Update Covid19 Sumut 1 Agustus 2020
POPULER di TRIBUN MEDAN: dr Andhika di Mata Sejumlah Dokter di Medan, Relawan Covid-19 Meninggal
Beliau masih muda dan tidak ada penyakit bawaan. Istrinya juga sekarang sedang dirawat di RS Columbia
Oleh karena itu perlindungan berupa proteksi diri dan lingkungan sangat diperlukan.
"Kita tentu punya standar ya, bagaimana operasional pelayanan dalam bertugas di tengah pandemi ini tetap bisa aman. Untuk mengantisipasi resiko ini tentu harus protek diri melalui peningkatan imun tubuh. Protek terhadap lingkungan dan lain-lain," katanya.
Sebagai ungkapan belasungkawa, Edy mengatakan bahwa seorang dokter yang gugur dalam bertugas di masa pandemi ini merupakan anugrah karena masih bisa berjuang di tengah masyarakat.
"Dalam bahasa sosial kepulangan seorang dokter artinya meninggal seorang dokter dalam melakukan pelayanan Covid-19. Bahasanya semuanya sama, innalillahi wainnailaihi rojiun. Apa yang datang dari Tuhan akan kembali juga padanya
Kalau bisa disambut dengan bahasa medis inilah tugas kita orang kesehatan di dalam era pandemi. Kalau ditanya bahasa yang paling sedih ialah apapun yang terjadi pada kita dan keluarga merupakan satu anugrah dari Tuhan karena kita masih bisa berbuat untuk bangsa dan rakyat ini. Terima kasih atas perjuangan rekan-rekan selamat jalan sejawat," tutur Edy memberikan belasungkawa kepada rekan-rekan dokter di Sumut.
7 Dokter Meninggal
Sementara, Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Sumut, sebelumnya menyebut sudah 7 dokter meninggal di Sumatera Utara akibat terpapar Covid-19.
Jumlah ini mungkin terus akan bertambah mengingat masih ada dokter yang menjalani isolasi dan perawatan di rumah sakit karena tertular virus corona.
"Sudah tujuh dokter yang meninggal dunia, dua di antaranya merupakan dokter umum. Selebihnya, dokter spesialis seperti anastesi, paru, penyakit dalam, dan bedah," ucap Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Sumut, dr Rudi Rahmadsyah Sambas, Jumat (24/7/2020).
"Mereka sebagian besar bertugas melayani pasien Covid-19 atau di rumah sakit rujukan Covid-19 di Sumut. Selain itu, diduga ada juga yang terpapar saat praktik. Mayoritas dokter yang meninggal ini di Medan, kemudian di Asahan dan daerah lainnya," sambungnya.
Lanjut Rudi menjelaskan, hingga saat ini masih ada dokter umum maupun spesialis yang dirawat di rumah sakit karena terdampak Covid-19.
"Hal ini perlu menjadi perhatian khususnya pemerintah untuk keselamatan garda depan dalam penanganan pasien virus corona. Kami mendesak kepada pemerintah agar jam kerja dokter yang bertugas melayani pasien Covid-19 jangan diporsir," ujar Rudi.
Menurutnya, sistem kerja dokter yang melayani pasien Covid-19 dibuat shift atau bergantian.
Misalnya, dokter A pada Senin dan Selasa masuk.
Lalu pada Rabu dan Kamis digantikan dengan dokter B sehingga dokter A bisa istirahat. Sedangkan pada Jumat dan Sabtu dokter B istirahat yang digantikan dengan dokter C.
Apabila seorang dokter kurang waktu istirahatnya atau kecapean maka sangat rentan terpapar Covid-19.
Hal ini terjadi, lantaran imunitas tubuhnya lemah.
"Jangan sampai niat menolong pasien, malah ditolong. Kalau banyak dokter yang meninggal dunia akibat Covid-19, lantas bagaimana dengan pasien Covid-19? Siapa yang akan menanganinya," ujar dr Rudi Rahmadsyah Sambas.
(cr14/t ri bun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ucapan-belasungkawa-idi-cabang-medan-atas-meninggalnya-dr-andhika-kp-mked-paru.jpg)