Jebakan Utang China untuk Negara-negara Kecil di Asia dan Afrika, Timor Leste Jadi Mitra Murah

China dituduh memanfaatkan pinjaman besar-besaran agar dapat merebut aset dan membangun pangkalan militer di negara-negara kecil dunia ketiga.

Editor: AbdiTumanggor
kontan
Presiden China Xi Jinping saat ultah Partai Komunis China ke-70, pada 1 Oktober 2019 lalu. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Upaya China untuk menguasai dunia dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satunya diduga dengan jebakan utang.

China menjebak negara-negara yang lebih kecil dengan meminjamkan sejumlah besar uang yang tidak akan sanggup mereka bayar.

Dengan caranya itu, China dituduh memanfaatkan pinjaman besar-besaran agar dapat merebut aset dan membangun pangkalan militer di negara-negara kecil dunia ketiga.

Negara-negara, mulai dari Asia hingga Afrika, merupakan daftar panjang negara yang berada di bawah perangkap utang yang dipasang oleh China.

Bukan sekadar perkiraan, nyatanya memang sudah ada negara yang menunggak hutang dan dipaksa untuk menyerahkan kendali aset negaranya atau harus mengizinkan China untuk membangun pangkalan militer di negara tersebut.

Ada yang menyebut upaya licik China ini sebagai "diplomasi jebakan utang" atau "kolonialisme utang."

Para analis mengatakan, proyek BRI andalan China, yang diumumkan pada 2013, benar-benar merupakan upaya untuk memperluas pengaruh Beijing di seluruh dunia melalui cara yang adil dan curang.

Proyek tersebut telah menjadi proyek kebijakan luar negeri yang menjadi ciri khas pemimpin tertinggi Tiongkok Xi Jinping.

Tur Xi Jinping ke Guangdong
Tur Xi Jinping ke Guangdong (ist)

Melansir eurasiantimes.com (25/11/2020), BRI membanggakan partisipasi dari sekitar 138 negara dan 30 organisasi internasional, dengan investasi yang diusulkan untuk menghubungkan Asia, Afrika dan Eropa senilai $ 8 triliun.

Proyek ini telah menuai kritik yang luar biasa karena banyak kesepakatan bilateral dan multilateral antara negara-negara peserta terjadi dalam kerahasiaan mutlak.

Lembaga think tank yang berbasis di Washington, Center for Global Development memperingatkan bahwa 23 dari 68 negara yang mendapat manfaat dari investasi Belt and Road secara signifikan atau sangat rentan terhadap tekanan utang.

Laporan tersebut menyoroti sekitar delapan negara - Djibouti, Kyrgyzstan, Laos, Mongolia, Montenegro, Maladewa, Pakistan, dan Tajikistan - yang khususnya berisiko mengalami kesulitan utang.

Di atas kertas, BRI bertujuan untuk mendukung pembiayaan infrastruktur di negara-negara Asia, Eropa, dan Afrika, dengan memberikan triliunan dolar.

Namun, laporan tersebut, yang dikutip di atas, menyatakan “kekhawatiran bahwa masalah utang akan menciptakan tingkat ketergantungan yang tidak menguntungkan pada China sebagai kreditor. Peningkatan utang, dan peran China dalam mengelola masalah utang bilateral, telah memperburuk ketegangan internal dan bilateral di beberapa negara BRI.”

Ketakutan akan jebakan yang digunakan China terhadap negara-negara kecil untuk mendapatkan keuntungan strategis dari mereka terbukti benar ketika Sri Lanka gagal memenuhi kontrak untuk membangun Pelabuhan Hambantota, setelah itu sebuah perusahaan China mendapat sewa 99 tahun sebagai imbalan.

Istilah 'diplomasi jebakan utang' mendapatkan kepercayaan karena risiko teoretis menjadi nyata, dengan desain strategis Beijing menjadi sangat jelas untuk disaksikan semua orang.

“Pemindahan pelabuhan Hambantota ke Beijing di Sri Lanka dipandang setara dengan seorang petani yang berhutang banyak yang menyerahkan putrinya kepada pemberi pinjaman yang kejam,” kata analis strategis India, Brahma Chellaney dalam sebuah artikel.

Korban terbaru dari diplomasi jebakan hutang China adalah negara kecil yang kaya sumber daya yaitu Laos.

Reuters baru-baru ini melaporkan bahwa negara Laos menyerahkan mayoritas kendali jaringan tenaga listrik nasional ke China Southern Power Grid Company, sebuah perusahaan milik negara yang berkantor pusat di Guangzhou.

Cadangan devisa negara dilaporkan telah anjlok di bawah $ 1 miliar.

Hal itu memberikan kesempatan sempurna bagi China untuk menjerat Laos dengan penawaran investasi yang menguntungkan di negara tersebut.

Laos juga tahun ini diturunkan peringkatnya oleh lembaga pemeringkat Moody dari B3 menjadi Caa2, dan prospek negara-negara yang dililit utang diubah dari netral menjadi negatif karena "tekanan likuiditas yang parah."

Negara kecil Asia Tenggara itu telah berjuang untuk membayar kembali pinjaman China, dan akhirnya menyerahkan kendali mayoritas jaringan listrik nasionalnya ke China, dengan utang perusahaan listrik milik negara itu memburuk hingga 26% dari produk domestik bruto.

China telah disalahkan karena telah menjebak banyak negara miskin lainnya dengan menawarkan paket keuangan yang menguntungkan untuk menangkal default langsung, dan sebagai gantinya, mendapatkan kendali strategis pada aset strategis negara.

Negara-negara lain seperti Sri Lanka dan Pakistan telah terjebak dalam lingkaran setan mengambil pinjaman baru dari China dan membayar pinjaman lama sambil dipaksa untuk berkompromi pada aset strategis mereka.

Timor Leste Benar-benar Jadi Mitra Murah yang Sempurna Bagi China

Bahkan, baru-baru ini, China dikabarkan memberikan pinjaman dengan angka fantastis kepada negara-negara yang membutuhkan.

Selanjutnya, cara membayarnya adalah dengan apa pun yang dimiliki negara tersebut.

Isu ini semakin ramai karena Indonesia tengah dikabarkan berhutang kepada China.

Sebenarnya jebakan utang China ini bukanlah hal yang baru.

Sebagai negara yang sangat ingin diakui sebagai negara maju, China sudah berulang kali lakukan berbagai cara untuk lebarkan sayapnya untuk memberi pengaruh di dunia.

Negara Asia-Pasifik tidak luput dari perhatian mereka.

Serta, negara-negara di Asia Tengah maupun Asia Selatan, yang ekonominya masih terbilang belum maju.

Tindakan China ini merupakan bagian dari rencana besarnya untuk membangun jalur sutra baru.

Disebut dengan program Belt and Road Initiative, program ini merupakan upaya China membangun jalur perdagangan baru lewati seluruh Asia untuk mencapai Eropa.

Gunanya adalah agar produk mereka bisa bersaing di pasar internasional.

Cara untuk 'membeli' negara-negara yang akan dijadikan bagian dari jalur sutra tersebut adalah dengan memberi mereka utang untuk membangun negara mereka.

Belt and Road Initiative atau One Belt One Road yang dibangun China lewat jalur sutra darat dan laut
Belt and Road Initiative atau One Belt One Road yang dibangun China lewat jalur sutra darat dan laut.

Semenjak Presiden Xi Jinping menjabat pada tahun 2010 lalu, program Belt and Road Initiative sudah diajukan pada tahun 2013.

Namun jebakan utang itu baru mulai terasa sekarang.

Salah satunya adalah di negara tetangga Indonesia ini, yaitu Timor Leste.

Mengutip pemberitaan di The Diplomat pada November 2016, tercatat pada 13 September 2016, pemerintah Timor Leste memberi izin bagi Menteri Keuangan untuk memulai proses bergabungnya Timor Leste dengan Bank Investasi Infrastruktur Asia di Beijing.

Tindakan itu sudah pasti digunakan untuk menguatkan hubungan China dan Timor Leste.

Kesepakatan ini juga terjadi sebulan sebelum Forum Konferensi Menteri Kelima di Macau dilaksanakan.

Dalam forum tersebut pejabat senior dari China dan semua negara berbahasa Portugis, termasuk Timor Leste, diundang.

Jelas-jelas hal tersebut merupakan upaya untuk mempromosikan hubungan dan perdagangan lebih baik.

