Ibu-ibu Latihan Buat Eco-enzyme dari Sampah Organik
eco-enzyme merupakan hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran, gula dan air
TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Jika Anda memiliki sampah-sampah organik jangan dibuang dulu, karena ternyata masih banyak manfaatnya guna mendukung aktivitas sehari-hari. Misalnya dengan membuat eco-enzyme yakni cairan yang diproduksi dari fermentasi sampah organik.
Pertamina melalui Marketing Operation Region (MOR) I Sumbagut menyelenggarkan pelatihan pembuatan eco-enzyme bersama kelompok warga di lingkungan 24 Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan, Medan, Rabu (30/9/2020).
Kelompok warga ini terdiri dari lebih kurang 15 orang ibu-ibu rumah tangga. Pada saat pelatihan, mereka tampak antusias. Ada pun beberapa sampah organik yang digunakan adalah kulit melon, kulit bengkoang, kulit jambu, dan kulit pepaya.
• Ahok Dituduh Bikin Gaduh BUMN hingga Anggota DPR RI Minta Komisaris Utama Pertamina Dicopot
Para peserta tetap menerapkan protokol kesehatan. Mereka memakai masker dan menjaga jarak. Selain itu para peserta juga menggunakan celemek dan sarung tangan guna menjaga kebersihan.
Peserta pelatihan pembuatan eco-enzyme, Mulyani mengaku senang bisa mengikuti pelatihan pembuatan eco-enzyme ini. Dengan mengikuti pelatihan ini, ia mengaku pengetahuannya semakin bertambah. Mulyani berharap ke depannya bisa memproduksi eco-enzyme guna menambah pemasukannya.
Dalam kesempatan yang sama, CDO (community development officer) Fuel Terminal Medan Group, Nurul Azmi mengatakan, program pengelolaan sampah yang berlokasi di Fuel Terminal (FT) Medan Group ini dimulai sejak tahun 2018 hingga saat ini, dan untuk pelatihan pembuatan eco-enzyme ini saja sudah dilaksanakan sebanyak dua kali.
"Ada beberapa program di lingkungan ini, yakni ecobrick, bank sampah, dan eco-enzyme yang masih pelatihan ini. Kita berharap para peserta yang sudah kita latih ini juga bisa menyebarkan ilmunya," ujar Nurul.
Unit Manager Comm, Rel & CSR MOR I, M Roby Hervindo menjelaskan, eco-enzyme merupakan hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran, gula dan air.
Diakuinya, eco-enzyme juga bisa berfungsi sebagai cairan pembersih kaca dan kamar mandi. Eco-enzyme juga efektif membunuh bakteri dan kuman, sehingga dimanfaatkan sebagai disinfektan.
Cairan ini sangat tidak disukai kecoa, semut, lalat dan nyamuk. Sehingga cocok dipakai sebagai pengusir hama. Selain itu, bisa juga dipakai sebagai pupuk tanaman. Dengan mencampurkan air secukupnya, dan eco-enzyme bisa jadi pupuk organik.
"Kami berharap program pengelolaan sampah terpadu ini bisa menjadi salah satu solusi masalah sampah. Sampah anorganik dikelola dengan ecobrick. Sampah organik diolah melalui eco-enzyme. Sehingga berdampak positif bagi lingkungan, sekaligus dapat bernilai ekonomis," ujar Roby.
Dalam kegiatan pelatihan ini, turut hadir Humas Roda Hijau, Nona Khairunisa. Ia mengatakan sampah organik yang tidak bisa dijadikan untuk eco-enzyme adalah sayur kol, sawi, biji-bijian dan umbi-umbian. Diakuinya cara membuat eco-enzyme cukup sederhana, hanya perlu menyiapkan sampah organik, molase atau bisa diganti gula merah dan air yang tidak mengandung klorin.
"Perbandingan pembuatan eco-enzyme 1:3:10, yaitu 1 gula merah, 3 sampah organik, dan 10 air. Lalu ditutup secara rapat, tiap hari selama dua Minggu wadah dibuka sedikit saja lalu ditutup kembali. Kemudian dibiarkan selama 100 hari, lalu cairan tersebut bisa digunakan," ujar Nona.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pengolahan-sampah-organik.jpg)