News Video
Detik-detik Seorang Pria Kena Serangan Jantung saat Main Bulutangkis
Beredar video detik-detik seorang pria kena serangan jantung saat bermain bulutangkis.
Penulis: M.Andimaz Kahfi | Editor: M.Andimaz Kahfi
Detik-detik Seorang Pria Kena Serangan Jantung saat Main Bulutangkis
TRIBUN-MEDAN.COM - Beredar video detik-detik seorang pria kena serangan jantung saat main bulutangkis.
Dalam video amatir yang beredar, terlihat pria yang mengenakan kaos hitam, celana hijau muda dan sepatu olahraga tampak begitu semangat melakukan pukulan smash.
Namun, ternyata pukulan smash yang ia lakukan meleset sehingga bola masuk dan menjadi poin bagi lawannya.
Sang pria sempat tersenyum saat mengetahui ia kecolongan satu poin akibat salah mengantisipasi bola.
Pria itu lalu menunduk dan mengambil bola yang terjatuh tersebut.
Setelah mengambil bola, ia sempat melakukan ancang-ancang sebelum memukul bola.
Tapi saat akan memukul bola, ia sudah terlihat sempoyongan.
Saat akan memukul bola, tiba-tiba pria itu terjatuh "brakk" terdengar suara tubuh si pria jatuh dengan posisi badan telungkup.
Sontak hal itu membuat rekan-rekannya yang bermain bulutangkis menjadi panik.
Beberapa rekannya yang sedang istirahat duduk dipinggir lapangan, langsung bangkit dan berusaha menolong pria berbaju hitam.
Terlihat rekannya memukul-mukul badan si pria yang terjatuh diduga akibat serangan jantung itu.
Mereka lalu membaringkan badan temannya yang masih dalam keadaan pingsan tersebut.
Bahkan saat coba didudukkan, korban masih belum sadarkan diri.
Ketiga rekannya yang panik, lalu meminta pertolongan.
Kemudian, beberapa orang lainnya yang berada disekitar lokasi berusaha membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Belum diketahui pasti, apakah korban yang terkena serangan jantung selamat.
Kita doakan saja ya, semoga korban selamat dan bisa beraktivitas kembali.
Dilansir dari Kompas.com, banyak kita dengar kasus kematian mendadak pada orang-orang yang aktif berolahraga, bahkan seorang atlet.
Sebagian besar kasus dikaitkan dengan serangan jantung.
Menurut data di Amerika Serikat, sekitar 1 dari 50.000 kematian mendadak terjadi pada atlet.
“Pada atlet kebanyakan terjadi karena henti jantung mendadak atau cardiac arrest, yaitu kondisi di mana jantung tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuh dengan efektif,” kata dokter spesialis jantung dr.Ario Soeryo Kuncoro Sp.JP dalam diskusi virtual yang diadakan oleh Heartology RS.Brawijaya Jakarta (8/5/2021).
Cardiac arrest bisa dipicu oleh berbagai sebab, mulai dari gangguan irama jantung, serangan jantung, atau pun penumpukan cairan di selaput jantung.
Ario menjelaskan, faktor-faktor yang meningkatkan risiko kematian mendadak karena jantung antara lain kebiasaan merokok, berjenis kelamin laki-laki, gangguan kolesterol, hingga ada riwayat penyakit ini dalam keluarga.
Selain itu, ada penyebab lain yang juga sering tidak terdeteksi, yakni gangguan pada otot jantung.
“Pada olahragawan justru aktivitas olahraganya bisa menyebabkan penebalan otot jantung yang berkembang menjadi penebalan tidak normal. Hal ini membuat aliran darah tidak efisien,” ujarnya.
Kelainan otot jantung tersebut salah satunya bermanifestasi sebagai gangguan irama yang dapat menggangu fungsi jantung.
Akibatnya, pencinta olahraga ini terancam resiko henti jantung mendadak atau mati mendadak.
Deteksi dini
Pencegahan dan deteksi dini kematian mendadak, menurut Ario, tidak mudah karena diperlukan pemeriksaan yang menyeluruh dengan biaya relatif besar.
“Untuk screening sederhana bisa dengan wawancara risiko penyakit dan pemeriksaan fisik, misalanya apakah pernah pingsan tanpa sebab sebelumnya, riwayat nyeri dada yang mengarah penyempitan pembuluh darah atau pun aritmia,” kata dokter yang menjadi staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.
Yang tidak kalah penting adalah mengetahui adanya riwayat penyakit jantung dalam keluarga, seperti aritmia atau kematian mendadak pada usia kurang dari 50 tahun.
“Ini perlu dievaluasi lebih lanjut, misalnya dengan rekam jantung atau USG jantung secara rutin,” katanya.
Sebagai pencegahan, Ario menekankan pentingnya untuk tidak menganggap remeh setiap keluhan saat sedang berolahraga.
“Misalnya ada rasa pusing, kliyengan, sebaiknya berhenti dan istirahat, apakah keluhannya membaik,” imbuhnya.
Kondisi yang wajib diwaspadai adalah ketika dada terasa berat, napas sesak, keringat dingin, atau terlalu capek sehingga ingin pingsan. Segera hentikan olahraga dan cari pertolongan dokter.(*)