Pemimpin Oposisi Rusia Diracun
LOLOS dari Racun Agen Rezim Putin, Alexei Navalny Ditangkap saat Injakkan Kaki di Rusia, Kronologi
Navalny mengukir namanya dalam catatan pemerintahan Putin dengan mengungkap praktik korupsi yang dilakukan secara 'resmi'.
TRIBUN-MEDAN.COM - LOLOS dari Racun Agen Rezim Putin, Alexei Navalny Ditangkap saat Injakkan Kaki di Rusia, Kronologi
Rusia dikenal sebagai negara yang tidak memberi tempat nyaman bagi oposisinya.
Kaum oposisi selalu berakhir tragis diracuni agen-agen pemerintah Rusia.
Jika selamat dari racun pencabut nyawa Rusia yang sangat sulit dideteksi (tidak berbau dan tidak mengubah warna makanan atau minuman), maka operasi selanjutnya akan lebih keras.
Seperti yang dialami pengkritik Putin, Alexei Navalny (44), setelah kembali ke negara Rusia dari Jerman, Minggu (17/1/2021).
Alexei Navalny dilarikan ke rumah sakit Charité di ibu kota Jerman, setelah pingsan dalam penerbangan dari Siberia pada 20 Agustus 2020.
Pihak rumah sakit mengatakan Navalny yang berusia 44 tahun telah menghabiskan 32 hari di sana, termasuk 24 hari dalam perawatan intensif.
Pemerintah Jerman mengatakan bahwa laboratorium di Prancis dan Swedia telah mengkonfirmasi kembali tes Jerman yang menunjukkan bahwa racun yang digunakan pada Navalny berjenis agen Novichok.
Navalny diberi penawar, atropin, obat yang sama yang digunakan dalam kasus mantan agen KGB Sergei Skripal oleh dokter Inggris setelah keracunan agen saraf Novichok di Salisbury pada 2018.
Rusia mengatakan tidak ada buktinya.
Setelah pulih, pada hari Minggu menepati janjinya, ia pulang ke Rusia dengan menggunakan Pobeda Airlines meskipun ada peringatan bahwa dia akan ditangkap saat mendarat.
Ribuan orang telah berkumpul di bandara lain di Moskow untuk menyambut kedatangannya dari Berlin, Jerman tetapi pesawat itu dialihkan.
Sebelumnya pada hari Minggu, polisi dikerahkan dan penghalang logam dipasang di dalam bandara Vnukovo, tempat pesawat itu awalnya dijadwalkan untuk mendarat.
Media Rusia melaporkan bahwa sejumlah aktivis - termasuk Lyubov Sobol - telah ditahan.
Alexei Navalny mengatakan selamat tinggal pada istrinya sebelum dibawa oleh pihak kepolisian.
Pesawat itu penuh dengan wartawan, termasuk Andrey Kozenko dari BBC Russian Service.
Sesaat sebelum mendarat, pilot mengumumkan bahwa karena "alasan teknis", pesawat itu dialihkan dari Bandara Vnukovo ke Bandara Sheremetyevo, pengumuman yang membuat para penumpang terkejut.
"Saya tahu bahwa saya benar. Saya tidak takut apa-apa," kata Navalny kepada para pendukungnya dan wartawan setelah mendarat, hanya beberapa menit sebelum dia ditahan.
"Apakah kamu sudah lama menunggu saya?" katanya kepada penjaga perbatasan.
Dia mencium istrinya Yulia - yang terbang bersamanya dari Jerman - setelah petugas polisi memperingatkan bahwa mereka akan menggunakan kekerasan fisik jika Navalny tidak mematuhi perintah untuk ikut bersama mereka.
Meskipun sudah mengajukan permohonan, pengacara Navalny tidak diizinkan untuk melakukan pendampingan.
Aktivis itu ditahan di sebuah kantor polisi di Moskow.
Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa menuntut pembebasan politikus oposisi Rusia Alexei Navalny menyusul penahanannya saat mendarat di Moskow dari Jerman, lima bulan setelah dia hampir terbunuh akibat serangan racun saraf.
Meskipun menyerukan agar pengkritik Presiden Putin itu dibebaskan, baik Amerika Serikat (AS) maupun negara-negara Eropa tidak sampai mengeluarkan ancaman untuk menerapkan sanksi.
Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengatakan pihak berwenang Rusia berusaha membungkam para penentangnya.
"Para pemimpin politik yang percaya diri tidak takut akan suara-suara penentangan, dan juga tidak melakukan kekerasan atau menahan saingan politik tanpa landasan," kata Pompeo.
Masih dari AS, penasihat keamanan nasional presiden terpilih AS Joe Biden juga mendesak pembebasan Navalny.
"Serangan Kremlin terhadap Navalny bukan hanya pelanggaran hak asasi manusia, tetapi penghinaan terhadap orang-orang Rusia yang ingin suara mereka didengar," kata Jake Sullivan.
Suara keras juga disampaikan oleh negara-negara Uni Eropa, termasuk Prancis, Italia dan Presiden Dewan Eropa, Charles Michel, untuk menuntut pembebasan Navalny.
Dalam pernyataannya, pemerintah Inggris mengatakan "sangat khawatir" dengan penahanan Navalny.
"Daripada mempersekusi korban kejahatan keji, pihak berwenang Rusia seharusnya menyelidiki bagaimana senjata kimia digunakan di wilayah Rusia,"tambah keterangan pemerintah Inggris.
Mengapa Navalny ditahan?
Dalam sebuah pernyataan pada Minggu malam, petugas penjara Rusia mengatakan pemimpin oposisi itu "telah dicari sejak 29 Desember 2020 karena pelanggaran berulang selama masa percobaan". Ia menambahkan bahwa Navalny akan tetap ditahan sampai ada keputusan pengadilan.
Pihak berwenang menuduhnya melanggar aturan-aturan yang diberlakukan padanya setelah ia dihukum karena dituding melakukan penggelapan dan diganjar hukuman percobaan. Navalny selalu mengatakan kasus itu bermotif politik.
Secara terpisah, jaksa Rusia telah meluncurkan kasus baru melawan Navalny atas tuduhan penipuan terkait transfer uang ke berbagai badan amal, termasuk ke Yayasan Anti-Korupsi miliknya.
Aktivis itu sebelumnya berpendapat bahwa Putin akan melakukan semua yang dia bisa untuk menghentikannya kembali ke Rusia dengan membuat kasus-kasus baru untuk menjeratnya.
Putin Takut Dianggap Martir Politik
Pihak berwenang Rusia sering kali mengklaim Alexei Navalny tidak populer di kalangan rakyat Rusia, bahwa dia bukan ancaman bagi Presiden Putin.
Tapi kepulangannya, lima bulan setelah diracun, disambut dengan operasi besar kepolisian pada hari Minggu (17/01/2021).
Polisi anti huru hara bahkan mendorong pendukung Navalny keluar dari aula kedatangan di bandara Vnukovo, sebelum penerbangan dialihkan.
Musim panas lalu, tokoh oposisi Rusia yang paling menonjol itu diserang di Siberia, yang diduga dilakukan seseorang yang merupakan bagian dari petugas keamanan Rusia.
Keputusannya untuk pulang ke Rusia merupakan tantangan langsung bagi Vladimir Putin - dan menciptakan dilema bagi Kremlin.
Ada risiko bahwa Navalny akan dipandang menjadi martir politik, sosok seperti Nelson Mandela, dan memicu lebih banyak sanksi dari Barat.
Jika tak ada apapun yang dilakukan terhadapnya, maka kritikus Kremlin itu pasti akan menjadi duri pemerintah di tahun pemilihan yang penting.
Politisi oposisi Rusia Alexei Navalny yang diracuni dengan agen saraf Novichok telah meninggalkan rumah sakit di Berlin, Jerman.
Rumah Sakit Charité Berlin juga mengatakan kondisi "pengkritik abadi" Presiden Rusia Vladimir Putin itu telah berangsur pulih sehingga perawatan medis-intensif dihentikan.
Navalny lalu mengunggah foto dirinya sedang berdiri tanpa bantuan di media sosial dan menuliskan bahwa dokter telah berupaya yang terbaik sehingga dirinya dapat pulih total.
Hasil tes toksikologi menunjukkan "bukti tegas" bahwa Navalny telah diracuni agen saraf kimia kelompok Novichok, kata pemerintah Jerman.
Navalny pingsan dalam penerbangan dari Siberia pada 20 Agustus lalu, dan dipindahkan ke rumah sakit Charité di ibu kota Jerman.
Tim Navalny menuduh racun itu berasal dari perintah Presiden Putin, walaupun Kremlin dengan tegas membantah terlibat.
Siapa Alexei Navalny?
Navalny mengukir namanya dalam catatan pemerintahan Putin dengan mengungkap praktik korupsi yang dilakukan secara 'resmi'.
Ia juga mencap Rusia Bersatu Putin (Putin's United Russia) sebagai "partai penjahat dan pencuri".
Atas perbuatannya, ia dijebloskan ke dalam penjara. Pada tahun 2011 ia ditangkap dan dipenjara selama 15 hari menyusul protes atas kecurangan suara oleh Partai Rusia Bersatu Putin (Putin's United Russia Party) dalam pemilihan parlemen.
Lalu, Navalny pernah dipenjara sebentar pada Juli 2013 atas tuduhan penggelapan, tetapi ia mengecam hukuman itu sebagai bentuk "hukuman politik".
Navalny juga mencoba mencalonkan diri dalam pemilihan presiden 2018 tetapi dilarang karena dakwaan penipuan sebelumnya dalam kasus yang sekali lagi dia sebut bermotif politik.
Navalny juga dijatuhi hukuman penjara selama 30 hari pada Juli 2019 setelah menyerukan protes yang tidak sah.
Dia jatuh sakit selama hukuman penjara itu. Dokter mendiagnosisnya dengan penyakit "dermatitis kontak" tetapi dia mengatakan dia tidak pernah mengalami reaksi alergi akut dan dokternya sendiri menyarankan dia mungkin telah terpapar "beberapa senyawa beracun".
Navalny juga mengatakan mungkin telah diracuni.
Navalny juga menderita luka bakar yang serius di mata kanannya pada tahun 2017 setelah dia diserang dengan pewarna antiseptik.
Serangan lainnya terhadap pengkritik Kremlin
Jika kejadian ini dikonfirmasi sebagai keracunan, serangan sebelumnya terhadap pengkritik-pengkritik terkemuka Presiden Putin akan kembali menjadi sorotan.
Mereka termasuk politisi Boris Nemtsov dan jurnalis Anna Politkovskaya, yang ditembak mati, dan perwira intelijen Alexander Litvinenko, yang meninggal karena keracunan di Inggris.
Jurnalis dan aktivis oposisi Vladimir Kara-Murza masih hidup, tapi menuding telah diracun dua kali oleh dinas keamanan Rusia. Ia hampir meninggal setelah menderita gagal ginjal pada 2015 dan mengalami koma dua tahun kemudian.
Pengkritik Kremlin lainnya, Pyotr Verzilov, menuduh dinas intelijen Rusia meracuninya pada 2018, ketika ia jatuh sakit setelah sidang pengadilan, kehilangan penglihatan dan kemampuannya untuk berbicara.
Pada tahun yang sama, mantan agen ganda Rusia Sergei Skripal dan putrinya diracuni dengan agen saraf Novichok di kota Salisbury, Inggris.
Inggris yakin agen dari dinas intelijen militer GRU Rusia berada di balik serangan itu, tetapi Kremlin selalu bersikeras mereka tidak terlibat.(bbc news)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/alexei-navalny.jpg)