Cerita Riva Amelia Lebaran di Irlandia, Masak Banyak dan Ajak Teman Serumah Makan Bareng
Tahun ini menjadi tahun kedua bagi Riva Amelia dalam menjalani momen lebaran jauh dari kampung halaman.
TRIBUN-MEDAN.com - Tahun ini menjadi tahun kedua bagi Riva Amelia dalam menjalani momen lebaran jauh dari kampung halaman.
Ramadhan kedua di masa pandemi Covid-19 di Dublin, Irlandia, Riva Amelia mengatakan masih tidak ada perayaan lebaran.
"Tahun ini tidak ada perayaan lebaran apapun di Irlandia. Saya merayakan lebaran dengan housemates saya, mereka berasal dari Lithuania dan Irish. Mereka sudah seperti keluarga dan saling mendukung," ujar Riva kepada tribun-medan.com, Jumat (14/5/2021).
Sebagai satu-satunya muslim di housemate yang ia tinggali, alumni jurusan Ethnochoreology di University of Limerick ini juga ingin memperkenalkan budaya lebaran di kampung halaman kepada teman satu rumahnya.
"Saya memasak banyak makanan dan kue untuk dinikmati bersama. Selain itu saya juga ingin memberikan gambaran kepada mereka seperti apa lebaran itu," tambahnya.
Meski bukan merupakan pengalaman merantau pertamanya, berada di Irlandia selama kurang lebih sembilan bulan menjadi pengalaman merantau paling lama dan dengan jarak yang paling jauh yang pernah dijalani Riva.
Perempuan yang memiliki ketertarikan terhadap bidang seni tari ini mengatakan tahun ini juga sekaligus menjadi Ramadan pertama yang dilaluinya di negara empat musim itu.
Riva mengatakan bahwa sebelum adanya wabah pandemi global ini ia berencana untuk melaksanakan Salat Ied di masjid terdekat dari tempat tinggalnya di Limerick, Irlandia. Namun karena wabah pandemi ini Riva mengurungkan niatnya dan menggantinya dengan memasak makanan khas Indonesia untuk para tetangganya di housing.
Untuk mengobati rasa rindu kampung halaman Riva mengatakan dirinya melakukan virtual celebration dengan keluarganya di kampung halaman.
"Dan untuk mengobati rindu dengan keluarga, saya melakukan virtual celebration dengan keluarga," katanya.
Ada hal yang paling dirindukan Riva saat momen lebaran, yakni kampung halaman. Riva sangat merindukan kampung ibunya di Magelang. Di sana, terang Riva suasana lebaran sangat meriah.
"Terutama saya sejujurnya merindukan kampung ibu saya yang berada di Magelang, disitu keluarga besar saya tinggal. Di sini saya dan keluarga merayakan Idul Fitri yang sangat meriah karena banyak petasan sehingga lebaran sangat terasa kemeriahannya," katanya.
Hal yang dilakukan Riva untuk mengobati rasa rindu yang kerap menghampiri nya ini adalah dengan memakan makanan khas Ramadan seperti kolak dan kue-kue lebaran dengan resep yang diberikan ibunya.
Diterangkan Riva, ia mencoba menghabiskan waktu ramadan dan lebaran dengan hal-hal yang produktif terutama mengerjakan thesis dan memasak seperti empek-empek, cireng, putri salju, kastengel dan masih banyak lagi.
"Saya masak dengan resep dari ibu pastinya agar rasa tidak beda jauh. Di sini saya sering memasak terutama saat mulai lelah mengerjakan thesis dan hal ini bisa membantu saya mengobati rasa kangen saya dan terutama sering berkomunikasi dengan keluarga melalui video call," ungkapnya.
Sebelum pandemi ini datang, Riva mengaku sangat khawatir bagaimana dirinya bisa merayakan Idul Fitri jauh dari keluarga.
"Saya akan kehilangan momen kemeriahan yang biasanya kami rayakan bersama. Namun karena datangnya pandemi ini, semua orang di seluruh dunia tidak bisa merayakan seperti biasanya. Jadi saya tidak sendirian, semua orang juga tidak bisa merayakan dengan keluarga mereka," katanya.
Bagi perempuan kelahiran 22 Juli 1995 ini, Ramadan tahun ini adalah ramadan yang sangat berbeda dan bermakna. Merupakan Ramadan dan Idul fitri pertamanya yang dihabiskan dengan jauh dari keluarga.
"Ramadan di negara empat musim yang jauh lebih lama dan juga dingin, Ramadan yang mengajarkanku untuk menjadi lebih mandiri," tuturnya.
Ia juga tak bisa memungkiri kekhawatiran nya kepada keluarga nya di kampung halaman. Riva takut jikalau keluarga yang sangat disayanginya terkena wabah pandemi yang sedang melanda seluruh dunia itu. Ia pun mengaku berpasrah dan selalu berdoa kepada Sang Khalik.
"Pandemi ini memang membawa kesedihan bagi semua orang, terutama saya khawatir dengan keluarga yang ada di Indonesia. Saya sangat menyayangi mereka dan keadaan yang jauh seperti ini membawa perasaan was was tentang kesehatan mereka, namun saya percaya Allah pasti melindungi mereka," ungkapnya.
Bagi Riva, meskipun pandemi ini membawa kesedihan, tapi di sisi lain ia tidak ingin menekankan kesedihan, melainkan mencari sisi positif dari pandemi ini.
Namun, kata Riva, karena datangnya pandemi ini semua orang di seluruh dunia tidak bisa merayakan seperti biasanya. Ia mencoba untuk menerima keadaan dan menyadari bahwa dirinya tidak sedang sendirian.
"Jadi saya tidak sendirian, semua orang juga tidak bisa merayakan dengan keluarga mereka. Pada intinya, saya selalu berusaha mengambil sisi positif dari suatu hal yang terjadi. Sedih boleh, namun jangan terlarut di kesedihan terlalu lama agar pikiran dan kesehatan tidak terganggu," pungkasnya.
(cr14/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/riva-amelia-puasa-di-irlandia.jpg)