Viral Medsos

VIRAL Video 56 Detik Pasien Megap-megap Oksigen Tak Diganti di RS Pirngadi: Mak, Bangun Bangun

Beredar video viral berdurasi 56 detik di salah satu akun di Instagram yang menyebutkan bahwa telah terjadi pelayanan buruk di RS Pirngadi

Penulis: Fredy Santoso | Editor: Randy P.F Hutagaol
Capture Video/IST
Pasien seorang ibu megap-megap dan pingsan lantaran tak dapat tabung oksigen. (Capture Video/IST) 

Saat itu, tabung oksigen yang diberikan suster habis. Namun ia menyebutkan suster tidak transparan dalam memberikan informasi.

Bahkan menurutnya suster sengaja mengelabui dengan berpura-pura mengatur tombol sirkulasi untuk menenangkan keluarga.

"Bahkan airnya enggak lebih dari 1 senti aku rasa 5 mili aku rasa. Jadi patokan saya, saya perhatikan itu dari yang dinding itu aja banyak. Kenapa yang ditabung sedikit. Kenapa oksigennya gak ada, gelembunnya sedikit. Kita kan logika," ucapnya.

Sementara itu kondisi ibunya terus memburuk. Ia terlihat kesulitan bernapas hingga megap-megap.

Karena panik, Rawi berteriak dan menegur suster yang ada disitu.

Sementara ketika ia meminta oksigen tak kunjung diberikan. Hingga akhirnya suster membawa ibunya keluar dari ruangan.

Namun tak sampai 10 meter keluar dari ruangan, Rawi membawa kembali ibunya ke kamar lalu ia pasang dengan oksigen yang ada di dinding.

Akan tetapi ternyata oksigen itu tak berfungsi. Sehingga suster meminta air minum untuk diisi ke tabung oksigen.

"Sudah megap, jadi saya teriak di situ. ini oksigen nggak ada nggak ada datang dia. Lalu saya tanya mana gelembungnya, saya bilang. Baru suster itu minta air minum kita untuk menambah ke air itu air yang ada di saringan filter itu udah enggak ada ternyata bang," ucapnya.

"Saya Sorong itu saya tarik Mama saya saya masukkan ke dalam ruangan lagi saya cucu Kedinding oksigen itulah tolongan saya."

Setelah keadaan semakin runyam, dokter laki-laki datang untuk memeriksa. Dan ternyata apa yang Rawi ragukan benar. Kalau oksigen telah habis, meski sempat tak berterus terang.

"saya yang tekan-tekan dada Mama saya dan nggak lama datang. Dokter itu saya ribut ribut ribut lah kita di situ dia tekan-tekan juga nggak ada juga kan itu oksigen kosong saya bilang pasti itu oksigen."

"Saya tutup kan ke mulut saya waktu di depan itu nggak ada nggak ada udah ada sama sekali tidak ada."

Untuk memastikan itu dokter Sony coba membuka tabung putaran atas lalu membuka pengaturan filter.
Namun saat ia memeriksa itu ternyata memang kosong.

Setelah memeriksa tabung itu kemudian dokter Sony keluar dan tidak kembali sampai akhirnya ada suster yang datang dan mengatakan kalau Ibunya sudah meninggal dunia.

Sama halnya dengan dokter tersebut. Kedua perawat yang terekam dalam video itu sama sekali tidak kelihatan.

"Dia bilang mohon maaf pak ibu udah nggak ada pak sudah meninggal dunia dan kami pastikan."

"Itulah makanya aku emosi kali karena dokter Sony sudah tahu ibu kami sudah enggak ada,"

Rawi mengakui kalau yang berteriak dalam video itu merupakan dirinya. Hal itu spontan ia lakukan lantaran panik melihat ibunya seperti itu.

Bahkan soal suster yang tergeletak, ia mengatakan tidak ada melakukan kekerasan. Ia hanya menyuruh suster untuk membuka masker, namun ia terjatuh ke lantai.

