Human Interest Story

Nasib Petambak Ikan di Percutseituan Akibat Pandemi Covid-19

PANDEMI Covid-19 telah melumpuhkan hampir semua sektor yang bersinggungan langsung dengan pasar.

Editor: Juang Naibaho
Tribun-Medan.com/Dian Nur Utama
Suasana di lokasi tambak kawasan Dusun XI Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Minggu (28/3/2021) 

Laporan Wartawan Tribun-Medan.com/ Dian Nur Utama Saragih

PANDEMI Covid-19 telah melumpuhkan hampir semua sektor yang bersinggungan langsung dengan pasar.

Fenomena tersebut memberikan dampak buruk kepada pelaku usaha, termasuk diantaranya adalah petani tambak di Percutseituan, Kabupaten Deliserdang.

Harga jual hasil tambak terus menurun seiring terhambatnya ekspor yang disebabkan pandemi Covid-19.

Padahal keuntungan pemasaran ekspor jauh lebih besar dibandingkan hasil tambak dijual di dalam negeri.

Meski begitu, para petambak di Percutseituan tak punya pilihan lain karena sektor ini menjadi satu-satunya andalan untuk menyambung hidup.

Mereka pun tetap harus menjalankan usaha walaupun penghasilannya menurun sekitar 40 persen sejak Maret tahun 2020.

Beberapa petambak bahkan mengurangi variasi ternakannya karena harga jualnya menurun.

“Sekarang kepiting udah gak ada lagi ditambak, biaya ekspornya mahal, harga jualnya anjlok,” ujar Mariyono, pemilik tambak ikan di Dusun XI Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percutseituan, Kabupaten Deliserdang, Minggu (28/3/2021).

Beberapa hasil tambak yang mengalami penurunan harga diantaranya, ikan nila berkisar diharga Rp 17000 per kg sekarang menjadi Rp 10.000 per kg.

Ikan Bandeng yang dulunya berkisar di harga Rp 20.000 per kg, sekarang hanya berkisar Rp 9000 per kg.

Penurunan harga ini sangat signifikan terhadap perekonomian pemilik tambak, sebab panen hanya dilakukan tiga bulan sekali dan menghasilkan sekitar 7 ton Ikan Nila, juga sekitar 7 ton Ikan Bandeng.

Ia juga menanyampaikan sebagian kelompok tani tambak di Desa Tanjung Rejo mendapat bantuan dari pemerintah berupa bibit ikan.

Supriadi, pemilik tambak yang berlokasi di Desa Tanjung Rejo menyatakan hal yang senada.

Hasil panen tambaknya yang bisa mencapai sekitar 2 ton ikan Nila campur dengan ikan Bandeng, juga mengalami penurunan harga beli dari agen penampungnya.

“Turunnya sejak Maret tahun 2020, sampai sekarang harganya belum bisa pulih, gak naik-naik,” ujar Supriadi, Minggu (28/3/2021).

(cr15/ tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved