TRIBUNWIKI

Cerita Pohon Teduh Hariara Toguan Simanindo Di Samosir, Suara Tangisan Pertanda Kematian

Sistem ini dinamai Horja Bius yang masing-masing wilayah memiliki otoritas menjalankan roda pemerintahannya.

Penulis: Arjuna Bakkara | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Makam tua dibentuk dari batu di bawah pohon hariara milik salah satu marga keturunan Bius Sitolu Tali di Simanindo, Samosir 

Jadi, di sini dimusyawarahkan segala sesuatu perkara, peraturan atau apa pun sesuatu yang direncanakan oleh masyarakat di dalam lingkup masyarakat Bius Sitolu Tali ini. Seperti itu,"ujar Junyandy Sinaga.

Baca juga: Mendagri Minta Daerah Serius Tangani Covid-19, Wabup Langkat: Kami Akan Libatkan Semua Pihak

Hariara Toguan ini, merupakan pusat musyawarah warga Bius.

Sedangkan hasil musyawarah, tempatnya akan dilakukan di berbeda-beda tempat.

Semisal, acara ritual "mangalahat horbo bius", dilakukan di arah Selatan Desa tersebut.

Mangalahat horbo merupakan pesta syukuran dengan mempersembahkan seekor kerbau ke Maha Pencipta, lalu disantap bersama untuk kemakmuran.

"Kalau kegiatan mangalahat horbo bius itu, artinya mengucap syukur kepada Maha Pencipta, Mulajadi Nabolon," ujar Junyandy.

Dalam konteks kekinian, menurut Juniandy, praktik horja bius sudah sangat jarang ditemukan.

Tergerusnya sistem pemerintahan bius kala itu, telah diganti Belanda secara paksa menjadi Nagari dibawah pemerintaham kolonial Belanda.

Penggantian tersebut merupakan faktor utama yang mengakibatkan sistem pemerintahan bius hancur.

Apalagi memang, penggantuan struktur sekaligus untuk melemahkan perjuangan warga lokal yang melawan pemerintahan Kolonial Belanda.

Baca juga: LIVE Streaming Man City Vs PSG Di SCTV, Kesempatan Pep Guardiola Bawa The Citizens Final Perdana

Menurut Juniandy, sistem pemerintahan bius bukannlah seperti yang dbayangkan, dipimpin raja yang absolut.

Melainkan, dengan konsep demokrasi yang tinggi raja yang berdemokrasi dari ketiga marga tadi (Turnip, Sidauruk, dan Sitio).

Praktik yang berjalan saat ini, terbilang tidak ada. Paling, kata Juniandy, kearifan lokal terlihatnya kesatuan tiga marga (Turnip, Sidauruk dan Sitio).

"Kalau untuk kegiatan sudah jarang, bahkan tempat ini pun kita lihat sudah mengalami degradasi yang memprihatinkan,"tutur Juniandy.

Pemahaman masyarakat yang kurang terhadap historis nenek moyang juga, kata Juniandy menjadi penyebab terkikisnya nilai-nilai yang pernah diwarisi.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved