Terkini KRI Nanggala-402: Amerika Serikat Tawarkan Bantuan Mengangkat Kapal Selam dari Dasar Laut

Angkatan Laut Indonesia telah menyatakan pada Sabtu (24/4/2021) bahwa kapal selam KRI Nanggala-402 tenggelam.

Editor: AbdiTumanggor
Tangkapan layar video
Tampilan Video Animasi 3D Tenggelamnya Kapal Selam ARA San Juan tahun 2017 di Laut Atlantik di Kedalaman 907 meter. Bandingkan dengan KRI Nanggala-402 yang diperkirakan tenggelam di kedalaman 700 hingga 850 meter di dasar laut. 

* Kabar Terkini KRI Nanggala-402 Ikut Pantauan Media Internasional

* Penjelasan Ahli dari Korea Selatan soal Kapal Selam KRI Nanggala-402

* KRI Nanggala-402 Tenggelam Terlalu Dalam ke Dasar Laut

* Amerika Serikat Tawarkan Bantuan Lanjutan

****

TRIBUN-MEDAN.COM - Angkatan Laut Indonesia telah menyatakan pada Sabtu (24/4/2021) bahwa kapal selam KRI Nanggala-402 tenggelam, setelah hilang kontak pada Rabu (21/4/2021) pagi lalu.

Hilangnya kapal selam Angkatan Laut Indonesia ini mendapatkan perhatian dari sejumlah negara, seperti Amerika Serikat (AS). Sebelumnya Malaysia, Singapura, dan Australia telah ikut membantu pencarian.

Pada Jumat malam waktu setempat (23/4/2021) atau Sabtu WIB, Pentagon mengatakan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin telah berbicara dengan mitranya dari Indonesia, Menhan RI Prabowo Subianto dan menawarkan dukungan tambahan, yang dapat mencakup aset pencarian bawah laut.

Amerika Serikat mengerahkan pesawat pemburu kapal selam Navy P-8 Poseidon untuk membantu mencari dan menyelamatkan kapal selama Angkatan Laut Indonesia yang hilang di Laut Pulau Bali.

"Atas permintaan pemerintah Indonesia, kami mengirimkan aset-aset airborne, termasuk pesawat patroli maritim Navy P-8 Poseidon, untuk membantu pencarian kapal selam hilang," kata Sekretaris Pers Pentagon John F Kirby dalam konferensi pers pada Jumat (23/4/2021) di Pentagon.

“Indonesia adalah teman baik dan mitra strategis. Kami semua sangat sedih melihat laporan tentang kapal selam mereka dan pikiran kami serta doa kami bersama para pelaut Indonesia, TNI AL, dan tentu saja semua keluarga mereka,” kata Kirby.

Melansir situs Departemen Pertahanan AS (DOD), Kirby mengatakan kepada wartawan bahwa Navy P-8 Poseidon adalah pesawat patroli maritim yang dirancang khusus untuk mencari sesuatu, khususnya kapal selam.

"Ini adalah platform canggih yang dapat membantu pemerintah Indonesia untuk mengetahui lokasi yang lebih baik," ucapnya.

Namun sejauh ini, belum ada permintaan bantuan lebih lanjut dari Indonesia kepada AS.

"Saya tahu tidak ada permintaan lain saat ini dari pemerintah Indonesia untuk bantuan lain, yang bisa diberikan soal bawah permukaan (laut)," ungkap Kirby.

"Tentu saja, kami memiliki banyak kemampuan, tapi saya tidak akan menjelaskan jenis misi apa ini," imbuhnya.

"Jika kapal selam KRI Nanggala-402 ditemukan, terserah kepada Indonesia tentang bagaimana melanjutkannya," kata Kirby.

Ia lalu, menambahkan bahwa tugas seperti mengangkat kapal selam yang tenggelam di bawah permukaan laut dalam adalah pekerjaan yang menantang.

"Sangat tergantung pada apakah Anda mengejar sebuah objek di bawah air, apa pun itu kondisinya dan seberapa dalam itu, dan juga seperti apa... dasarnya dan seperti apa arusnya," terangnya, Kompas.com:KRI Nanggala-402 Hilang, Militer AS Akan Kirim Armada untuk Bantu Pencarian

Ia menjelaskan kemudian bahwa ada banyak hal yang harus diperhatikan untuk mengangkat kapal selam yang tenggelam ke dasar laut.

"Mengangkat sesuatu dari dasar laut adalah pekerjaan yang berbahaya dan melelahkan.

Tapi kami memiliki beberapa kemampuan untuk membantu dalam hal itu," jelasnya.

Saat ini, katanya, di luar pesawat P-8 yang disediakan, aspek tambahan tentang bagaimana DOD dapat membantu, AS belum mendapatkan permintaan lebih jauh dari Indonesia.

"Kami ingin membantu mereka menemukan kapal selam dan kami ingin melakukan apa pun yang kami bisa, apa pun yang mereka ingin kami lakukan, untuk membantu mereka menemukannya," pungkasnya.

Baca juga: INILAH Video 3D Hancurnya Kapal Selam ARA San Juan saat Tenggelam, Bayangkan dengan KRI Nanggala-402

TENGGELAM Terlalu Dalam

Sebelumnya, TNI Angkatan Laut meyakini bahwa kapal selam itu tenggelam di kedalaman 700 hingga 850 meter.

Sejumlah ahli dari luar negeri menyebutkan, KRI Nanggala-402 berada pada kedalaman yang sulit dijangkau.

Sekretaris Submarine Institute of Australia Frank Owen mengatakan, kapal selam tersebut tenggelam sangat dalam.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat tim penyelamat sangat sulit untuk menjangkaunya sebagaimana dilansir Associated Press.

"Sebagian besar sistem penyelamatan kapal selam mampu mencapai kedalaman sekitar 600 meter," kata Owen, mantan kru kapal selam yang kini ikut mengembangkan sistem penyelamatan kapal selam di Australia, dikutip dari Kompas.com: 

Dia menambahkan, kapal selam bisa menyelam lebih dari itu. Namun, sistem lain seperti pompa dan sistem lain kurang bisa mendukung.

"Jadi kapal itu bisa bertahan di kedalaman itu, tapi belum tentu bisa beroperasi," sambung Owen.

Owen menambahkan, KRI Nanggala-402 juga tidak dilengkapi dengan kursi penyelamat di sekitar pintu keluar yang dirancang untuk penyelamatan bawah air.

Dia menuturkan, kapal selam penyelamat akan membuat sambungan tahan air ke kapal selam sehingga palka dapat dibuka tanpa menimbulkan kebocoran.

Owen juga mengatakan, kapal selam itu bisa diselamatkan dari kedalaman 500 meter tanpa kerusakan apa pun.

Namun, jika berada pada kedalaman 700 meter, dia tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi.

Seorang pejabat dari Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DMSE) Korea Selatan, Ahn Guk-hyeon, mengatakan, kapal selam tersebut akan rusak jika melampaui kedalaman 200 meter.

Dia menambahkan, perusahaannya memperbarui banyak struktur dan sistem internal kapal selam itu ketika menjalani modernisasi pada 2009-2012 lalu.

Namun, kini Ahn mengaku tidak memiliki informasi terbaru tentang kapal tersebut.

Diberitakan Kompas.com sebelumnya, Kapuspen TNI Mayjen Achmad Riad menyebutkan, pencarian dikonsentrasikan di sembilan titik perairan utara Celukan Bawang, Bali.

"Sesuai dengan data yang kami terima sampai sore hari ini, ada sembilan titik, termasuk ada yang tumpahan maupun ada yang daya magnetnya sangat kuat," ujar Riad yang dikutip dari Kompas.com:Ahli Asing Sebut KRI Nanggala-402 Tenggelam Terlalu Dalam

Baca juga: SEBAGAI Istri Dansatsel Koarmada II, Widayanti Kunjungi Satu Persatu Istri Awak KRI Nanggala-402

Kabar Terkini KRI Nanggala-402 Ikut Dipantau Media Internasional

Kabar terkini KRI Nanggala-402 juga mendapat perhatian dari dunia internasional.

Panglima TNI Hadi Tjahjanto menyatakan bahwa KRI Nanggala-402 yang hilang di perairan utara Bali telah tenggelam, setelah melakukan pencarian selama 72 jam.

"Pagi dini hari tadi merupakan batas akhir live support berupa ketersediaan oksigen di KRI Nanggala selama 72 jam. Unsur-unsur TNI AL telah menemukan tumpahan minyak dan serpihan yang menjadi bukti otentik menuju fase tenggelamnya KRI Nanggala," ujar Panglima TNI dalam konferensi pers, Sabtu (24/4/2021), Kompas.com;Dunia Internasional Turut Mewartakan Kabar Terkini KRI Nanggala-402

Adapun barang-barang yang ditemukan yaitu pelurus tabung torpedo, pembungkus pipa pendingin, dan di botol oranye pelumas periskop kapal selam.

"Dengan adanya bukti otentik Nanggala, maka pada saat ini kita isyaratkan dari submiss menjadi sub-sunk," ujar Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono.

Sejumlah kantor berita asing melaporkan perubahan status kapal yang kini dinyatakan telah tenggelam tersebut.

1. CNN

CNN melaporkan perubahan status KRI Nanggala-402 dari yang semua hilang menjadi tenggelam, setelah kepala angkatan laut menunjukkan puing-puing yang diyakini berasal dari kapal tersebut pada konferensi pers.

Pembaruan status terbaru itu memudarkan harapan untuk 53 anggota awak, yang diperkirakan kehabisan oksigen pada Sabtu pagi.

Mengutip Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia Yudo Margono, pihak berwenang sekarang berharap untuk melakukan proses evakuasi untuk kapal selam KRI Nanggala-402 dan awaknya.

Beberapa kapal perang yang sudah dikerahkan ke Laut Bali, akan digunakan untuk membantu menemukan kapal dengan mendeteksi benda logam atau magnet di laut.

