News Video
Menu Ini Menjadi Hidangan Khas Berbuka Puasa di Masjid Raya Al-Osmani Kota Medan
Masjid Raya Al-Osmani merupakan masjid yang dibangun pada tahun 1854 oleh Raja Deli Ketujuh yaitu Sultan Osman Perkasa Alam.
Laporan Wartawan Tribun-Medan.com/ Dian Nur Utama Saragih
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Masjid Raya Al-Osmani merupakan masjid yang dibangun pada tahun 1854 oleh Raja Deli Ketujuh yaitu Sultan Osman Perkasa Alam.
Masjid Raya Al-Osmani berada di Jl. Kol Yos Sudarso, Km. 19,5 Labuhan, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Sumatera Utara.
Masjid ini memiliki beberapa tradisi yang masih dijalankan saat Ramadan dari jaman kerajaan dulu hingga sekarang ini.
Salah satunya adalah penyelenggaraan buka puasa bersama yang rutin dilakukan setiap hari saat Ramadan.
Menu khas berbuka puasanya adalah bubur pedas khas melayu yang masih dijaga kualitas rasanya sejak dulu.
“Khusus hidangan bubur pedas ini hanya kita sediakan seminggu sekali, tepatnya setiap Kamis malam Jum’at,” ujar Ahmad Faruni, Ketua BKM Masjid Raya Al-Osmani, Kamis (15/4/2021) sore.
Di beberapa Ramadan tahun sebelumnya, menu bubur pedas khas Masjid Raya Al-Osmani ini diadakan setiap hari, namun karena terkendala keuangan, beberapa tahun belakangan ini hanya disediakan seminggu sekali.
Sedangkan untuk hidangan berbuka puasa selain hari kamis, makanan dan minumannya berasal dari ke pemberian masyarakat sekitar.
Bubur pedas khas melayu yang disediakan di Masjid Raya Al-Osmani ini diakui memiliki cita rasa yang kaya akan rempahnya, ditambah dengan campuran potongan-potongan kecil makanan laut seperti udang, ikan dan cumi sehingga menambah kekayaan rasa.
Faruni mengatakan tradisi berbuka dengan bubur pedas di Masjid Raya Al-Osmani ini sudah berlangsung lama.
“Sudah sangat lama, yang hanya sepengetahuan saya, sejak kecil berkecimpung di Masjid ini, sekitar tahun 1980 an. Masa itu saya melihat atuk-atuk di Masjid ini ketika sore sudah mulai mempersiapkan hidangan bubur pedas,” ujarnya.
Untuk porsi yang disediakan saat menghidangkan bubur pedas berkisar untuk 50 an orang.
“Kalaulah masyarakat sekitar yang berbuka disini tidak ada membawanya pulang, mungkin porsinya bisa melebihi 50 orang,” imbuhnya.
Dikatakannya, peramu bubur pedas di Masjid Raya Al-Osmani saat ini masih merupakan bagian dari keluarga kesultanan.
“Beliau tetap menjaga cita rasa masakan ini, jangan sampai dari dulu sampai sekarang rasa itu berubah, itu yang tetap beliau jaga, kemudian ramuan-ramunnya tetap dipadati, sehingga bubur pedas ini betul-betul enak dipandang, nikmat dirasa,” tutur Faruni.
(cr15/ tribun-medan.com)