Timor Leste merupakan negara termuda di Asia dan termasuk negara termiskin di Asia Pasifik, terutama jika dibandingkan negara-negara Asean.

Kolonisasi pertama oleh Portugal dari 1701 sampai 1975, kemudian disusul pasukan Indonesia mendarat di pantainya beberapa minggu setelah warga Portugal pergi.

Indonesia menahan kekuasaan di Timor Leste selama 24 tahun, tapi gagal karena sepertiga populasi disebut meninggal dari eksekusi, kelaparan atau penyakit. Akhirnya Timor Leste merdeka pada tahun 2002.

Sejak merdeka, Timor Leste menjaga hubungan dengan mitra terdekat yaitu Australia dan Indonesia, tapi hubungan dengan Australia memburuk karena masalah perbatasan di Laut Timor.

Kasus tersebut sudah dibawa sebelumnya ke komisi konsiliasi PBB di Den Haag, sedangkan tahun 2015, Timor Leste juga menuduh Australia memata-matai pejabat pemerintahan mereka.

Selama wawancara di Radio Australia tahun 2014, mantan deputi perdana menteri Timor Leste, Estanislau da Silva, umumkan: kami memiliki tetangga sepetti Indonesia dan Australia, tapi kami juga ingin memiliki hubungan dekat dengan negara lain, terutama China. China telah sangat, sangat suportif."

Memang, China jor-joran dalam menyediakan dana untuk kemerdekaan Timor Leste saat kependudukan Indonesia, tidak seperti pemerintah Barat lainnya, dan mendukung gerakan di Dewan Keamanan PBB pada akhir tahun 1970 saat banyak negara Barat absen dari voting penting sampai bertahun-tahun kemudian.

China juga negara pertama yang lakukan hubungan diplomatik dengan Timor Leste tahun 2002.

Beberapa tahun terakhir, China telah membangun bangunan kantor untuk Kementerian Menteri Luar Negeri, Kementerian Pertahanan dan Militer Timor Leste, serta Istana Kepresidenan.

Lebih dari seribu PNS di Timor Leste telah mengunjungi China untuk pelatihan, sementara ribuan teknisi China telah melatih rekan mereka dalam metode pertanian terkini, perencanaan wilayah, turisme dan lain sebagainya.

Namun kerjasama persahabatan itu rupanya lebih menguntungkan China, dengan impor yang lebih murah bagi mereka serta tempat lapang untuk para penduduk China yang sudah melebihi batas.

Saat invasi Indonesia terjadi pada 1975, diestimasi ada 20 ribu etnis China tinggal di Timor Leste, terutama di ibu kotanya, tapi saat kependudukan tersebut banyak yang pindah ke Australia, Filipina atau kembali ke China.

Tahun 2002, hanya ada 2000-3000 warga China yang tinggal di Timor Leste, dan kondisi antara komunitas lokal dan komunitas China menjadi tegang.

Penulis artikel bernama David Hutt, berbicara kepada warga China yang memiliki toko perangkat keras di Dili hampir 10 tahun tapi jarang bersosialisasi dengan warga Timor Leste dan pilih bergaul dengan komunitas China.

Di kota Maubisse, ada segelintir teknisi China yang bekerja di proyek perkembangan lokal, mengatakan "aku tidak suka negara ini, aku ingin pulang".

Rekan Timor Leste dari penulis mengatakan ia hanya berbicara kepada warga China saat makan di restoran China di Dili.

Warga Timor Leste sering curiga dan kadang yakin jika China, terutama ekspat yang baru-baru saja masuk, hanya mencari keuntungan di Timor Leste.

Banyak ahli yang kemudian masih meragukan kebaikan China akan terus mengucur ketika minyak Timor Leste sudah habis, perlu diragukan juga bagaimana Timor Leste akan membayar utang mereka.

Tautan Artikel:

Jebakan Utang China Kembali Makan Korban, Negara Kecil Kaya Sumber Daya di Asia Tenggara Ini Pasrah Serahkan 'PLN' Miliknya karena Gagal Bayar Utang

Timor Leste Benar-benar Jadi Mitra Murah yang Sempurna Bagi China, Ribuan Tenaga Kerjanya Sudah Disebar di Bumi Lorosae, Jebakan Utang pun Sudah Siap Menjerat

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved