News Video
Keluarga Chaos Tolak Pemakaman SOP Covid-19 karena Negatif, Ini Penjelasan Direktur RS Mitra Medika
Polemik pasien SZ (50) yang meninggal di RS Mitra Medika dan hendak buru-buru dimakamkan berstatus Covid-19 sempat ricuh.
Penulis: Dedy Kurniawan |
Laporan Wartawan Tribun Medan / Dedy Kurniawan
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Polemik pasien SZ (50) yang meninggal di RS Mitra Medika dan hendak buru-buru dimakamkan berstatus Covid-19 sempat ricuh dan membuat heboh.
Pihak keluarga bersama Ormas Pemuda Batak Bersatu (PBB) Belawan sempat protes menggeruduk rumah sakit.
Menanggapi insiden ini, Direktur RS Mitra Medika, dr Fauzi angkat bicara.
Dia mengakui bahwa sempat terjadi keributan dan nyaris chaos karena menyarankan pasien segera dimakamkan sesuai SOP pasien Covid-19.
"Dari awal kami sampai bahwa ini dugaan Covid-19, kami lakukan pemeriksaan PCR.
Standarnya dua kali (tes PCR), apabila pemeriksaan pertama postif tidak perlu pemeriksaan kedua. Apabila pemeriksaan pertama negatif maka ditunggu pemeriksaan kedua," katanya.
Lanjut dr Fauzi mengatakan bahwa protes pihak keluarga pasien atau jenazah di saat sedang menunggu hasil PCR pertama. dr Fauzi menyampaikan pihaknya hanya menjalan protokol pemerintah untuk menghindar penyebaran Covid-19, baik warga masih hidup maupun sudah meninggal dunia.
"Kami hanya menjalan protokol pemerintah, kemudian karena ada ribut-ribut dan suasana rumah sakit harus tenang jadi kami dengarkan lah (keluarga dan Ormas PBB). Kami sudah jelaskan, tapi keluarga merasa telah menandatangani hal yang merek tidak mengerti," katanya.
Disinggung soal anjuran dari pihak RS Mitra Medika terkait pemakaman sesuai SOP Covid-19 tanpa hasil PCR, dr Fauzi mengatakan bahwa protokol tidak boleh berlama-lama menahan jenzah.
Dengan alasan mencegah transmisi penyebaran Covid-19.
"Mayat punya potensi menyebarkan virus ke orang lain. Jadi kami tidak mau menahan berlama-lama protokolnya. Kami juga koordinasi dengan Satgas Covid-19 bahwa keadaan sudah chaos. Jadi kebijakan ditunggu hasil PCR pertama saja, jadi kalau negatif diserahkan ke keluarga," jelasnya.
Setelah sempat chaos terjadi keributan, alhasil terbukti pasien yang meninggal dunia dinyatakan negatif Covid-19, sekitar pukul 18.00 WIB. Jenazah langsung diserahkan ke pihak keluarga lebih cepat dari jadwal hasil tes pukul 21.00 WIB sebelumnya.
Kepala Pelayanan Medis RS Mitra Medika, dr Maya menceritakan awal kronologis bahwa pasien SZ mengalami sesak nafas, batuk cukup parah. Pasien sempat mengalami suhu 38,6 derajat celsius hingga diberikan bantuan oksigen.
"Anjuran kami dirawat di ruang isolasi dan sudah ditandatangani keluarga, begitu juga jika meninggal dunia seperti apa (sesuai protokol kesehatan). Kondisi pasien kesehatannya jelek, sempat diberi oksigen 15 liter, ditambah 6 liter lagi. Terjadi perburukan kami kabar keluarga, sempat pindah ke ICU dan memang tidak tertolong, meninggal dunia. Sedangkan hasil PCR memang tidak bisa cepat, tidak bisa hanya setengah jam," jelas dr Maya.
(Dyk/tribun-medan.com)