TRIBUNWIKI
Asal Muasal Komunitas Hindu Bali di Serdangbedagai, Berawal dari Musibah Gunung Agung
Asal muasal kedatangan mereka disebut sebut merupakan buah program transmigrasi yang digagas Presiden Soekarno zaman itu.
Penulis: Alija Magribi | Editor: Ayu Prasandi
Desa Pegajahan sendiri di matanya bagaikan kampung halaman. Harmonisasi hidup di tengah masyarakat lokal.
Terlebih, pada tahun 1989, salah seorang perwira TNI-AD asal Bali bertugas di Serdangbedagai membangunkan pura Hindu bernama Pura Dharmaraksaka.
Pura tersebut dibangun bersamaan dengan dibangunnya dua pura lainnya yang di Kabupaten Karo dan Lingkungan Markas Komando Daerah (Kodam) I Bukit Barisan, Medan.
Baca juga: DAFTAR 18 Pejabat Eselon III Pemprov Sumut yang Dilantik, Gubernur Edy Rahmayadi: Kalian Harus Loyal
Di dalam pura berluas 20 x 20 meter tersebut, berdiri Patung Dewa Ganesha, Patung Dewi Saraswati.
Kemudian Ngelurah, tempat duduk para dewa dewi, Dua Ekor Patung Naga, Barong dan Arjuna serta bunga-bunga yang ditanam di pelataran tempat sembahyang.
Baca juga: Resmikan RSU Mahkota Bidadari, Gubsu Edy: Semoga Bisa Berikan Layanan Kesehatan Terbaik
Komunitas Hindu Bali yang tersisa di Desa Pegajahan saat ini jumlahnya jauh berkurang.
Bahkan beberapa diantaranya telah berakulturasi dengan masyarakat Non-Hindu Bali dan berpindah ke luar kota.
"Jumlah kita paling sepuluh Kepala Keluarga (KK) lagi di sini. Dan kebetulan tinggalnya agak-agak jauh di sini, di desa sebelah. Karena setelah rombongan pulang kampung, beberapa yang di sini juga pindah ke luar kota. Ada yang ke Medan, ke Tapanuli ada juga yang ke Karo. Berpencar semua," tukasnya.
(Alj/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/komunitas-hindu-bali-di-serdangbedagai.jpg)