TRIBUNWIKI

Asal Muasal Komunitas Hindu Bali di Serdangbedagai, Berawal dari Musibah Gunung Agung

Asal muasal kedatangan mereka disebut sebut merupakan buah program transmigrasi yang digagas Presiden Soekarno zaman itu.

Penulis: Alija Magribi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/ ALIJA
Komunitas Hindu Bali di Serdangbedagai 

TRIBUN-MEDAN.com, SERGAI- Komunitas Hindu Bali memiliki rekam sejarah panjang dalam kehidupan bermasyarakat di Kabupaten Serdangbedagai.

Bahkan, jauh sebelum kabupaten ini berdiri - hasil pemekaran dari Kabupaten Deliserdang pada 18 Desember 2003, masyarakat Hindu Bali ternyata sudah sudah mendiami daerah tersebut.

Jejak kehidupan komunitas Hindu asal Bali ini dibuktikan dengan anggunnya sebuah pura bernama Dharmaraksaka di Kecamatan Pegajahan. Pura dirawat oleh satu keluarga tersisa dari komunitas Hindu di sini.

Komunitas Hindu Bali di Serdangbedagai
Komunitas Hindu Bali di Serdangbedagai (TRIBUN MEDAN/ ALIJA)

Baca juga: Resep dan Cara Membuat Chiken Nugget ala BTS Meal McDonalds

Perdasarkan wawancara awak Tribun Medan dengan Made Nengah Sumadi Yase - penjaga Pura Dharmaraksaka, kehadiran masyarakat Bali di Kabupaten Serdangbedagai terjadi dalam sebuah migrasi.

Komunitas ini mulai mendiami Desa Pegajahan sekitar tahun 1963.

Asal muasal kedatangan mereka disebut sebut merupakan buah program transmigrasi yang digagas Presiden Soekarno zaman itu.

Pada tahun itu, terjadi bencana alam meletusnya Gunung Agung di Bali pada tahun 1963.

Baca juga: Sandiaga Uno Kunjungi Makam Pendeta Nommensen, Ephorus: Sayang Dengar Bapak Sayang dengan HKBP

Masyarakat seputaran gunung yang terkena dampaknya memilih menjadi tenaga kontra di PTPN II Kebun Melati Kecamatan Pegajahan.

Kehidupan baru sebagai petani perkebunan akhirnya dilakukan masyarakat Bali.

"Saat itu Presiden Soekarno punya program transmigrasi. Kami ditawarkan untuk bekerja ke luar Pulau Bali sebagai petani kebun kelapa sawit di Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi.

Beberapa dari kami menerima dan kebetulan saya dan teman-teman dapat kerjanya di sini (Serdangbedagai)," ujar Made, sapaan akrabnya.

Made sendiri masih anak-anak saat bermigrasi bersama lebih ada 200-an warga Bali di Serdangbedagai.

Ia mengaku program tersebut sangat membantunya dan saudara-saudara di Sumatera Utara yang ditimpa musibah. Kondisi Bali belum tersohor seperti saat ini pada tahun 1960-an itu.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1980, sebagian komunitas Hindu Bali kembali ke kampung halamannya. Sementara sisanya masih bermukim di Pegajahan dan menyebar di Sumatera Utara.

"Kondisi berbalik. Bali mulai maju. Sementara di Serdangbedagai kami mulai bingung mau kerja apa dengan situasi saat ini. Beberapa dari kami pun kembali ke Kabupaten Karangasem. Mereka memilih kembali, sementara saya masih menetap di sini, karena anak-anak di sini semua," cetusnya.

Desa Pegajahan sendiri di matanya bagaikan kampung halaman. Harmonisasi hidup di tengah masyarakat lokal.

Terlebih, pada tahun 1989, salah seorang perwira TNI-AD asal Bali bertugas di Serdangbedagai membangunkan pura Hindu bernama Pura Dharmaraksaka.

Pura tersebut dibangun bersamaan dengan dibangunnya dua pura lainnya yang di Kabupaten Karo dan Lingkungan Markas Komando Daerah (Kodam) I Bukit Barisan, Medan.

Baca juga: DAFTAR 18 Pejabat Eselon III Pemprov Sumut yang Dilantik, Gubernur Edy Rahmayadi: Kalian Harus Loyal

Asal Muasal Komunitas Hindu Bali di Serdangbedagai
Asal Muasal Komunitas Hindu Bali di Serdangbedagai (TRIBUNMEDAN/ Alija Magribi)

Di dalam pura berluas 20 x 20 meter tersebut, berdiri Patung Dewa Ganesha, Patung Dewi Saraswati.

Kemudian Ngelurah, tempat duduk para dewa dewi, Dua Ekor Patung Naga, Barong dan Arjuna serta bunga-bunga yang ditanam di pelataran tempat sembahyang.

Baca juga: Resmikan RSU Mahkota Bidadari, Gubsu Edy: Semoga Bisa Berikan Layanan Kesehatan Terbaik

Komunitas Hindu Bali yang tersisa di Desa Pegajahan saat ini jumlahnya jauh berkurang.

Bahkan beberapa diantaranya telah berakulturasi dengan masyarakat Non-Hindu Bali dan berpindah ke luar kota.

"Jumlah kita paling sepuluh Kepala Keluarga (KK) lagi di sini. Dan kebetulan tinggalnya agak-agak jauh di sini, di desa sebelah. Karena setelah rombongan pulang kampung, beberapa yang di sini juga pindah ke luar kota. Ada yang ke Medan, ke Tapanuli ada juga yang ke Karo. Berpencar semua," tukasnya.

(Alj/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved