TRIBUN-MEDAN-WIKI: Mengenal Tradisi Tepuk Tepung Tawar di Sumut

Sejarawan Medan Muhammad Azis Rizky Lubis, tradisi Tepuk Tepung Tawar merupakan salah satu bagian prosesi yang sakral dalam upacara adat Melay

Editor: Juang Naibaho
Istimewa
Tradisi Tepuk Tepung Tawar 

Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Sumatera Utara merupakan provinsi yang heterogen. Jadi, wajar saja tradisi-tradisi setiap etnis berkembang.

Satu di antaranya Tepuk Tepung Tawar yang dikenal sebagai tradisi etnis Melayu di Sumatera Utara.

Tradisi ini tak hanya terdapat di Sumut, tapi juga masih dilestarikan etnis Melayu yang ada di Riau dan Kepulauan Riau.

Menurut Sejarawan Medan Muhammad Azis Rizky Lubis, tradisi Tepuk Tepung Tawar merupakan salah satu bagian prosesi yang sakral dalam upacara adat budaya Melayu.

Kini, tradisi Tepuk Tepung Tawar masih lestari di tengah – tengah masyarakat Sumatera Utara.

Kegiatan ini dilakukan dalam berbagai macam acara, seperti pernikahan, khitan, syukuran mau berangkat haji dan lain–lain.

Tradisi ini merupakan upacara wujud syukur dan menjalin silahturami antar saudara atau keluarga.

Lalu, dalam tradisi adat ini memberikan dampak ekonomi kepada pelaku usaha setempat yakni pedagang bunga, karena Tepuk Tepung Tawar menggunakan bunga.

Dilansir dari artikel yang dimuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayan, tradisi Tepuk Tepung Tawar dilakukan sebagai wujud rasa syukur masyarakat Melayu, setelah mereka merasakan nikmat dari Allah SWT. Entah itu nikmat sehat, nikmat rizki ataupun lainya.

Biasanya upacara ini dilakukan pada dua ketentuan, baik pada manusia maupun pada benda.

Berdasarkan makna ritual tepuk tepung tawar bagi masyarakat Suku Melayu ada pepatah mengungkapkan “Kalau buat keje nikah kawin, kalau belum melaksanakan acara tepuk tepung tawar (dalam bahasa melayu: ketik tepung tawo) belum sah (afdhal) acara yang dilaksanakan”.

Seiring dengan perkembangan zaman, pelaksanaan tradisi tepuk tepung tawar yang dilakukan oleh masyarakat Melayu juga mengalami perubahan pada sebagian ritualnya.

Perubahan makna yang terjadi bagi masyarakat Melayu sebenarnya berkaitan juga dengan perubahan dari individu pendukung adat dan budaya itu sendiri.

(cr22/Tribun-medan.com)

Sumber:

- Sejarawan Medan Muhammad Azis Rizky Lubis

- Artikel Bertajuk Tepung Tawar Riau, Tradisi wujud Syukur Masyarakat Melayu yang diterbitkan Kemeneterian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved