Wawancara Eksklusif
Kisah Anak Medan jadi Kapten Timnas Indonesia U-19 hingga Masuk Klub Sepak Bola Profesional
David pun menceritakan berbagai hal menarik tentang kisah perjalanan sepak bola sehingga menjadi kapten dan diisukan ke Kroasia
Penulis: Angel aginta sembiring |
Laporan Wartawan TRIBUN-MEDAN.com, Angel Aginta Sembiring
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Septian David Maulana menjadi Kapten Timnas Indonesia U-19 dan masuk Klub Sepak Bola Profesional.
Disela-sela kesibukan David Maulana dalam sepak bola, ia menyempatkan berkunjung ke kantor Harian Tribun Medan, Jalan KH Wahid Hasyim Medan pada Minggu (11/4/2021) sore.
David pun menceritakan berbagai hal menarik tentang kisah perjalanan sepak bola sehingga menjadi kapten dan diisukan ke Kroasia.
Berikut petikan wawancara eksklusif bersama Kapten Timnas Indonesia U-19 David Maulana (D) dalam program SmartGen Tribun Medan yang dipandu Isfan dan Kartika (T), pada Minggu (11/4/2021) sore, yang mengangkat tema : Kisah perjalanan sepak bola sehingga menjadi kapten dan diisukan ke Kroasia.
T : Disini kita telah kedatangan Kapten Timnas u-19 belakangan ini bagaimana kehidupan sepakbola menurut David apalagi di tengah pandemi, dan sekarang apa aktivitas sehari-harinya ?
D : Keadaan sepak bola saat ini sedang tidak stabil karena pandemi, kemarin surat izin untuk keluar turnamen menpora aja susah. Jadi kami juga anak muda susah mencari posisi.Syukurnya di ajak latihan di PSMS, jadi setiap harinya di PSMS. Cuma sendiri dari Timnas latihan di PSMS.
T : Jadi serius main bola mulai sejak kapan ?
D : Mulai serius umur 10 tahun, karena dari orangtua hobby bola, ngajarin main bola dan fokus, jadi saya yakin melalui sepak bola bisa membawakan harum nama. Mulai masuk club profesional setelah timnas di umur 16tahun.
T : Gimana sih masuk Timnas itu, gambarannya bagaimana mungkin ada teman-teman yang ingin tahu.
D : Awalnya coba-coba aja, disuruh pelatih ikut seleksi SSB di USU, awalnya yang tes 550 orang dari medan. Jadi seleksinya gakada beban, kalo lulus syukur. Rupanya di tahap pertama sampai ketiga lulus. Tahap keempat penentuan bisa berangkat ke jakarta atau enggak. Jadi saya mikir orangtua juga udah habis-habisan, jadi jangan sampai setengah-setengah lagi, habis, habiskan aja sekalian gitu.
T : Maksudnya habis ini dalam konteks apa dulu nih?
D : Yang dihabiskan itu waktu, tenaga, pikiran, curahkan aja semua. Kemampuan maksimalkan dan kuatkan.
T : Seleksinya bagaimana?
D : Seleksi pertama untuk timnas, kayak main game lapangan besar 11 lawan 11, disitu bnyk sampai pemain pemain yang lain gak kedapatan main. Syukurnya saya bisa main di tahap pertama, rupanya pelatih lihat saya dan dia suka, dia suruh besok datang lagi, seleksi lagi kayak main game lagi tapi agak kecil gawangnya, disuruh datang lagi besoknya. Setiap hari ada yang berkurang dan gugur. Tahap terakhirnya se-Sumatera itu, setiap perwakilan provinsi sumatera ada 4orang, seleksinya di usu, berakhirnya medan ada 3akhirnya. Terus di jakarta datang seleksi lagi, seminggu itu cuma main game aja 11 lawan 11 dan akhirnya pas seleksi terakhir saya sakit, demam malamnya. Saya datang ke dokter minta obat, pokoknya yakin aja lah kalau ada niat pasti ada jalannya. Pas besoknya seleksi saya main bagus. Saya ga nyangka juga saya mainnya bagus. Dipanggil sama pelatihnya, kamu bagus disini aja, jangan pulang dulu. Teman saya yang 2 pulang, saya tetap disitu, jadi dari Medan tinggal saya sendiri. Akhirnya sampai sekarang bisa sampai Timnas dan menjadi kapten.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/septian-david-maulana.jpg)