Kejadian itu diperkirakan terjadi pada pukul 21:30 WIB.

Tak lama berselang, sekitar pukul 22:30 ibunya dinyatakan meninggal dunia.

Sempat Dirawat di Rumah Sakit Lain

Sebelum dibawa ke rumah sakit Pringadi, Komla sempat dirawat di Rumah sakit Swasta karena sakit diabetes. Kakinya mengalami luka dan sulit disembuhkan. Namun karena dirumah sakit itu kurang memadai fasilitanya keluarga Rawi memutuskan untuk membawa pulang dan merawat dirumah dengan pengobatan herbal.

"Sakit gula. Gula tinggi jadi kakinya luka. Lalu busuk. Sempat kami bawa juga ke rumah sakit. Katanya udah busuk lukanya. Kakinya luka, dikikis juga. Dokter bilang kita buang yang gak bisa lagi," jelasnya.

Karena alasan itulah mereka dirujuk ke RS Pringadi untuk agar bisa mendapatkan pelayanan lebih baik setelah berunding antar keluarga.

"Ngomong ngomong sama keluarga semua ngobrol semua sudah masuk pringadi saja.Begitu masuk di pringadi diperiksa UGD ini itu dan semua dan dibawa lah untuk dirawat inap."

Dari situ keluarga Rawi mulai gelisah karena ibunya yang sempat dipasang infus namun ketika tiba dirumah sakit Pringadi malah tak kembali diberikan cairan infus.

"Baru pindah ruangan infus enggak dipasang. Udah dipindah sudah masuk dalam ruangan semua saya datang bertanya proses ini kenapa enggak dipasang sementara dari uGD dipasang.
Sementara kondisi lemas."

Ketika Rawi bertanya kepada susteralah ia mendapat perlakuan tak mengenakan dari seorang suster.

Bahkan, kata Rawi, suster itu sempat membanting buku buang ada di mejanya dan mengucap kata yang kurang pantas.

"Saya tanya sama dia. Dia malah ngamuk sama saya. Dia bilang, pak kerjaan saya bukan itu saja. Sabar, karena ini yang harus saya selesaikan banyak," ucapnya menirukan.

Tak ingin memperkeruh suasana akhirnya ia mengalah dan meninggalkan ibunya sebentar lalu dijaga sang kakak.

Namun setelah kembali infus telah terpasang.

"Nggak ketemu, saya keluar agak lama baru dia datang. Dia pasang infus saat beli sesuatu. Saya naik sudah dipasang.

Namun, Rawi menjelaskan infus yang dipasang tidak dilakukan dengan benar. Cairan sama sekali tidak keluar dari botol. Kran terlihat mati sehingga ia memutuskan untuk melakukan sendiri sampai cairan keluar dengan normal.

"Dia bilang jangan setel setel ya dibiarkan sampai pagi. Dia pasang infus jangan di stel. Posisinya mati ataupun nggak turun untuk apa di pasang."

"Saya bilang jadi kalau nggak kalian buka kerannya ini gimana."

Keesokan harinya, cairan infus habis dan ketika meminta untuk diganti suster menolak permintaan keluarga dan mengatakan besok bai bisa diganti.

Karena sang kakak yang sedang menjaga, ia pun menuruti apa yang dikatakan suster itu.

"Besok pagi aja infus sudah habis. Sementara itu infus harus dikasih. Jadi tanpa ditagih karena kakak nggak berani ngomong ditunggu sampai pagi itulah pagi baru dipasangin baru lagi," ucapnya.

Terkait laporan yang dilakukan rumah sakit, Rawi mengaku tak ambil pusing. Menurutnya apa yang ia katakan benar adanya.

Ia menyebutkan kalau pelayanan yang diterima Ibunya pada saat itu sangat jauh dari kata baik.

Ibunya sendiri meninggal dunia pada umur 59 tahun.

(Cr25/Tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved