ALASAN YOUTUBE Blokir 5 Saluran YouTube Milik Junta Militer Myanmar, Setelah 38 Warga Sipil Tewas

Alasan YouTube menghapus lima saluran jaringan televisi Myanmar yang dikelola militer setelah protes kudeta militer Myanmar semakin memakan korban

Editor: Salomo Tarigan
net/kolase/Twitter
ALASAN YOUTUBE Blokir 5 Saluran YouTube Milik Junta Militer Myanmar. Foto Kyal Sin - gadis 19 tahun tewas dalam sebuah aksi damai menentang kudeta Myanmar. 

 TRIBUN-MEDAN.com- Aksi kekerasan antara massa pro demokrasi dan Junta Militer Myanmar tak kunjung selesai sejak aksi kudeta meletus pada awal Februari 2021 lalu.

Terbaru, aksi kekerasan Junta Militer Myanmar itu turut disiarkan melalui saluran di media sosial seperti Facebook dan YouTube.

Akibatnya, YouTube telah menghapus lima saluran jaringan televisi Myanmar yang dikelola militer setelah protes kudeta militer Myanmar semakin memakan korban sipil.

Sebelumnya, akun Facebook milik Junta Myanmar juga telah dihapus karena kerap memuat unsur kekerasan sipil dalam konten yang disiarkan.

Baca juga: Sebelum Moeldoko, Gatot Nurmantyo Pernah Ditawari Ketua Umum Partai Demokrat, Gatot Ingat Jasa SBY

"Kami telah menghentikan sejumlah saluran dan menghapus beberapa video dari YouTube sesuai dengan pedoman komunitas kami dan hukum yang berlaku," kata seorang juru bicara YouTube yang memutuskan untuk menghapus video milik Junta Militer Myanmar, dikutip dari Reuters, Jumat (5/3/2021).

Saluran milik Junta Militer Myanmar yang dihapus adalah MRTV (Myanmar Radio and Television), Myawaddy Media milik militer, MWD Variety dan MWD Myanmar.

Baca juga: KLASEMEN LIGA INGGRIS Leicester Menang 2-1, Man United Tergeser ke Posisi 3, Top Skor Muhamad Salah

Dihapusnya salurna media militer Myanmar dilakukan setelah 38 warga sipil tewas dalam aksi protes yang dilakukan massa pro liga demokrasi (NLD).

Aksi yang dilakukan ribuan massa itu menentang kudeta oleh Junta Militer Myanmar dilakukan Rabu (3/3/2021).

Atas kejadian berdarah itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa pun ikut bersuara.

Menurut PBB, kekerasan itu pecah ketika pasukan keamanan mencoba untuk menghancurkan demonstrasi dengan menggunakan peluru tajam di beberapa daerah.

Aksi kekerasan itu turut menewaskan seorang aktivis perempuan Myanmar yang berkaus dengan tulisan "Everything Will be Okay".

Diketahui perempuan itu bernama Angel atau dikenal Kyal Sin.

Sebelumnya, Facebook juga melarang semua halaman yang terkait dengan tentara Myanmar. Sementara junta militer juga melarang Facebook pada Februari sebagai aksi balasan yang dinilai mencampuri urusan politik Myanmar.

Reuters melaporkan tentara dan polisi Myanmar juga menggunakan saluran TikTok untuk mengancam membunuh pengunjuk rasa.

Ratusan konten memuat unsur kekerasan dan darah sengaja dimuat Junta Militer untuk menghentikan aksi massa yang terus bertambah.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved