China dan Australia di Ambang Perang Habis-habisan, Amerika dan Inggris Kirim Banyak Persenjataan

Dengan situasi tersebut, Amerika Serikat (AS) dan Inggris berencana untuk mengirimkan lebih banyak persenjataannya ke Australia.

Editor: AbdiTumanggor
us navy
Kapal induk USS Theodore Roosevelt dan kapal pengawalnya bertolak ke Laut China Selatan 

Beberapa bulan terakhir telah terjadi peningkatan besar-besaran di China dalam hal kekuatan militer dan diplomatiknya di seluruh dunia.

Mulai dari Laut China Selatan hingga Taiwan, hingga serangan dunia maya di negara-negara barat dan genosida terhadap Muslim Uyghur di barat negara itu.

Beberapa pekan terakhir telah terlihat ancaman besar dari China terhadap Taiwan.

Ini karena kekhawatiran meningkat atas rencana China untuk kemungkinan menginvasi Taiwan dan pengambilalihan.

China juga telah membuat beberapa negara jatuh dalam cengekeramannya melalui proyek Belt and Road.

Di mana China menggaet negara-negara miskin untuk meminjam uang kepada mereka. Lalu meminta imbalan sebagai bayarannya.

Misalnya Angola yang mengizinkan China untuk membangun proyek infrastruktur besar.

Seperti jalan dengan imbalan penambangan bahan mentah dan ekstraksi lainnya.

Rudal anti kapal AGM-158C LRASM yang diborong Australia dari Amerika
Rudal anti kapal AGM-158C LRASM yang diborong Australia dari Amerika (lockheedmartin.com)

Kemarahan Australia Terhadap China ketika Mulai Menguasai Timor Leste

Dalam pemberitaan Tribun-Medan.com sebelumnya, pakar kesehatan mendesak pemerintah Perdana Menteri Australia Scott Morrison untuk mempercepat pengiriman dosis vaksin virus corona ke Timor Leste di tengah krisis yang semakin parah di sana.

Krisis di Timor Leste itu pun mendorong diplomasi vaksin China untuk memberi bantuan lebih cepat, mengancam eksistensi Australia di negara tetangganya.

Timor Leste berada di tengah pertempuran paling serius dengan virus corona. Pada saat yang sama, Timor Leste juga masih dalam pemulihan dari bencana banjir dan tanah longsor bulan lalu.

Melansir The Sydney Morning Herald, Rabu (5/5/2021), batch pertama Australia yang terdiri dari 20.000 vaksin AstraZeneca tiba di Dili dengan penerbangan Qantas pada hari Rabu.

Sumber pemerintah Australia mengkonfirmasi pengiriman berukuran serupa direncanakan setiap dua minggu.

Tetapi dengan kasus baru memuncak pada lebih dari 100 per hari, dua kali lipat dalam dua minggu terakhir dan empat orang meninggal dalam gelombang baru, para ahli kesehatan mendesak Australia untuk mempercepat bantuan vaksin di negara itu.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved