KISAH PILU Wanita Penderita Kanker Payudara, Suami Tukang Becak, Tinggal di Rumah Kontrakan
Suamiku saat ini lagi nyari uang entah dari mana-mana, yang penting halal.
Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Salomo Tarigan
T R IBUN-MEDAN, Medan - Setelah dibiopsi (pemeriksaan laboratorium) pada masa puasa di bulan Mei 2020, Ningsih merasakan bahwa kanker payudaranya semakin parah.
Karena keadaannya yang makin parah, dia pun kerap putus asa.
Putus asanya tetap di lawannya dengan doanya agar Tuhan kirimkan orang yang berbelas kasih yang bisa membantunya.
Dalam pikirannya bagaimana bisa sembuh dan melihat anaknya sekolah.
Hingga kini, Mega Ningsih (46) sering mengalami pendarahan, bahkan hampir tiap hari.
"Pendarahannya hampir tiap hari, saya cuman bisa balut dengan tisu saja. Gimana mau dibuat uang tidak ada," ujarnya dengan nada lesu saat disambangi di kediamannya pada Minggu (30/8/2020) di Jalan Veteran, Pasar VI, Dusun IX, Desa Manunggal, Helvetia.
Dia juga menuturkan bahwa pendarahannya bisa terjadi hingga empat kali sehari, namun dia hanya bisa menutup pendarahannya dengan tisu dan kain seadanya.
Harus bertempat tinggal di rumah orangtua bersama kakaknya karena keluarganya tidak sanggup mengontrak rumah.
Pasalnya, suami Mega Ningsih pun dalam keadaan sakit sehingga kebutuhan keluarga pun sering sekali tergantung dari kemurahan hati para tetangga.
"Kalau nyayur pun kadang-kadang tetangga yang ngasih. Suamiku saat ini lagi nyari uang entah dari mana-mana, yang penting halal. Biaya tisu sama obat parasetamol pernah hari pun kadang minta dari tetangga," sambungnya.
Hari-harinya habis untuk berjuang menahan sakitnya kanker payudaranya, yang setiap membuahkan rasa sakit.
"Tiap saat sakit, denyut-denyut, dan enggak bisa disenggol dikit, langsung pendarahan, gitulah tiap hari," terangnya.
Beban pikirannya pun bertambah lantaran anaknya masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan tetap butuh biaya, sementara kebutuhan sehari-hari pun lebih sering berharap pada bantuan orang lain.
"Malu sebenarnya kalau terus-terus dibantu orang, aku ingin berusaha sendiri, namun akun tidak sanggup, suamiku pun sudah pernah struk, dan ditabrak orang saat narik becak, makanya dia pun syukur kalau bisa bawa badannya sendiri," lanjutnya.
"Setiap kali dia lihat aku ganti perban abis mandi, dia hanya bisa menangis. Itu yang buat aku tidak sanggup, keluarga jadi menderita gara-gara keadaanku saat ini," ungkapnya dengan air mata berlinang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/mega-ningsih-penderita-kanker-payudaranya-saat-disambangi-di-rumahnya.jpg)