News Video
Dampak Pandemi Covid-19, Pedagang Buku Bekas Keluhkan Penurunan Omset
Dikarenakan buku termasuk musiman, para pedagang khawatir apabila di masa ajaran baru buku yang mereka jual belum banyak yang laku.
Penulis: Angel aginta sembiring |
Dampak Pandemi Covid-19, Pedagang Buku Bekas Keluhkan Penurunan Omset
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pedagang buku bekas di Titi Gantung keluhkan hancurnya omset di masa Pandemi Covid-19.
Taufik seorang pedagang buku bekas yang telah puluhan tahun berjualan di Titi Gantung Kota Medan di Jalan Kereta Api No.2 B, Kesawan, Kota Medan. Ia mengatakan bahwa omzet penjualan mengalami penurunan hingga 60 persen.
"Saat ini kebanyakan dari anak sekolah dan mahasiswa yang mencari buku pelajaran sehingga tujuan membeli buku bukan untuk bahan bacaan," katanya kepada Tribun Medan, Selasa (18/5/2021).
Lanjutnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa literasi masyarakat Kota Medan saat ini sangat rendah dibandingkan beberapa tahun silam.
Taufik juga mengatakan beberapa keluhan yang dialaminya dalam berjualan buku bekas ini diantaranya kepada para dosen di Sumatra Utara yang tidak menyarankan izin pustaka kepada mahasiswa yang menggunakan tahun buku kurang dari lima tahun.
Hal itu sering Ia temui dari mahasiswa yang kesulitan mencari referensi buku dalam penyelesaian tugas akhir ataupun skripsi.
"Anehnya para dosen di Kota Medan ini kok dosennya selalu menyarankan mahasiswa untuk menggunakan buku tahun tinggi minimal lima tahun dan hal ini berbeda dari kota lain," ujarnya.
Karena selain berjualan secara langsung di Titi Gantung, para pedagang ini juga berjualan melalui beberapa market place.
"Para pembeli buku di online shop bukan hanya di Kota Medan saja tapi dari luar kota juga. Kalau Kota lain itu tidak menerapkan itu, yang ingin ku pertanyakan apa hanya kota Medan yang menerapkan itu," tuturnya.
Sambungnya, buku untuk tahun terbaru yang diterbitkan tersebut justri kebanyakan belum diterbitkan.
"Padahal buku lama itu referensinya bagus sekali dan buku baru itu referensinya kebanyakan malah buku lama jadi kenapa tidak bisa dipergunakan," lanjutnya.
Selang setahun para pedagang menggantungkan mata pencahariannya di buku bekas tersebut, Taufik mengungkapkan penurunan omset yang dialami tersebut sangat drastis dibanding kan masa sebelum adanya pandemi.
Dikarenakan buku termasuk musiman, para pedagang khawatir apabila di masa ajaran baru buku yang mereka jual belum banyak yang laku.
"Buku ini musiman, kalau penjualan sebelum adanya pandemi bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Tapi selama Covid untuk mencari Rp 300 ribu saja susah sekali," tutupnya.
(Cr9/Tribun-Medan.com)