TRIBUN-MEDAN-WIKI: Tarian Ikan Kekek, Bagian Tradisi Masyarakat Pesisir Langkat
Tarian Ikan Kekek merupakan salah satu tradisi seni tari yang berasal dari masyarakat pesisir Kabupaten Langkat.
Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
TRIBUN-MEDAN-WIKI.com - Melihat Provinsi Sumatera Utara, jangan hanya melihat dari satu sisi destinasi wisata alamnya saja.
Namun, harus juga melihat dari sisi kekayaan tradisinya. Baik itu dari tradisi kebudayaan, upacara adat, dan tradisi kesenian serta lainnya.
Keberagaman tradisi di Provinsi Sumut hingga saat ini sebagian masih eksis dan dilestarikan.
Satu di antaranya Tarian Ikan Kekek, merupakan salah satu tradisi seni tari yang berasal dari masyarakat pesisir Kabupaten Langkat.
Budayawan Langkat, Zainal Arifin, AKA, menyampaikan, Tari Ikan Kekek adalah tradisi yang lahir dari masyarkat pesisir Langkat.
Bukan tradisi yang lahir dari kerajaan Melayu Langkat.
"Tari ini memang berasal dari Melayu Langkat. Jadi, pada masa dahulu tradisi melayu langkat menarik pukat dan ada Jamu Laut. Narik pukat itu untuk menarik hasil laut secara bersamaan yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Sementara yang perempuan menunggu di pantai untuk mengambil hasil dari menarik pukat tersebut," ujarnya, Minggu (28/2/2021).
Nah, dari hal tradisi seperti itu terciptalah Tarian Ikan Kekek.
Jadi, Ikan Kekek ini seperti ikan muncung panjang.
Sambungnya, pada masa dahulu Tari Ikan Kekek ini adalah tarian yang sakral.
Setiap dilaksanakan Jamu Laut, yang merupakan tradisi upacara wujud syukur masyarakat pesisir Langkat. Tarian tersebut selalu ditampilkan di saat Jamu Laut digelar pada masa itu. Namun, pada saat ini tradisi Jamu Laut jarang diadakan.
"Maka, wajar saja Tarian Ikan Kekek jarang terlihat di Sumatera Utara. Khsusunya di daerah Langkat. Walaupun ada tradisi Jamu Laut sekarang, tarian tersebut pun jarang ditampilkan," ucapnya.
Sambungnya, pertama kali Tarian Ikan Kekek ini ada di kawasan masyarakat Pesisir Pantai Desa Jaring Halus, Kabupaten Langkat.
Tradisi ini terbentuk karena pada masa dahulu di Langkat, masyarakatnya masih menganut kepercayaan animisme.
Jadi, ketika masyarakat pesisir pantai yang notabene penghasilannya dari nelayan dan tak mendapatkan ikan dari laut, maka dibuatlah tradisi Jamu Laut dan tarian Ikan Kekek untuk menyembah mambang.
Bagi masyarakat pesisir laut di masa lalu, mambang ialah dewa atau roh yang dipercayai memberikan rezeki.
"Semenjak masuknya agama Islam, tradisi ini pun mulai berkurang. Karena tradisi tersebut sangan bertentangan dengan ajaran agama Islam. Namun, masih dilestarikan kebudayaanya tetapi tidak dilestarikan tradisi memujanya," ucapnya.
Saat ini tradisi memuja itu tak diberlakukan lagi. Melainkan, hanya memakai doa sesuai ajaran agama Islam. Akan tetapi, untuk tariannya tetap dilestarikan oleh Sanggar Seni Pusaka Aru Teater Garis Lurus Langkat.
"Jadi sanggar ini tetap melestarikan tari tarian dari Langkat, baik itu Tari Ikan Kekek. Jadi di masa gubernur Sumut yang lalu Pak Syamsul Arifin, tarian ini diangkat di Taman Mini Jakarta," ujarnya.
Selaku Budayawan Langkat, ia berharap setelah dilakukan upaya pelestarian seperti merekam tari-tarian melalui video, lalu dicetak dalam bentuk CD dan disebar ke sekolah sekolah.
"CD yang berisi tarian dan tradisi Langkat itu yang saya sebar bukan untuk ditonton kepala sekolah, tetapi untuk murid murid agar mengetahui gerak tariannya," tuturnya.
Sambung Zainal Arifin, gerak Tari Ikan Kekek ini untuk laki laki seperti gerakan menarik pukat atau jaring. Lalu gerak seperti mendayung perahu, kemudian gerakan ke atas adalah gerakan menarik tari layar. Sementara, gerakan tarian untuk perempuan seperti gerakan mengutip ikan dan membersihkan jaring.
"Kalau tarian ini dilakukan bisa menjadi tarian kolosal. Namun untuk pertunjukan disesuaikan dengan pentasnya. Akan tetapi di masa dahulu tarian ini dilakukan beramai-ramai," pungkasnya.
(cr22/Tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/tarian-ikan-kekek-dari-langkat.jpg)