Amerika Kirim Bantuan ke India Senilai Rp1,4 Triliun dan Tambahan Dana Rp 50,75 Miliar ke Indonesia
Amerika juga memberikan bantuan tambahan dana sebesar USD 3,5 juta (Rp 50,75 miliar) kepada Indonesia untuk meningkatkan upaya vaksinasi COVID-19.
"Terkait situasi di India saat ini yang begitu mengkhawatirkan, selain Inggris, AS juga mulai mengirim bantuan yang dibutuhkan India untuk bertahan dari gelombang kedua pandemi COVID-19. Administrasi Presiden Joe Biden mengirimkan bantuan senilai US$ 100 juta (Rp1,4 triliun)."
"Amerika juga memberikan bantuan tambahan dana sebesar USD 3,5 juta (Rp 50,75 miliar) kepada Indonesia untuk meningkatkan upaya vaksinasi COVID-19 di Indonesia. Total dukungan Amerika Serikat untuk respons COVID-19 di Indonesia menjadi USD 14,5 juta (Rp 210,25 miliar)."
Presiden AS Joe Biden dan Wapres Kamala Harris yang berdarah India. (Instragram/Kamalaharris)
TRIBUN-MEDAN.COM - Presiden AS Joe Biden mengusulkan anggaran baru ke Kongres senilai US$ 1,8 triliun atau sekitar Rp 25.920,0 triliun untuk program yang dinamakan Rencana Keluarga Amerika.
Usulan tersebut disampaikan dalam dalam sebuah acara yang dihadiri 200 anggota parlemen pada Rabu (28/4/2021).
Program tersebut akan mencakup US$ 1 triliun untuk pendidikan dan perawatan anak selama 10 tahun dan US$ 800 miliar kredit pajak yang ditujukan untuk keluarga berpenghasilan menengah.
Anggaran untuk pendidikan anak tersebut di antaranya US$ 200 miliar untuk menggratiskan prasekolah universal dan US$ 109 miliar untuk mengratiskan community college selama dua tahun.
Dengan usulan baru tersebut maka total anggaran yang diajukan Biden mencapai sekitar US$ 4 triliun karena sebelumnya telah diajukan anggaran untuk program Infrastruktur sekitar US$ 2 triliunan.
Biden mengatakan usulan anggaran tersebut merupakan investasi sekali dalam satu generasi yang penting bagi masa depan Amerika.
Program Rencana Keluarga Amerika menurutnya diperlukan untuk mengimbangi China yang dinilai sudah semakin bergerak cepat.
"China dan negara-negara lain mendekat dengan cepat. Presiden China Xi Jinping sangat serius menjadikan negaranya menjadi bangsa yang paling signifikan dan berpengaruh di dunia. Dia dan yang lainnya, para otokrat, berpikir bahwa demokrasi tidak dapat bersaing di abad ke-21 dengan otokrasi. Butuh waktu terlalu lama untuk mendapatkan konsensus," kata Biden dalam pidatonya dikutip Reuters, Kamis (29/4/2021).
Pemerintahan Biden ingin mendorong pendanaan anggaran untuk program Rencana Keluarga itu dari pajak orang-orang kaya di AS.
Sebelumnya, Presiden dari Partai Demokrat ini juga getol mendorong kenaikan pajak korporasi untuk mendanai anggaran infrastruktul yang diusulkan.
Biden meminta Partai Republik untuk bekerjasama mendukung program tersebut.
Partai oposisi tersebut sejauh ini dengan tegas menentang pengesahan beragam undang-undang kontroversial yang diajukan Gedung Putih mulai dari pajak, reformasi polisi hingga pengendalian senjata dan imigrasi.
Dalam kampanye presiden tahun 2020 lalu, Biden telah berjanji untuk bekerhasam dengan Partai Republik.
Namun, hubungan dengan partai oposisi tersebut tampaknya suram. Pasalnya, stimulus Pandemi US$ 1,9 triliun yang diajukan Biden disahkan tanpa suara dari Partai Republik beberapa waktu lalu.
Gedung Putih berharap bahwa setidaknya beberapa Republikan akan tunduk pada keinginan rakyat.
Jajak pendapat menunjukkan sebagian besar orang Amerika mendukung peningkatan investasi di sekolah, pendidikan, dan infrastruktur, dan mengenakan pajak lebih banyak kepada orang kaya.
"Malam ini, saya datang untuk berbicara tentang krisis dan peluang. Tentang membangun kembali bangsa kita - dan merevitalisasi demokrasi kita. Dan memenangkan masa depan Amerika," tambah Biden dalam Pidatonya.
Namun, Partai Republik mengatakan sebagian besar pengeluaran hanya untuk memuaskan basis liberal Biden dan bahwa rencana presiden mengarah pada sosialisme.
Rencana Keluarga Amerika dan infrastruktur serta rencana pekerjaan yang diperkenalkan Gedung Putih awal bulan ini dapat mewakili transformasi ekonomi pemerintah yang paling signifikan dalam beberapa dekade.
Untuk membayar rencananya, Biden telah mengusulkan perombakan sistem pajak AS, termasuk menaikkan tarif pajak marjinal teratas untuk orang Amerika terkaya menjadi 39,6% dari 37% saat ini.
Biden telah mengusulkan hampir dua kali lipat pajak atas pendapatan investasi - yang dikenal sebagai capital gain - bagi orang Amerika yang berpenghasilan lebih dari US$ 1 juta.
Rencana infrastruktur senilai US$ 2 triliun lebih ini didanai oleh kenaikan pajak perusahaan. Berita proposal pajak capital gain menyebabkan pasar saham turun sebentar pekan lalu.
Senator dari Partai Republik, Tim Scott, dalam bantahannya atas pidato Biden mengatakan bahwa proposal tersebut akan merugikan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
"Masa depan terbaik kami tidak akan datang dari skema Washington atau impian sosialis," kata Scott, satu-satunya Senat Hitam dari Partai Republik. "Itu akan datang dari Anda - rakyat Amerika," kata Scott.
Kremasi massal jenazah penderita Covid-19 di India (Ap)
Kirim bantuan USD 100 juta ke India
Terkait situasi di India saat ini yang begitu mengkhawatirkan, selain Inggris, AS juga mulai mengirim bantuan yang dibutuhkan India untuk bertahan dari gelombang kedua pandemi COVID-19.
Dikutip dari Reuters, administrasi Presiden Joe Biden mengirimkan bantuan senilai US$ 100 juta (Rp1,4 triliun).
Pemerintah Amerika mengirimkan 1000 tabung oksigen, 15 juta masker N95, 1 juta alat rapid test, serta bahan baku produksi vaksin COVID-19.
"Seperti bagaimana India dulu membantu kami saat kelimpungan menghadapi pandemi COVID-19, kami sungguh-sungguh ingin menolong India di momen-momen seperti sekarang," ujar pernyataan pers Gedung Putih, dikutip dari Reuters, Kamis, 29 April 2021.
Bahan baku yang dikirim oleh Amerika ditaksir akan membantu India untuk memproduksi kurang lebih 20 juta dosis vaksin COVID-19.
Adapun dalam pernyataan pers Gedung Putih tersebut, bantuan itu diperkirakan tiba ke negeri Bollywood pada Kamis waktu setempat.
Amerika juga berniat mengirimkan surplus vaksin COVID-19 AstraZeneca mereka yang jumlahnya 60 juta dosis.
Surplus itu akan disumbangkan ke berbagai negara, India salah satunya.
Sebagaimana dalam catatan dinas Kesehatan India dalam pekan terakhir, angka kasus Covid-19 di India bertambah 360.960 orang. Selain itu, angka kematian juga sudah melewati angka 200 ribu orang.
Total, India mencatatkan 18,3 juta kasus dan 204 ribu kematian akibat COVID-19.
Bantuan Tambahan USD 3,5 juta ke Indonesia
Presiden RI Joko Widodo beri ucapan selamat untuk Joe Biden. (Instagram @jokowi)
Amerika juga memberikan bantuan tambahan dana sebesar USD 3,5 juta (Rp 50,75 miliar) kepada Indonesia untuk meningkatkan upaya vaksinasi COVID-19 di Indonesia.
Dana bantuan ini disalurkan melalui Badan Pembangunan Internasional AS (USAID).
Total dukungan Amerika Serikat untuk respons COVID-19 di Indonesia menjadi USD 14,5 juta (Rp 210,25 miliar).
Amerika Serikat, melalui USAID, telah menyiapkan dana USD 4 miliar (Rp 56 triliun) untuk program vaksin COVID-19 ke berbagai negara.
Kontribusi ini mendukung pembelian dan pengiriman vaksin COVID-19 untuk 92 negara termasuk Indonesia, melalui Gavi COVAX Advance Market Commitment.
Vaksin-vaksin ini diharapkan bisa membantu melindungi kelompok masyarakat yang paling rentan dan berisiko di dunia dan menurunkan penyebaran varian COVID-19.
“Penyebaran COVID-19 yang cepat telah menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada negara yang bisa berjuang sendiri melawan pandemi global,” demikian siaran pers Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia.
(*)
Artikel telah tayang sebelumnya di Kontan.co.id :AS akan membagikan hingga 60 juta dosis vaksin AstraZeneca secara global Dan India alami tsunami Covid-19, AS akan kirim bantuan ini Dan Indonesia kedatangan vaksin Covid-19 AstraZeneca sebesar 3,85 juta dosis
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/india-dihantam-mutasi-virus-corona.jpg)