama)
Ilustrasi malam pertama usai pesta pernikahan 

Sontak saja, tradisi malam pertama unik keluarga sang istri buat pengantin pria ini jiper sendiri.

Melansir Grid.ID, seorang pengantin pria nyaris batal menikah gara-gara tradisi aneh ini.

Padahal rencana pernikahan sudah diatur dari jauh-jauh hari.

Awalnya, sang pengantin pria begitu semangat ingin segera meminang sang calon istri.

Namun begitu mendengar cerita dari calon kakak iparnya, pengantin pria yang tak disebutkan namanya ini mendadak ciut.

Betapa tidak, keluarga sang calon istri rupanya punya tradisi unik soal malam pertama.

Menurut sang istri, malam pertama harus dilakukan di rumah orang tuanya, di kamar manten yang telah disediakan.

Sang calon istri sebut keluarganya bakal semalaman menunggu di luar kamar manten sampai prosesi malam pertama pasangan pengantin usai.

Kemudian, ketika prosesi malam pertama usai, pengantin pria harus keluar kamar untuk menerima pujian.

Di luar kamar pengantin pria bakal disoraki bak seorang jagoan yang menangkan peperangan.

"Anggota keluarga yang lain menunggu di luar pintu sehingga mereka dapat bertepuk tangan dan bersorak ketika mereka keluar," kata sang pengantin perempuan.

Tak hanya itu, seprai bekas peraduan pengantin bakal dijahit ulang oleh ibu mertua sebagai permadani ruang keluarga.

Mendengar tradisi keluarga sang calon istri, pengantin pria ini ketakutan.

Saking takutnya, ia bahkan sempat membicarakan soal tradisi ini dengan calon mertuanya.

Bukan restu yang ia dapat, sang pengantin pria malah dianggap tak menghargai tradisi.

"Aku benar-benar ketakutan dan mengatakan kepadanya dalam keadaan apa pun aku tidak akan melakukan hal semacam itu di depan seluruh keluarganya," imbuhnya.

"Karena saya terima pesan dari ibunya yang mengatakan bahwa saya belum mengerti pentingnya keluarga dan tradisi," pungkas si pengantin pria.

Selengkapnya Baca: Kisah Tradisi Pernikahan, Malam Pertama di Atas Kain Putih dan Keluarga Menunggu di Dekat Pintu

Malam Pertama Seharusnya Rahasia Keluarga

Diketahui, malam pertama merupakan rahasia yang harus dijaga oleh pasangan suami-istri.

Tak pantas jika membicarakan tentang malam pertama kepada orang lain. Apalagi jika ada kekurangan dalam hubungan suami-istri tersebut.

Sebelumnya viral sebuah tradisi di Kabupaten Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan (Sumsel) soal malam pertama.

Seorang wanita yang tak disebutkan namanya mengatakan, keluarganya masih memegang teguh "tradisi cengkung".

Dalam tradisi tersebut, pasangan pengantin yang baru menikah diwajibkan melakukan "malam pertama" di atas sehelai kain putih.

Di saat bersamaan, beberapa orang sesepuh dari pihak keluarga pengantin laki-laki menunggu di dekat pintu (luar kamar).

Setelah sepasang pengantin selesai melakukan tugasnya, para sesepuh itu akan masuk ke kamar dan memastikan kain putih tersebut ada bekas "darah perawan" atau tidak.

"Saya tahu darah yang keluar saat bercampur tidak bisa menjadi patokan perempuan masih perawan atau tidak. Tapi keluarga saya tetap keukeh melaksanakan adat itu. Saya bingung ustaz," ujar perempuan itu saat berkonsultasi dengan ustaz.

Sang ustaz menyimpulkan bahwa tradisi itu bertentangan dengan syariat Islam.

"Agama kita tidak mengajarkan seperti itu. Kamu harus memberi penjelasan dengan cara yang baik kepada pihak keluargamu. Bahwa kita harus menjaga pergaulan, betul. Tapi tidak begitu caranya," ujar sang ustaz.

Seseorang bekas penghulu di salah satu desa dalam wilayah kecamatan Penukal, PALI, tempat tradisi itu pernah ada. H Wancik (65), orangnya.

Dikutip dari Sriwijaya Post, ia menceritakan, sebelum tahun 90-an, jejaka yang ingin bertemu gadis pujaannya harus bernyali dan berjuang keras.

Pada masa itu, bertemu dan berduaan harus sembunyi-sembunyi jika tak ingin babak belur dan dikenakan denda.

"Kalau mau ketemu gadis, harus sembunyi-sembunyi. Kalau ketahuan bisa dipukul atau dibawa ke rumah kepala desa dan dikenakan denda," kata Wancik.

Menurut Wancik, ketatnya aturan pergaulan antara pria dan wanita tersebut bukan tanpa sebab. Hal ini dilakukan karena keluarga sang gadis berusaha menjaga kehormatan dan kesucian anak gadisnya.

Juga agar tidak malu, saat sang gadis menikah pada saatnya. Bagi pria, keperawanan adalah kehormatan seorang gadis pada masa itu.

"Mempelai pria bisa saja mengembalikan perempuan yang baru saja dinikahinya kalau terbukti tak perawan lagi. Makanya ada adat seperti itu," katanya.

Wancik menjelaskan, pada malam pertama, keluarga mempelai pria akan membentangkan sehelai kain putih di atas tempat tidur pengantin.

Kemudian, keluarga pria yang terdiri dari sesepuh akan menunggu di depan pintu kamar pengantin, selama proses malam pertama bercampur.

Setelah kedua mempelai selesai "becampur", maka para orang tua atau sesepuh keluarga akan memeriksa kamar pengantin yang telah selesai digunakan.

Kain putih yang menjadi alas akan diperiksa. Mereka akan membuktikan apakah di kain itu ada bercak darah yang dianggap sebagai bukti bahwa pengantin wanita masih perawan atau tidak.

Bila didapati ada bercak darah, maka para tetua mempelai pria akan memukul cengkung (sejenis gong kecil) untuk diperdengarkan pada masyarakat banyak.

Suara cengkung mengandung informasi bahwa pengantin perempuan masih perawan. Sebaliknya, jika tidak ditemukan bekas atau noda darah di kain itu, maka tidak ada bunyi cengkung.

"Jika itu terjadi, maka pengantin periah berhak memilih apakah tetap mau melanjutkan pernikahan atau mengembalikan pengantin perempuan kepada keluarganya. Tentunya sangat memalukan dan itu yang dikhawatirkan pihak keluarga perempuan," kata Wancik.

(*/tribun-medan.com/ intisari/ grid.id / TribunJambi)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved