News Video

Andi Firman, Pelukis Mural Disabilitas Asal Medan, Hasilkan Ratusan Mural di Tengah Keterbatasan

Lukisan Firman pun tak bisa dipandang sebelah mata. Gradasi warna dan detilnya terlihat apik dan rinci.

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Dua tongkat tersandar di samping Firman (53) yang tengah melukis mural di dinding tepi gang menarik perhatian setiap orang yang lewat.

Terang saja, di tengah keterbatasannya yang tak bisa berjalan dengan normal, lelaki paruh baya ini terlihat semangat mengoleskan kuasnya di atas permukaan dinding.

Lukisan Firman pun tak bisa dipandang sebelah mata. Gradasi warna dan detilnya terlihat apik dan rinci.

Lelaki dengan nama lengkap Andi Firman saat ini tengah mengerjakan projek lukisan muralnya di dinding sekolah Muhammadiyah yang terletak di Gang Aman Jalan Bromo, Kecamatan Medan Area Kota Medan.

Ia sudah mengerjakan mural berbentuk pemandangan pegunungan, sawah dan aliran sungai itu sekitar tiga hari terakhir.

Firman melukis dengan ditemani kaleng-kaleng cat dan kuas yang ia beli sendiri.

Kepada tribun-medan.com, Firman bercerita dirinya sudah menyukai seni lukis sejak masih belia.

"Dari kecil sudah suka melukis, bahkan sebelum masuk sekolah, sudah suka melukis. Awalnya dari media kertas, lama-lama semakin berkembang ke media-media lain," ujar Firman saat ditemui di lokasinya melukis mural di Gang Aman Medan, Kamis (17/6/2021).

Firman mengatakan, ketertarikan dia terhadap seni lukis dimulai saat melihat banyak gambar dan foto-foto di koran yang ditempel di dinding rumahnya.

"Dulu kan waktu masih kecil rumah kami dari papan, jadi papannya banyak yang bolong, sama bapak ditempel-tempel pakai koran. Jadi saya lihat koran-koran itu, saya mulai coba menggambar foto-foto yang ada di situ, dulu masih gambar di kertas," ungkapnya.

Bagi Firman, melukis memberikannya kesenangan dan kepuasan tersendiri. Hampir seumur hidupnya dihabiskan untuk melukis.

Sampai akhirnya Firman harus kehilangan kaki sebelah kirinya pada tahun 1998. Ia menderita cedera akibat luka tembakan pada kerusuhan Mei 1998.

"Saya selain melukis, keluarga juga ada usaha percetakan. Jadi saya kemana-mana kan bawa tas, mungkin waktu itu saya dikira mahasiswa yang ikut demo, jadi salah tembak," kata dia.

Firman tak mengeluhkan sedikitpun kondisi kakinya pascaproses amputasi yang terpaksa dilakukan.

"Sekitar satu minggu saya dirawat, harus dipotong karena sudah terputus. Hubungan kaki atas sama bawah sudah tidak tersambung lagi," katanya.

Meskipun kini tak lagi bisa berjalan dengan normal, ia mengaku hal tersebut tidak menghalangi hobinya untuk melukis.

"Enggak ada kendala, melukis itu hobi saya, saya senang melakukannya. Jadi kondisi saya sekarang ini tidak bisa menghalangi itu. Bukan kendala yang besar dan menghalangi untuk berkarya," tuturnya.

Hingga kini, Firman sudah menghasilkan lebih dari ratusan lukisan di berbagai media gambar dan jenis.

Firman pun mengerjakan mural dari berbagai permintaan bagi kerjasama dengan Pemerintah Daerah ataupun swasta.

"Alhamdulillah dari melukis udah bisa ke berbagai wilayah di Indonesia. Bagi saya yang paling bekesan waktu saya di Jakarta, melukis wajah-wajah orang yang lewat, saya bisa mengerjakannya dalam waktu 15 menit,"

"Biasanya saya melukis naturalis, seperti pemandangan alam. Tapi juga melukis jenis lain seperti surealis, realis dan aliran seni lukis lainnya," jelasnya.

Biasanya dalam satu kali melukis mural, Andi membutuhkan waktu satu minggu. Sementara biaya yang dibutuhkan untuk membeli cat bisa mencapai Rp 3 juta.

"Kalau biaya saya tidak patokkan, cuma biaya peralatan saja. Kalau ngerjakan dinding berukuran 5 meter biasanya butuh Rp 3 juta," ungkapnya.

Lelaki kelahiran 21 Juni 1968 ini juga menggeluti usaha percetakan yang terletak di Jalan Seto, Kecamatan Medan Area.

Namun ia masih aktif mengerjakan berbagai permintaan pengerjaan mural.

Ia mengatakan, di balik rumitnya lukisan mural semuanya dimulai dari hal yang sederhana.

"Saya mikirnya simpel saja, seperti waktu sekolah dulu dibilang pesawat rumit dibuat dari pesawat sederhana. Begitu juga dengan lukisan, gambar yang rumit dimulai dari gambar-gambar yang sederhana," pungkasnya.

(cr14/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved