Harga Kacang Kedelai Masih Tinggi, Ukuran Tahu dan Tempe di Pasaran Makin Kecil

Ia mengatakan saat ini harga di importir sudah sekitar Rp 8.700 per kilogramnya. Sehingga harga di distributor sudah mencapai sekitar Rp 9.500.

Twitter/Sandiaga Uno
Sandiaga Uno belanja di Pasar Projosari, Bawen, Semarang, Jawa Tengah 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Harga kacang kedelai hingga saat ini masih tinggi di pasaran. Hal ini terpaksa membuat pengerajin mengurangi ukuran tahu dan tempe yang dipasarkan. 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Medan, Emilia Lubis mengatakan awalnya kenaikan harga kacang kedelai ini diakibatkan oleh terkendalanya pengiriman ke Indonesia. 

"Kedelai itu kan barangnya dari Amerika. Jadi waktu itu tidak ada container untuk ke Indonesia. Setelah itu diborong oleh China, kemudian mereka menjual dan diambil distributor, itu yang membuat harganya naik, barangnya jadi langka," katanya kepada Tribun Medan, Selasa (9/3/2021). 

Ia mengatakan saat ini harga di importir sudah sekitar Rp 8.700 per kilogramnya. Sehingga harga di distributor sudah mencapai sekitar Rp 9.500.

"Sekarang masih mahal terus. Kita sudah lakukan upaya sebelumnya ke importir. Mereka sudah oke memberikan harga ke pengerajin sesuai dengan harga ke distributor," katanya. 

"Namun pengerajin kan biasanya ambil barang (kedelai) dulu ke distributor. Diolah dulu jadi tahu atau tempe, dijual, lalu dibayar. Nah importir enggak mau dengan sistem seperti itu. Mereka mau datang barangnya (kedelai) langsung dibayar. Tapi diluar masalah ini, harga diimportirnya memang mahal. Sampai di tempat mereka sudah Rp 8745," lanjutnya. 

Ia mengatakan kebutuhan kedelai Kota Medan  sekitar 40 ton per minggu atau 160 ton per bulan.

Dari pantauan pihaknya, di pasar tidak ada kenaikan harga tahu dan tempe tapi potongannya jadi lebih kecil dari ukuran biasanya.

"Untuk yang paling banyak butuh kacang kedelai ini kan produksi tahu. Upaya yang kita lakukan ya kita mau lakukan operasi pasar, tapi karena pengerajin maunya sistem bayar belakangan, enggak bisa kita penuhi. Kendalanya disitu," katanya. 

Kepala Kantor Wilayah I Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Ramli Simanjuntak menyayangkan naiknya harga kacang kedelai.

Menurutnya sangat ironi kacang kedelai mayoritas diimpor sementara tahu dan tempe menjadi makanan pokok masyarakat.

"Masalah tahu tempe, menjadi sangat ironi karena hampir seluruh masyarakat Indonesia makan tahu tempe dan itu jadi makanan pokok. Tapi hampir 80 persen kacang kedelai kita itu impor," katanya, Kamis (4/3/2021). 

Ia mengatakan ketika impor dari Amerika dan  semua negara lain berusaha mendapatkan ini  yang menyebabkan terlambat mendapatkan pasokan pada tahun ini. 

Sebelumnya Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumut mengatakan petani di Sumatera Utara kurang berminat menanam kacang kedelai.

Selain karena harganya murah, kacang kedelai juga lokal juga kurang diminati oleh pembeli khusunya pengerajin tahu dan tempe.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved