Arogannya Pilot China saat Dicegat Jet Tempur Taiwan, Habiskan Rp 13 Triliun Mengusir Penyusup

Militer Taiwan menghabiskan uang hampir 900 juta dollar AS (Rp 13,3 triliun) tahun ini untuk mengusir pesawat China yang masuk ke ruang udaranya.

Editor: Tariden Turnip
CNA
Arogannya Pilot China saat Dicegat Jet Tempur Taiwan, Habiskan Rp 13 Triliun Mengusir Penyusup. Jet tempur Taiwan bayangi pesawat pembom China 

Beginilah Arogannya Pilot Pesawat China saat Dicegat Jet Tempur Taiwan: Taiwan Jangan Ganggu Kami

Pesawat Angkatan Udara China (People's Liberation Army Air Force/PLAAF) tak henti menerobos ruang pertahanan udara Taiwan sejak pertengahan September 2020.

Terbaru Rabu (7 Oktober 2020), jet tempur Taiwan mencegat pesawat PLAAF yang terdeteksi masuk ke  melanggar zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Taiwan.

Tak seperti biasa, kali ini percakapan pilot jet tempur Taiwan dan pilot pesawat China ini diungkap ke publik oleh akun facebook pemantau pergerakan pesawat Southwest Airspace of TW, Rabu (7 Oktober 2020).

Menurut akun facebook ini, pencegatan itu terjadi pada pukul 5:20 pagi hari, ketika pesawat China terbang di ketinggian 7.000 meter di sudut barat daya ADIZ Taiwan.

Pada Rabu pagi pukul 9:31 pagi, halaman Facebook pengintai pesawat Taiwan Wilayah Udara Barat Daya TW memposting audio pertukaran antara pesawat PLAAF dan jet tempur Angkatan Udara Taiwan

Dalam rekaman tersebut, seorang pilot pesawat tempur Taiwan terdengar menyiarkan peringatan standar.

''Republic of China Air Force broadcast. Attention communist Chinese aircraft located in the southwest airspace of Taiwan at an altitude of 7000 meters! You have entered our ADIZ, which affects our flight safety, turn around and leave immediately!”

"Siaran Angkatan Udara Republik China. Perhatian pesawat komunis China sudah berada di wilayah udara barat daya Taiwan pada ketinggian 7000 meter! Anda telah memasuki ADIZ kami, yang memengaruhi kami keselamatan penerbangan, berbalik dan segera pergi! "

Jet tempur F-16 Taiwan
Jet tempur F-16 Taiwan (cna)

Pada saat bersamaan, tiga pesawat mata-mata Amerika, Boeing KC-135 Stratotanker Angkatan Udara AS kembali dari misi di Laut China Selatan dan melewati Selat Bashi dan kembali ke Pangkalan Udara Kadena di Okinawa.

Kehadiran tiga pesawat mata-mata Amerika, Boeing KC-135 Stratotanker Angkatan Udara AS  juga dipantau akun twitter SCS Probing Initiative yang dianggap merupakan akun mata-mata Beijing.

Tidak seperti pertemuan sebelumnya di mana pilot pesawat China biasanya tidak bersuara, kali ini pilot pesawat PLAAF menanggapi dengan siaran radionya sendiri.

"Taiwan Area, I am the Chinese People's Liberation Army. I am undergoing routine training. Please do not interfere with my normal operations!" 

"Wilayah Taiwan, saya adalah Tentara Pembebasan Rakyat China. Saya sedang menjalani pelatihan rutin. Tolong jangan mengganggu operasi normal saya! "

Di latar belakang, deru baling-baling terdengar menunjukkan bahwa pesawat itu kemungkinan adalah pesawat perang anti-kapal selam PLAAF Shaanxi Y-8, jenis yang sama yang telah memasuki ADIZ Taiwan secara teratur sejak pertengahan September.

Pesawat pemantau kapal selam China Y-8 yang kerap melanggar ruang udara Taiwan
Pesawat pemantau kapal selam China Y-8 yang kerap melanggar ruang udara Taiwan (MND)

Administrator halaman Facebook Southwest Airspace of TW yang bermarga Hsu mencatat bahwa tanggapan yang ditunjukkan militer China ini makin agresif.

Sebelumnya tanggapan pesawat PLAAF jauh lebih sederhana dengan pesan seperti "misi dalam proses" dan tidak pernah menggunakan istilah "pelatihan" atau "Wilayah Taiwan."

Hsu percaya bahwa ini merupakan indikasi bahwa China "dengan jelas menganggap wilayah udara barat daya sebagai miliknya dan menganggap intersepsi oleh Angkatan Udara Taiwan sebagai gangguan.

''Kami harus memperhatikan tren ini."

Habiskan Rp 13 Triliun Usir Pesawat China  

Militer Taiwan telah menghabiskan uang hampir 900 juta dollar AS (Rp 13,3 triliun) tahun ini untuk mengerahkan angkatan udaranya mengusir pesawat China yang masuk zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Taiwan.

Menteri pertahanan Taiwan, Yen Teh-fa mengungkapkan biaya pertahanan negara itu pada Rabu (7/10/2020), seperti yang dilansir dari Reuters pada hari yang sama, menggambarkan bahwa tekanan yang mereka hadapi dari China adalah sesuatu yang "besar".

Taiwan yang telah memisahkan diri sejak perang saudara dan mendeklarasikan sebagai negara demokratis, diklaim China sebagai wilayahnya sendiri.

China telah meningkatkan aktivitas militernya di dekat pulau itu, menanggapi kerja sama antara Taiwan dan Amerika Serikat, yang disebut China sebagai "kolusi".

Berbicara di parlemen, Yen mengatakan kepada angkatan udara bahwa mereka telah berusaha 2.972 kali melakukan perlawanan terhadap serangan pesawat China tahun ini, dengan biaya tidak kurang dari 886,49 juta dollar AS (Rp 13,070 triliun).

Namun, kemudian dia mengklarifikasi bahwa misi angkatan udara Taiwan pada tahun ini total ada 4.132, sebagaimana tercantum dalam makalah briefing parlemen kementerian, termasuk pelatihan dan misi patroli reguler.

“Akhir-akhir ini tekanannya luar biasa. Mengatakan sebaliknya akan menipu orang,” kata Yen, tanpa memberikan angka perbandingan tahun lalu.

Yen mengatakan bahwa angkatan bersenjata bulan ini akan melakukan latihan mereka sendiri di lepas pantai barat daya Taiwan, meski pun mereka tidak akan menembak secara langsung.

Angkatan bersenjata Taiwan terlatih dengan baik dan diperlengkapi persenjataan yang cukup baik, tetapi dikerdilkan oleh pasukan China.

Kementerian Pertahanan Taiwan sebelumnya telah mengakui ketegangan yang ditimbulkan oleh latihan berulang China yang menargetkan pertahanan Taiwan.

Saat ini, Yen mengungkapkan bahwa pihaknya sedang dalam proses pembenahan armada tempurnya.

Amerika Serikat tahun lalu menyetujui penjualan jet tempur F-16 senilai 8 miliar dollar AS (Rp 117,9 triliun) ke Taiwan, kesepakatan yang akan membuat jumlah total pesawat di pulau itu menjadi lebih dari 200.

Ini artinya Taiwan menjadi negara terbesar pemilik F-16 di Asia.

Penambahan belanja pertahanan Taiwan meningkat pesat hingga 1,25 miliar dollar AS (Rp 18 triliun), namun dinilai masih kurang tangguh untuk menghadapi ancaman dari China.

Hal itu diungkapkan oleh seorang pejabat senior Amerika Serikat sebagaimana dilansir dari Reuters, Rabu (7/10/2020).

Pada Agustus, kabinet Taiwan mengusulkan anggaran senilai 15,24 miliar dollar AS (Rp 224 triliun) untuk kebutuhan militer tahun depan.

Usulan tersebut meningkat dibandingkan anggaran tahun lalu yakni senilai 13,99 miliar dollar AS (Rp 206 triliun) untuk kebutuhan militer tahun ini.

Usulan tersebut merupakan tanggapan karena China semakin meningkatkan aktivitas militernya di dekat Taiwan.

Asisten menteri pertahanan AS untuk Asia Timur, David Helvey, mengatakan bahwa tindakan militer China adalah ujian bagi kemampuan dan kesiapan Taiwan untuk menanggapi “paksaan”.

Dia mengatakan hal tersebut dalam konferensi industri pertahanan yang diselenggarakan oleh Dewan Bisnis AS-Taiwan secara online.

Dia menambahkan di samping aksi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China yang berbahaya, PLA memang tidak terkalahkan. 

“Taiwan bisa, melalui investasi yang cerdas, mengirimkan sinyal yang jelas kepada Beijing bahwa rakyat Taiwan dan tentaranya benar-benar berkomitmen mempertahankan Taiwan,” kata Helvey.

Dia mengomentari bahwa peningkatan anggaran belanja militer Taiwan sudah berada pada jalur yang tepat.

“Namun tidak cukup untuk memastikan bahwa Taiwan dapat memanfaatkan geografi, teknologi canggih, tenaga kerja, dan populasi patriotiknya untuk menyalurkan keunggulan inheren Taiwan yang diperlukan untuk pertahanan yang tangguh,” sambung Helvey.

Dia menambahkan Taiwan harus terus menyeimbangkan investasi pertahanannya melalui pengembangan dalam negeri dan pembelian dari luar negeri.

Di sisi lain, Taiwan juga harus menghindari investasi yang berlebihan dalam sektor yang tidak mengembalikan return yang baik untuk sumber daya yang terbatas.

Dia mengatakan AS mendorong Taiwan untuk berinvestasi dalam "sejumlah besar kemampuan kecil" yang akan menandakan bahwa " invasi atau serangan tidak akan datang tanpa biaya yang signifikan."

Investasi tersebut seperti rudal jelajah pertahanan pantai sebanyak mungkin dan kemampuan lain untuk membantu mempertahankan daerah pesisir dan pantai, termasuk pertahanan udara jarak pendek, ranjau laut, kapal serang cepat, artileri swagerak, dan aset penginderaan yang canggih.

Helvey juga mengatakan Taiwan perlu memperkuat pasukan cadangannya dengan pelatihan yang juga diperkuat.

Bulan lalu, seorang sumber mengatakan kepada Reuters bahwa AS berencana untuk menjual sebanyak tujuh sistem alat utama sistem pertahanan ( alutsista) termasuk ranjau, rudal jelajah, dan drone ke Taiwan.

Artikel ini dikompilasi dari taiwannews dan dari kompas.com berjudul: Taiwan Gelontorkan Uang Hampir Rp 13,3 Triliun untuk Lawan Serangan Udara China", "Anggaran Militer Taiwan Naik Rp 18 Triliun, Tapi Belum Cukup untuk Lawan China"

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved