Pasien Covid-19 yang Dikeroyok Warga di Toba Belum Dapat Dirujuk ke Rumah Sakit Khusus
RSUD Porsea juga akan merujuk pasien tersebut ke rumah sakit jiwa yang ada di Kota Medan.
Penulis: Maurits Pardosi |
TRIBUN-MEDAN.com, TOBA -Selamat Sianipar, pasien Covid-19 yang dikeroyok oleh warga Desa Bulu Silape, Kecamatan Silaen, masih dirawat di RSUD Porsea dan segera dipindahkan ke rumah sakit rujukan untuk Covid.
"Ya, pasien atas nama Selamat Sianipar sudah dirawat satu hari ini di ruang rawatan kami. Sudah kami lakukan perawatan, sudah diberikan obat-obatan," ujarDirektur RSUD Porsea dr Tommy Siahaan di Kantor Bupati Toba, Senin (26/7/2021).
Pihaknya akan merujuk Selamat ke rumah sakit Covid-19 yang ada di Kota Medan bila kondisi psikologisnya mulai stabil.
Selain perawatan untuk penyakit Covid-19 yang diidapnya, RSUD Porsea juga akan merujuk pasien tersebut ke rumah sakit jiwa yang ada di Kota Medan.
"Saat ini, memang dia tanpa keluhan, hanya gangguan depresi. Maka, depresinya itu dulu kita obati dan setelah stabil nanti kita akan rujukan Covid-19 ke Medan," sambungnya.
Ia berharap, kondisi pasien mulai stabil dalam dua hingga tiga hari mendatang untuk mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit rujukan.
Siahaan mengatakan, Selamat tidak mengalami luka-luka parah setelah dikeroyok warga.
Terpisah, Bupati Toba menyampaikan bahwa pihaknya melihat bahwa pihak Satgas Covid-19 Kabupaten Toba bekerja profesional dalam menangani kasus Selamat Sianipar.
"Ya, sebenarnya Satgas kita itu sudah profesional melakukan tugasnya. Seketika, kepala desa menerima informasi dari Dians Kesehatan bahwa ada warganya yang terkena Covid-19, langsung beliau kerja, carikan tempat dan bicara dengan keluarga," ujar Bupati Toba Poltak Sitorus.
"Dan itu sudah dilakukan, dan di desa itu cukup bagus. Tempat isolasinya bagus, makanan disiapkan. Bahkan disiapkan untuk 14 hari," terangnya.
"Sudah disediakan, artinya tidak ada kekurangan makanan. Tidak ada kekurangan pelayanan. Bapak ini berusaha keluar-keluar, merangkul orang, memeluk orang. Berusaha untuk menemui orang, termasuk juga istrinya," sambungnya.
Dalam penuturannya, pengidap Covid-19 berupaya menularkan Covid-19 dan tidak betah menjalani masa isolasi mandiri.
"Nah hal ini kan sudah membahayakan orang, ini ancaman nyawa loh. Kalau virus sudah ada di dalam tubuhnya, lalu berusaha dia menularkan itu, itu sama dengan membahayakan orang lain, menimbulkan kematian bagi orang lain," tuturnya.
"Jadi itu sangat berbahaya. Maka kejadian itu, yang kita lihat masyarakat melakukan pengamanan bagi warga di situ dengan cara menangkap, mengamankan orang ini," sambungnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pada proses pengamanan pasien yang terekam dalam video berdurasi 37 detik tersebut terlihat sekumpulan orang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).
"Tapi waktu itu belum ada APD yang ada di situ, maka dipakai di situ alat-alat, yang kita lihat di situ wah kenapa sampai digituin," sambungnya.
"Itu sebenarnya dari keterangan Kepala Desa untuk menjaga jarak, agar jangan menyentuh warga, maka pakai alat," pungkasnya.
(cr3/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/direktur-rsud-porsea-dr-tommy-siahaan.jpg)