SERANGAN Paling Mematikan di Gaza, 33 Orang Tewas, Puluhan Korban Terkurung Reruntuhan
Shaima Ahmed Qwaider, 23, perawat di Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza, menggambarkan kengerian korban terluka parah tanpa anggota tubuh lengkap.
TRIBUN-MEDAN.COM - Perang Israel Hamas yang memasuki hari ketujuh Minggu 16 Mei 2021 menjadi hari yang paling mematikan bagi warga Palestina di Jalur Gaza.
Otoritas Kesehatan Hamas di Gaza jumlah korban menjadi 181, 52 orang anak-anak dan wanita 31 tahun.
Sedangkan jumlah korban luka-luka mencapai 1.225 orang.
Serangkan Hamas melalui sayap militernya Brigade Al Qassam dan Palestine Islamic Jihad (PIJ) menembakkan lebih dari 3.000 roket ke Israel menewaskan 10 warga Israel, termasuk bocah laki-laki 5 tahun dan seorang gadis berusia 16 tahun.
Setidaknya 33 warga Palestina, termasuk bayi berusia 1 tahun dan 3 tahun, tewas dalam serangan udara Israel di Kota Gaza pada Minggu pagi.
Lusinan korban terperangkap di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di lingkungan elit al-Rimal Kota Gaza, menurut organisasi Pertahanan Sipil Gaza.
Paramedis dan kru penyelamat terus mencari korban tewas dan yang selamat.
"Kami mendengar teriakan di bawah reruntuhan," kata seorang anggota Pertahanan Sipil kepada jaringan Al-Jazeera saat operasi pencarian dan penyelamatan berlanjut di belakangnya.
Dokter Palestina Ahmad Abu al-Aouf, direktur penyakit dalam di Rumah Sakit Al-Shifa Gaza, dilaporkan tewas dalam pemboman itu.
Sejumlah koleganya menggelar pemakaman dadakan di dekat rumah sakit pada Minggu pagi.
Koleganya dokter Moueen al-Aloul, satu dari sedikit ahli saraf di Gaza, juga dilaporkan tewas juga.
Kebanyakan dari mereka yang tewas berasal dari keluarga besar al-Kolak.
Shaima Ahmed Qwaider, 23, perawat di Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza, menggambarkan kengerian korban serangan Minggu, beberapa korban terluka parah tanpa anggota tubuh.
"Saya belum pernah melihat yang seperti ini dalam hidup saya," katanya kepada Al Jazeera.
Saat tim penyelamat berjuang untuk menarik korban dari puing-puing bangunan yang hancur, banyak dari mereka yang diselamatkan tidak dapat mencapai rumah sakit karena jalan utama menuju al-Shifa - pusat medis terbesar di Jalur Gaza - juga terkena.
Dr Midhat Abbas dari Kementerian kesehatan Gaza mengatakan 1.200 warga Palestina telah terluka selama tujuh hari serangan, sekitar setengahnya adalah wanita dan anak-anak.
Dia menuduh militer Israel sengaja menargetkan fasilitas kesehatan dengan serangan udara dan membom jalan-jalan di sekitar al-Shifa.
“Mereka menargetkan sebagian besar warga sipil, ini adalah korban dari agresi ini,” kata Dr Abbas.
“[Perdana Menteri Israel] Benjamin Netanyahu ingin menyelamatkan dirinya sendiri dari penjara sehingga dia memutuskan untuk membunuh anak-anak Palestina.”
Menurut Kementerian Kesehatan Hamas, seorang balita berusia 3 tahun, Adam Izzat al-Kolak dan seorang bayi berusia 1 tahun, Qusai Samih al-Kolak, termasuk di antara korban.
Serangan udara Israel hari Minggu merupakan serangan yang paling mematikan.
Serangan Israel pada Minggu pagi, menghancurkan jalan-jalan di seluruh Kota Gaza.
Pasukan Pertahanan Israel tidak menanggapi permintaan komentar mengenai tujuan operasional serangan udara tersebut.
Israel mengatakan tidak menargetkan warga sipil.
Menurut militer Israel, kebanyakan dari mereka yang tewas di Gaza sejak awal putaran kekerasan saat ini adalah anggota kelompok teror atau terbunuh oleh roket Palestina yang salah.
Dalam pemboman Minggu, rumah pemimpin Hamas di Jalur Gaza, Yahya Sinwar, menjadi target.
Militer Israel (Israel Defence Forces/IDF) mengatakan rumah saudara Yahya Sinwar, Muhammad, yang bertanggung jawab atas sumber daya manusia Hamas, juga menjadi target serangan di kota Gaza selatan Khan Younis.
Menurut militer, rumah-rumah itu juga digunakan saudara-saudara untuk melakukan serangan roket ke Israel. Namun saat dibom Israel rumah Yahya Sinwar dan saudaranya tidak ditempati.
IDF mengatakan pihaknya juga melakukan serangan besar-besaran pada jaringan terowongan bawah tanah Hamas yang luas di daerah kantong Palestina, yang oleh militer disebut sebagai "metro," melanjutkan kampanye yang dimulai pada Kamis malam dengan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur bawah tanah tersebut. di Gaza utara.
"Sebagai bagian dari Tahap 2 serangan tambahan di 'metro' Hamas, sekitar 30 target diserang oleh jet tempur yang menggunakan sekitar 100 bom berpemandu presisi," kata Juru Bicara IDF Zilberman.
Zilberman mengatakan serangan itu tampaknya meningkatkan kekhawatiran di antara anggota Hamas bahwa jaringan terowongan tidak aman lagi karena menjadi incaran Israel.
“Tidak ada yang mau naik 'metro',” kata Zilberman. (timesofisrael/aljazeera)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/serangan-paling-mematikan-di-gaza.jpg)