TRIBUN-MEDAN-WIKI: Mengenal Mamiang Bagas pada Etnis Mandailing

Tradisi angkat rumah secara beramai-ramai di masyarakat etnis Mandailing, dikenal dengan sebutan Mamiang Bagas.

Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN / HO
Tradisi angkat rumah secara beramai-ramai di masyarakat etnis Mandailing, yang dikenal dengan sebutan Mamiang Bagas. 

Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Lain etnis, lain pula tradisi yang berkembang. Begitu juga tradisi yang berkembang di kalangan masyarakat Sumut.

Satu di antaranya tradisi angkat rumah secara beramai-ramai di masyarakat etnis Mandailing, yang dikenal dengan sebutan Mamiang Bagas.

Rumah dipindahkan ke lokasi yang baru, pola ini sebagai pertanda bahwa sifat gotong royong masih terjaga pada etnis Mandailing.

Menurut Serlis Lubis, seorang beretnis Mandailing yang tinggal di Kecamatan Kota Nopan, Kabupaten Mandailing Natal, biasanya kegiatan Mamiang Bagas diumumkan di masjid yang ada di desa tersebut, tepatnya seusai salat Jumat.

Para jamaah pun sudah memahami, jika di antara petugas masjid langsung berdiri di depan dan menyampaikan hal Mamiang Bagas.

Mamiang Bagas atau mengangkat rumah ini sudah turun temurun dari para leluhur etnis Mandailing.

Pada tradisi ini, puluhan orang mengangkat sebuah rumah kayu ke tempat baru.

Suara teriakan para pengangkat rumah ini terdengar bersahut-sahutan membuat suasana semakin riuh.

Nah, warga harus memanggul rumah kayu ini secara bersamaan. Tak jarang warga harus berkali-kali menurunkan rumah karena terlalu berat, lalu diangkat kembali.

Untuk sampai di tujuan, bisa memakan waktu hingga berjam-jam, apalagi jika lokasi yang baru melewati jalanan sempit.

Setelah rumah panggung berhasil dipindahkan ke lokasi yang baru, kegiatan dilanjutkan dengan acara syukuran.

Tujuannya agar rumah yang baru saja dipindahkan terhindar dari bencana dan malapetaka.

Tradisi Mamiang Bagas diakhiri dengan acara makan bersama sebagai bentuk ikatan silaturahmi kekerabatan yang erat antarwarga.

Makan bersama ini sekaligus ungkapan terima kasih dari pemilik rumah kepada semua warga yang telah bersedia meluangkan waktu dan tenaga membantu memindahkan rumahnya.

Namun, seiring waktu tradisi ini sudah tidak sekental pada masa lalu.

Hal ini dikarankan berkembangnya zaman dan modernitas pada struktur bangunan.

Bangunan saat ini tidak lagi terbuat dari kayu, melainkan sudah dari batu dan semen.

Akan tetapi, tradisi ini tidak punah sama sekali. Masih ada ditemui tradisi Mamiang Bagas di perkampungan-perkampungan kecil.

Menurut Serlis Lubis, tradisi Mamiang Bagas ini memiliki filosofi untuk menjaga satu kesatuan dalam bergotong royong.

Nilai gotong royong ini sudah lama ditanamkan para leluhur etnis Mandailing sejak dahulu. Tak lain bertujuan untuk megikat tali persaudaraan yang utuh.

Sumber :

- Serlis Lubis sebagai warga Mandailing Natal yang beretnis Mandailing

(cr22/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved