Targetkan Produksi Beras 20 Juta Ton, Kementan Lakukan Pengembangan Lahan Rawa di Kalteng
Sementara yang kita konsumsi biasanya pada Januari hingga Agustus sekitar 14 hingga 15 juta ton.
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang | Editor: Eti Wahyuni
TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Kementerian Pertanian menargetkan bisa menghasilkan 17 hingga 20 juta ton beras pada Musim Tanam Kesatu (MT-1) 2021 yang berlangsung Oktober 2020 hingga Maret 2021. Penanaman dilakukan dengan luasan 8,2 juta hektare.
Luasan ini dibagi dalam 33 provinsi. Ada delapan provinsi andalan yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Utara. Selain itu ada sembilan provinsi utama dan 16 provinsi penyangga.
Baca juga: Bulog Rampungkan Penyaluran Bansos Beras hingga Oktober
"Harapan kita di MT-1 2021 itu, Insya Allah hasilnya antara 17 hingga 20 juta ton beras. Sementara yang kita konsumsi biasanya pada Januari hingga Agustus sekitar 14 hingga 15 juta ton. Berarti masih ada carry over," ujar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo secara virtual, Senin (9/11/2020).
Untuk peningkatan ketahanan pangan, Kementan juga memiliki lima Cara Bertindak (CB) tambahan selain MT I dan MT 2. Pada CB 1 dalam upaya peningkatan kapasitas produksi, Kementan melakukan pengembangan lahan rawa di Kalimantan Tengah sebanyak 164 ribu hektare.
"Kami masuk pada lahan rawa sesuai petunjuk dan perintah Presiden agar menyiapkan cadangan terus. Dari cadangan itu kami masuk ke lahan rawa yang ada di Kalimantan Tengah sekitar 164 ribu hektare," katanya.
Kemudian ada perluasan areal tanaman baru kurang lebih 250 ribu hektare untuk padi, jagung, bawang merah, dan cabai merah di daerah difisit yang coba diintervensi. Ada pula peningkatan produksi yang diharapkan dari gula, daging sapi, dan bawang putih untuk mengurangi ekspor.
"Pada CB2 adalah pengembangan diversifikasi pangan lokal artinya kenyang tidak hanya dengan beras. Oleh karena itu diversifikasinya ada ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang, sorgum, talas, dan lain-lain. Kemudian ada pemanfaatan lahan pekarangan dan marjinal melalui program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dan urban farming khususnya di kota," katanya.
Kemudian melalui CB3, Kementan juga melakukan penguatan cadangan pangan dengan pembuatan lumbung pangan nasional, provinsi, kabupaten, hingga desa. Selain itu melakukan penguatan sistem logistik pangan nasional untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan.
"Untuk CB4 kami melakukan pengembangan pertanian modern yakni melalui pengembangan smart farming, pengembangan dan pemanfaatan screen house untuk meningkatkan produksi komoditas holtikultura di luar musim tanam seperti cabai, bawang, dan komoditas bernilai tinggi lainnya. Selain itu dilakukan pengembangan food estate untuk peningkatan produksi pangan utama (beras/jagung) di Kalteng. Kemudian juga melakukan pengembangan korporasi pertanian," imbuhnya.
Melalui CB5, Kementan melakukan Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks). Ada pun yang dilakukan yakni meningkatkan volume ekspor melalui kerjasama dan investasi dengan Pemda dan stakeholder terkait, menambah ragam komoditas ekspor dalam bentuk olahan hasil pertanian, mendorong pertumbuhan eksportir baru melalui penumbuhan agropreneur, dan menambah mitra dagang luar negeri melalui kerja sama bilateral dan multilateral.
Ia mengatakan, ada 11 komoditi yang selalu dijaga, yakni beras, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai rawit, daging sapi atau kerbau, daging ayam ras, telur ayam ras, gula pasir, dan minyak goreng. Hingga akhir tahun 2020 ia memastikan komoditi tersebut cukup.
"Insya Allah sesuai dengan prediksi kita sampai Desember 2020 ini aman. Ada pun 11 komoditi dasar ini sudah kita siapkan dan Insya Allah bisa terjamin hingga 2020 kita lewati. Tapi saya mempersiapkan segalanya bukan hanya sampai Desember namun sampai dua tahun ke depan. Apalagi dalam menghadapi pandemi ini," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/petani-panen-padi.jpg)