Cerita Petani Samosir Betapa Susahnya Mendapat Pupuk Subsidi
Jatah pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Samosir sejak Januari-September 2020 hanya 3.327 Ton saja dan keseluruhannya sudah tersalur.
Penulis: Arjuna Bakkara |
TRIBUN-MEDAN.COM, SAMOSIR - Ama Santa Turnip mengeluh ketika ditemui di perladangan miliknya di Desa Sari Marrihit, Kecamatan Sianjur Mula-mula Kabupaten Samosir, Rabu (7/10/2020).
Ama Santa satu dari sekian petani yang terkena dampak buruk dengan lenyapnya pupuk subsidi sejak Agustus 2020 lalu mengaku kecewa.
"Sudah dua bulan terakhir pupuk subsidi yang kami butuhkan tidak ada," ujar Ama Santa.
Sehari-hari Ama Santa bercocok tanam bawang, padi dan cabai. Ditemui Tribun Medan Ama Santa dan istrinya sedang menyiangi kebun cabainya yang sudah mulai berbuah.
Menurut Ama Santa, pada musim ini mereka terkendala menabur pupuk. Hal itu dibenarkan istrinya, bahwa sejumlah petani lain di Desa Sari Marrihit, Kecamatan Sianjur Mulamula Kabupaten Samosir mengalami hal yang sama.
Sejauh ini, kata Ama Santa ada pun pupuk yang paling sulit diperoleh yakni jenis Ponska. Pupuk lain yang juga menjadi kebutuhan mereka yakni urea/garam, dan S.P 36.
Hingga saat ini, ketersediaan pupuk yang sangat dibutuhkan petani tidak ditemukan pada penyalur-penyalur pupuk resmi di Samosir khususnya di Sianjur Mula-mula. Kalau pun ada, harga sudah sangat jauh berbeda dengan pupuk bersubsidi.
"Non subsidi memang ada, tapi harganya jauh berbeda,"sebut Ama Santa.
Ama Santa berujar, harga pupuk Ponska bersubsidi biasanya dapat diperoleh dengan harga Rp 135.000 per karung dengan timbangan 50 Kg. Sedangkan saat ini, harga Ponska di toko-toko pupuk mencapai Rp 450.000-Rp 500.000 per karung.
"Untuk harga per karung, harga bisa lebih dua kali lipat harga subsidi,"ucap Ama Santa.
Demikian juga dengan pupuk ZA, S.P 36 bersubsidi pada harga kisaran Rp 150.000. Sedangkan harga non subsidi mencapai Rp 350.000- Rp 500.000.
Untuk tanaman padinya sendiri, Ama Santa mengusahai seluas "4 rante" atau 100 meter persegi. Seperti biasa, Ama Santa mampu membutuhi pupuk jenis Ponska 1 sak/karung rngan Rp 135.000, urea/garam 1 sak/karung Rp.105.000, S.P 36 1 sak Rp. 135.000 yang masing-masing seberat 50 Kg. Berhubung pupuk subsidi sulit diperoleh dan non subsidi mencapai harga Rp. 450.000-Rp.500.000 per karung.
Otomatis, kata Ama Santa penggunaan pupuk untuk tanamannya saat ini jauh dari dosis yang seharusnya. Dampaknya, hasil dan kualitas tanaman pun menjadi kurang produktif karena harus mengirit pupuk.
"Dampak ke tanaman. Yang jelas lebih jago yang subsidi karena lebih gampang. Herannya kami, pupuk non subsidi bisa tak langka. Tapi yang subsidi kok bisa langka, ada apa," sebut Ama Santa.
Hengson Nainggolan Petani lainnya ditemui di ladangnya menyampaikan hal serupa seperti yang dikeluhkan Ama Santa. Hengson berkata, sampai saat ini pupuk yang paling sulit mereka peroleh adalan jenis Ponska.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ama-santa-nainggolan-satu-dari-sekian-petani-yang-ditemui-tribun-medan.jpg)