News Video
Detik-detik Unjuk Rasa Memanas, Demonstran dan Satpol PP Saling Dorong di Kantor Bupati Asahan
Ratusan warga dari Desa Perbangunan dan Desa Pertanahan, Kecamatan Sei Kepayang, menggeruduk Kantor Bupati Asahan, Senin (14/12/2020) siang
Penulis: Alif Al Qadri Harahap | Editor: Hendrik Naipospos
TRIBUN-MEDAN.COM - Ratusan warga dari Desa Perbangunan dan Desa Pertanahan, Kecamatan Sei Kepayang, menggeruduk Kantor Bupati Asahan, Senin (14/12/2020) siang.
Warga menuntut pemerintah menutup tanggul yang jebol di Sei Kepayang dan mengfungsikan kembali dua pintu sungai yang sebelumnya ditutup.
Koordinator Aksi Atong Sigalingging mengatakan aksi ini dilakukan karena Pemkab Asahan tidak menepati janji.
"Kami kemari meminta Bupati menepati janjinya yang mengatakan akan membongkar aliran air yang dibangun oleh pemerintah pada tahun 1993 ditutup oleh PT Inti Palem Sumatera (IPS) yang mengakibatkan masyarakat kehilangan mata pencarian," katanya dalam orasi.
Katanya ada tiga aliran sungai yang ditutup oleh PT IPS, Ia menuding ditutupnya aliran sungai itu untuk mengamankan perkebunan sawit yang dimiliki oleh PT IPS.
"Itu ada tiga: di Titi Sinupa, Titi Sinapit, dan Titi Air Deras. Lalu dialirkannya air sungai yang dulu masuk ke tiga titik ini ke Desa Perbangunan," jelas Atong Sigalingging.
Kami menuntut agar itu dibuka sebagaimana fungsi awal saat dibangun oleh pemerintah.
Ia juga mengancam bila pemerintah Kabupaten Asahan tidak memberikan solusi, maka massa akan menginap di halaman Kantor Bupati Asahan.
Terpisah, Asisten II Pemkab Asahan, Bambang, menyatakan saat ini alat berat milik Pemkab Asahan sudah dikerahkan ke Sei Kepayang untuk membongkar aliran air.
"Alat berat sudah sampai di simpang empat, saat ini sedang bergerak ke Kecamatan Sei Kepayang," ujarnya.
Ia berharap agar warga tidak anarkis dan tetap kondusif selama menyampaikan aspirasinya.
Sementara ibu-ibu yang ikut dalam aksi tersebut, menangis dan menjerit dikarenakan saat ini lahan padi milik mereka gagal tanam.
"Sudah satu tahun kami tidak panen, desa kami lumbung padi terbesar di kabupaten Asahan. Kami memohon kepada bapak-bapak disini tolonglah kami sebagai warga," teriaknya di depan kantor Bupati Asahan sambil menangis.
Lanjutnya saat ini mereka sedang kebingungan dikarenakan dirumah tidak ada lagi yang bisa dimasak untuk melanjutkan hidup.
"Kami ga minta bantuan pangan, kami minta pemerintah atasi banjir, cuma itu saja biar kami bisa kembali bertani," ujarnya.
Katanya banjir ini merupakan kali kedua di desanya. Yang mana sebelumnya banjir datang di pertengahan tahun 2020.
"Bulan 5 kemarin kami sempat gagal panen. Kali ini kami gagal tanam. Penderitaan apa lagi yang akan kami rasakan," tangisnya.
(cr2/tribun-medan.com)