Lebih banyak kapal dengan kemampuan berteknologi tinggi juga bergabung dalam upaya pencarian pada Jumat (23/4/2021), menambah tim pencari yang terdiri dari 21 kapal perang Indonesia, satu kapal selam dan kapal tambahan dari kepolisian dan departemen penyelamatan Indonesia.

Dua kapal perang Australia juga bergabung dalam upaya pencarian. Sementara Amerika Serikat mengirimkan pesawat untuk membantu pencarian kapal selam yang hilang.

2. BBC

BBC mewartakan kabar terbaru penemuan bagian dari kapal selam, bersama dengan puing-puing termasuk sajadah, di dekat tempat kapal selam KRI Nanggala-402 hilang kontak.

Berbagai upaya untuk menemukan kapal angkatan laut juga disorot. Termasuk pemindaian untuk mendeteksi kapal selam itu pada kedalaman 850 meter (2.800 kaki), jauh melampaui kemampuan kapal untuk bisa bertahan.

Dilaporkan bahwa Angkatan Laut Indonesia bersikeras kapal selam itu dalam kondisi baik. Tetapi minyak licin di mana diperkirakan kapal tenggelam telah menimbulkan kekhawatiran bahwa tangki bahan bakar mungkin telah rusak.

"Kami telah menemukan beberapa bagian dan bagian yang diyakini sebagai bagian atau komponen yang melekat pada kapal selam yang tidak akan keluar dari kapal jika tidak ada tekanan dari luar atau retakan pada peluncur torpedo," kata Panglima TNI AL Staf Yudo Margono.

3. Anadolu Agency

Media Turki Anadolu Agency (AA) melaporkan penemuan puing-puing yang diyakini berasal dari KRI Nanggala-402 diketahui.

Disebutkan pula bahwa kapal selam itu dibangun di Jerman pada 1977 dan mulai beroperasi dengan Angkatan Laut Indonesia pada 1981.

Mengutip keterangan Laksamana Yudo Margono dalam jumpa pers di Bali bahwa beberapa potongan dan barang ditemukan di lokasi terakhir kapal selam, yang diyakini sebagai bagian atau komponen yang melekat pada kapal selam.

“Benda-benda ini tidak akan pernah bisa keluar dari kapal selam jika tidak ada tekanan dari luar atau retakan,” kata Margono.

Jejak minyak yang tumpah dan barang-barang lain yang diyakini milik kapal selam itu juga ditemukan. Disebutkan pula bahwa tidak ada kapal lain dalam radius 10 mil.

4. Associated Press (AP)

Kantor berita internasional Associated Press (AP) mewartakan kapal selam KRI Nanggala-402 yang hilang telah tenggelam dan mengalami retakan terbuka, dan menewaskan 53 awak kapal, setelah laporan temuan barang-barang dari kapal.

Mengutip Panglima TNI Hadi Tjahjanto bahwa keberadaan minyak licin serta puing-puing di dekat lokasi penyelaman terakhir kapal selam pada Rabu di lepas pulau Bali adalah bukti nyata KRI Nanggala-402 tenggelam. Indonesia sebelumnya menilai kapal itu hanya hilang.

Panglima Angkatan Laut Yudo Margono mengatakan dalam jumpa pers di Bali, “Jika itu ledakan, pasti akan berkeping-keping. Retakan terjadi secara bertahap di beberapa bagian saat turun dari 300 meter menjadi 400 meter menjadi 500 meter ... Jika ada ledakan, akan terdengar oleh sonar."

Angkatan Laut sebelumnya mengatakan yakin kapal selam itu tenggelam hingga kedalaman 600-700 meter (2.000-2.300 kaki), jauh lebih dalam dari kedalaman runtuhnya 200 meter (655 kaki), di mana tekanan air akan lebih besar daripada yang bisa dilakukan lambung kapal. menahan.

AP mewartakan penyebab hilangnya masih belum pasti. Mengutip keterangan Angkatan Laut Indonesia sebelumnya, yang mengatakan kegagalan listrik bisa membuat kapal selam tidak dapat menjalankan prosedur darurat untuk muncul kembali.

VIDEO Animasi 3D Tenggelamnya Kapal Selam ARA San Juan pada Tahun 2017:

(*/Tribun-Medan.com/ Kompas.com)

Baca juga: SELAMAT JALAN KRI Nanggala dan 53 Prajurit Terbaik, Kapal Selam Remuk pada Kedalaman 600 Meter

Baca juga: INILAH 10 Kapal Selam di Dunia yang Hilang dan Tenggelam Pada Kedalaman 850-907 Meter

Baca juga: SOEKARNO: Sekali Menyelam, Maju Terus. Tiada Jalan untuk Timbul, Sebelum Menang. Tabah Sampai Akhir

Baca juga: INILAH Video 3D Hancurnya Kapal Selam ARA San Juan saat Tenggelam, Bayangkan dengan KRI Nanggala-402

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved