Akali Pembatasan Covid-19, Pengantin Carter Pesawat Boeing 737 Gelar Pernikahan di Udara
Pernikahan itu dilakukan ketika India menderita akibat tsunami virus corona, dengan angka kematian Covid-19 menyentuh sedikitnya 300.000 orang
TRIBUN-MEDAN.COM - Saat India menerapkan pembatasan ketat Covid-19 akibat tsunami Covid-19 yang sudah merenggut nyawa 300.000 di India saja, ada saja yang berupaya mengakali pembatasan ini.
Seperti yang dilakukan pengantin di Tamil Nadu India dilaporkan mengadakan pernikahan di udara dengan lebih dari 160 tamu di dalam pesawat untuk menghindari aturan pembatasan Covid-19.
Pasangan itu, yang diketahui sebagai Rakesh dan Dakshina, menikah di pesawat Boeing 737 SpiceJet dengan teman dan keluarga pada Minggu (23/5/2021).
Mereka memesan penerbangan sewaan dari kota Madurai, India.
Lebih dari 160 tamu naik Boeing 737 untuk menghadiri upacara tersebut.
Rekaman video menunjukkan mereka semua mengisi penuh jet sewaan tersebut, ketika jumlah kematian resmi India mencapai 300.000 hari itu.
Negara bagian Tamil Nadu, tempat asal penerbangan itu, baru-baru ini memberlakukan pembatasan yang lebih ketat.
Pesta pernikahan dibatasi hanya boleh dihadiri hingga 50 tamu.
Pejabat bandara mengaku tidak mengetahui ada prosesi pernikahan, yang terjadi tepat di atas Kuil Madurai Meenakshi Amman, tempat pasangan itu berniat untuk menikah.
“Pejabat otoritas bandara sama sekali tidak mengetahui tentang upacara pernikahan yang berlangsung di udara,” kata seorang pejabat bandara melansir Daily Mail pada Senin (24/5/2021).
Film dan foto-foto dari perayaan di udara itu diunggah ke media sosial.
Secara terang-terangan mereka menunjukkan kepada orang-orang tentang perayaan itu, melalui foto selfie dengan bunga di leher.
Sementara terkait pelanggaran aturan penerbangan sipil, kedua pasangan itu terlihat sama sekali tidak menggunakan masker.
Sementara tamu duduk berdempet tanpa aturan jarak sosial
Seorang pejabat dari Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil (DGCA) mengatakan kepada Times of India bahwa staf SpiceJet di dalam penerbangan tersebut telah diberhentikan dari tugas.
Badan pengawas juga menyarankan agar maskapai tersebut mengajukan keluhan terhadap pengantin baru dan tamu mereka, kata laporan.
Semua bisa dilarang menggunakan penerbangan penumpang kedepannya.
“Agen dan penumpang tamu diberi pengarahan secara rinci, baik secara tertulis maupun lisan, tentang jarak sosial dan norma keselamatan yang harus diikuti sesuai pedoman Covid-19, baik di bandara maupun di dalam pesawat selama perjalanan,'' kata juru bicara Spicejet.
Pihak Spicejet mengaku sudah ada permintaan dan pengingat berulang kali, kepada para penumpang yang tidak mengikuti pedoman Covid-19.
Maskapai mengeklaim telah mengambil tindakan yang sesuai sesuai aturan.
Juru bicara SpiceJet mengatakan kepada Indian Express bahwa Boeing 737 dipesan dari Madurai ke Bangalore oleh agen perjalanan.
Izinnya dibuat untuk perjalanan setelah pernikahan.
Pernikahan itu dilakukan ketika India menderita akibat tsunami virus corona, dengan angka kematian Covid-19 menyentuh sedikitnya 300.000 orang, menurut angka resmi.
Para ahli memperkirakan bahwa jumlah kematian sebenarnya jauh lebih tinggi.
Rumah sakit dan krematorium di negara itu telah kewalahan dalam beberapa minggu terakhir, menyebabkan kekurangan oksigen yang parah dan tubuh dibakar sepanjang waktu.
Banyak keluarga yang tidak mampu membayar biaya kremasi telah secara ilegal menguburkan orang yang mereka cintai di tepi sungai Gangga.
Bahkan ada yang memasukkan jasad korban ke dalam air sungai. Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran bahwa jumlah korban tewas yang dihitung secara signifikan kurang dari jumlah nyata di lapangan.
Sementara program vaksin negara itu juga tertinggal dari negara-negara yang secara ekonomi maju. Hanya sekitar 10 persen orang yang dilindungi oleh setidaknya satu dosis.
Angka kasus harian di negara Asia - yang untuk sementara waktu mencapai sekitar 40 persen dari total global - sekarang turun. Tetapi jumlahnya terbilang tetap sangat tinggi.
India saat ini melaporkan sekitar 250.000 kasus per hari menurut data rata-rata tujuh hari, dengan puncak kasus mendapati infeksi harian hingga 400.000 jiwa pada awal bulan ini.
Itu jauh di atas posisi kedua Brasil, yang melaporkan sekitar 35.000 kasus baru harian.
Laporan resmi kedua negara dianggap beberapa kali lipat kurang dari jumlah sebenarnya.
Rumah sakit dan krematorium di negara itu telah kewalahan dalam beberapa minggu terakhir, menyebabkan kekurangan oksigen yang parah dan tubuh dibakar sepanjang waktu.
Banyak keluarga yang tidak mampu membayar biaya kremasi telah secara ilegal menguburkan orang yang mereka cintai di tepi sungai Gangga.
Bahkan ada yang memasukkan jasad korban ke dalam air sungai. Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran bahwa jumlah korban tewas Covid-19 India yang dihitung secara signifikan kurang dari jumlah nyata di lapangan.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pasangan India Gelar “Pernikahan di Udara” untuk Hindari Pembatasan Covid-19"
Penulis : Bernadette Aderi Puspaningrum
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pengantin-charter-pesawat-boeing-737oke.jpg)