PENJELASAN Ahli Geologi Terkait Fenomena Gempa Beruntun di Samosir, Ada Jalur Patahan dan Siklus

Ahli Geologi Jonathan Tarigan angkat bicara terkait tingginya intensitas gempa di Samosir dan kawasan Danau Toba, beberapa waktu terakhir.

Penulis: Arjuna Bakkara | Editor: Juang Naibaho
Tribun Medan
Gempa bumi di sekitar Danau Toba sejak Minggu (17/4/2021) 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Ahli Geologi Jonathan Tarigan angkat bicara terkait fenomena tingginya intensitas gempa di Samosir dan kawasan Danau Toba, beberapa waktu terakhir.

Fenomena gempa Samosir diprediksi terpicu oleh Patahan Renun, satu dari empat patahan yang ada di Sumatera Utara.

"Pulau Sumatera ada banyak patahan yang terbentang dari Aceh sampai Lampung, kemudian terdiri dari ruas-ruas. Di Sumatera Utara sendiri ada empat patahan. Tiga di antaranya Patahan Renun, Patahan Angkola dan Patahan Barumun. Semuanya memicu gempa. Kalau di Samosir itu Patahan Renun sebagai patahan utama yang mempengaruhinya," ujar Jonathan Tarigan, Rabu (21/4/2021).

Jonathan menjelaskan, Samosir dilalui dua jalur patahan.

Lalu ada satu garis yang melintang di Sidikalang ke arah tenggara.

Kata Jonathan, itu yang merupakan sumber gempa bumi untuk Sumatera Utara.

"Tahun 1996 itu di sana (Samosir) pernah terjadi gempa bumi sangat kuat sekali, seingat saya 7 SR. Jadi gempa bumi di sana itu terjadinya berulang, ada siklusnya. Ada 50 tahunan dan ada juga 100 tahunan," sebutnya.

Baca juga: BREAKING NEWS, Sekda Tanjungbalai Diperiksa Penyidik KPK di Polres Tanjungbalai

Baca juga: Detik-detik Ratusan Petasan Meledak saat Dibawa Ibu-ibu Naik Sepeda Motor di Jalan

Samosir, kata Jonathan, ada garis patahan kecil-kecil yang terbentuk akibat tektonik.

Samosir juga memiliki topografi naik-turun yang diakibatkan pergerakan bumi atau pergerakan tanah.

Gempa itu, sambung dia, adalah tektonik baru atau pergerakan tanah baru.

"Jadi bisa saya bilang Samosir itu ada patahan-patahan kecil juga. Bisa saja itu patahan kecilnya yang bergeser, gempa kemarin kan tidak begitu besar magnitudonya. Tapi mungkin aja ada patahan-patahan lain yang mempengaruhi gempa tektonik di Samosir," katanya.

Meski puncak akibat gempa tektonik yang terjadi di Samosir tidak bisa diprediksi, Jonathan mengimbau masyarakat tidak perlu panik namun tetap waspada.

Baca juga: Kopassus Dikeroyok, KSAD Jendral Andika Perkasa: Prajurit Kita Ngapain di Situ?

Baca juga: Tisya Erni Akui Terbawa Perasaan Saat Dekat dengan Sule: Dia yang Selalu Video Call Aku

Menurutnya dampak gempa masih bersifat sangat lokal, akibatnya bisa terjadi amblasan atau longsoran.

"Panik tidak perlu, tapi selalu waspada. Pemerintah Samosir saya sarankan memberikan sosialisasi yang namanya mitigasi (upaya mengurangi risiko bencana), seperti apa gempa yang memengaruhi di sana," pesannya.

Diketahui, sejak Minggu (18/4/21) malam hingga Selasa (20/4/21) kemarin, sudah terjadi belasan kali gempa di Samosir.

Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) wilayah I Medan mencatat, tiga gempa bumi susulan pada Senin (19/4/21) sore di wilayah Danau Toba/Samosir itu, terjadi hanya dalam rentang waktu sekitar 28 menit.

(Jun-tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved