News Video

Istri Dibakar Suami Meninggal Dunia, Terdengar Suara Burung Sebelum Korban Hembuskan Nafas Terakhir

Korban yang bernama Rani Andriani (20), dibakar hidup-hidup oleh suaminya Junanda alias Nanda (21) menggunakan bensin eceran.

Editor: M.Andimaz Kahfi

Istri Dibakar Suami Meninggal Dunia, Terdengar Suara Burung Sebelum Korban Hembuskan Nafas Terakhir

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Masih ingat dengan kasus suami yang membakar istrinya hidup-hidup di Jalan Pasar 7 Beringin Desa Tembung Kecamatan Percut Sei Tuan, pada akhir Januari 2021 lalu.

Korban yang bernama Rani Andriani (20), dibakar hidup-hidup oleh suaminya Junanda alias Nanda (21) menggunakan bensin eceran.

Pascakejadian, Rani mendapat luka bakar 65 persen di tubuhnya, sementara pelaku telah diamankan pihak kepolisian.

Setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit, hampir dua bulan lamanya, korban Rani (20) yang menderita luka bakar di sekujur tubuhnya, menghembus nafas terakhirnya, Jumat (19/3/2021) malam.

Dari sejumlah perawatan medis yang dijalani Rani, kondisinya sempat membaik, bahkan diperbolehkan kembali pulang ke rumahnya.

Namun belakangan infeksi akibat luka bakar kembali timbul, membuat kondisi korban kembali drop dan harus dilarikan ke rumah sakit.

"Kami larikan ke rumah sakit pada Jumat (12/3/2021) pekan lalu, kondisi Rani kembali drop," kata ibu korban Supriati (40) di rumahnya Jalan Sederhana Gang Bakung Pasar VII Desa Bandar Klippa Kecamatan Percut Sei Tuan, Sabtu (20/3/2021).

Selama menjalani perawatan kembali di rumah sakit, ibu korban menceritakan kondisi putrinya itu semakin memprihatinkan.

"Sejak Kamis (18/3/2021) dan Jumat (19/3/2021), anak saya bahkan tidak mau makan, biasanya dia congok kalau untuk makan namun, Rani terus mengalami sulit bernafas. Dia bilang kakak kuat, tapi dia juga merasakan sulit untuk bernafas, infeksi sudah kenak ke paru-parunya," ujar Supriati.

Hingga akhirnya pihak medis, kata Yati, mengambil tindakan untuk memasukkan alat ke paru-paru korban lewat mulutnya.

"Anak saya sudah enggak mau dia takut dimasukan besi, tapi ditenangkan tim medis, dibilang kakak (korban), berjuang ibarat naik pesawat, kalau nahas kita jatuh, kalau berhasil kita sampai bandara (sembuh)," tutur ibu korban dengan wajah sendu.

Namun Tuhan berencana lain, pascadimasukan alat bantu kondisi Rani ngedrop hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

"Aku gak nyangka, karena anak saya bilang kakak kuat," ucapnya sembari meneteskan air mata.

Namun, Yati menjelaskan, sebelum kepergian putri pertamanya itu, ia sempat berpesan kepada keluarganya untuk tidak boleh dendam terhadap pelaku yang membakar dirinya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved