Jumlah Emas yang Dituntut Trah HB II dari Inggris, Ternyata Setara 48 Kali Cadangan Emas Freeport

Ya, trah HB II menuntut Inggris mengembalikan 57.000 ton emas yang dirampas dari Keraton Yogyakarta saat perang terjadi.

Tribun Jogja
Peristiwa Geger Sapehi. 

TRI BUN-MEDAN.com - Keturunan Sultan Hamengkubuwono (HB) II menuntut sejumlah hal kepada pemerintah Inggris, termasuk sejumlah emas.

Trah Raja Keraton Yogyakarta tersebut juga menuntut Pemerintah Inggris melakukan permintaan maaf secara terbuka kepada mereka.

Hal ini terkait dengan sebuah peristiwa yang terjadi lebih dari 2 abad silam, tepatnya pada Juni 1812.

Peristiwa yang dimaksud adalah Perang Sapehi atau lebih dikenal dengan sebutan Geger Sapehi.

PENAMPAKAN 1000 Umat Muslim Jalankan Rukun Islam ke-5, Ibadah Haji Lancar, Patuh Protokol Kesehatan

Dalam perang tersebut, keluarga HB II mengklaim pemerintah Inggris telah melakukan penjarahan terhadap harta keraton.

Selain itu, mereka juga merasa ada kesalahan dalam penulisan sejarah dimana mereka mengklaim peristiwa tersebut bukanlah sebuah penaklukan.

Oleh karenanya, mereka juga menuntut dilakukannya pelurusan sejarah dari Perang Sapehi.

Memang apa yang sebenarnya terjadi?

Selain itu, seberapa banyak jumlah harta, khususnya emas, yang dirampas oleh Pasukan Inggris?

Lanud TNI AU Soewondo akan Dijadikan Apa? Kadis Benny Iskandar Beberkan Isi Perda Tata Ruang Medan

Ternyata jumlahnya tidaklah main-main.

Bisa mencapai 48 kali cadangan minyak Freeport yang disebut mencapai 1.187 Ton pada 2018.

Ya, trah HB II menuntut Inggris mengembalikan 57.000 ton emas yang dirampas dari Keraton Yogyakarta saat perang terjadi.

"Geger Sepehi proses penyerangan perampasan Inggris dengan berbagai kelompok, di situ terjadi peperangan yang terjadi dampak yang tidak diinginkan seperti perampasan dokumen manuskrip, karya sastra, hingga perhiasan," kata perwakilan trah HB II, Fajar Bagus, saat dihubungi, Kompas.com, Selasa (28/7/2020).

Menurut Fajar, sudah ada upaya untuk mendata hasil jarahan Perang sepehi yang tersebar di Inggris dan Eropa selama satu tahun terakhir.

Lukisan wajah Sri Sultan Hamengkubuwono II.
Istimewa via kompas.com
Lukisan wajah Sri Sultan Hamengkubuwono II.

Pada 2018 dan 2019, dia menyebut, ada beberapa manuskrip yang dikembalikan.

Fajar mengatakan, tuntutan pengembalian hasil jarahan oleh Pemerintah Inggris, termasuk ribuan ton emas, bukan tujuan utama keluarganya.

Keturunan HB II hanya ingin ada pelurusan sejarah soal Perang Sepehi.

Sehingga Raja Keraton Yogyakarta itu bisa diajukan menjadi Pahlawan Nasional.

"Intinya Geger Sepehi bukan peristiwa penaklukan, tetapi sebuah usaha secara masif dan barbar dibuat seolah-olah penaklukkan," ujarnya.

Bentrok dengan Khabib Nurmagomedov, Justin Gaethje Klaim Kesempatan Takdirnya

Fajar juga membantah, anggapan Perang Sepehi adalah perang saudara.

Sementara itu, penulis buku Geger Spehi Lilik Suharmajin membenarkan adanya perang yang terjadi pada 1812 itu mengakibatkan Beteng Lor Wetan runtuh.

"Inggris menjajah India, orang-orang India dijadikan tentara bayaran. Tahun 1811 menyerang Palembang dan tahun 1812 menyerang Jawa.

Saat itu jawa dikuasai Daendels (Gubernur Jenderal Hindia Belanda), karena Daendels kalah lalu jenderal dijabat Jensen, Inggris menguasai Jawa," jelasnya.

Lilik membenarkan, akibat Perang Sepehi terjadi perampasan manuskrip, karya-karya intelektual dan perhiasan.

Pagelaran Keraton Yogyakarta
Gunawan Kartapranata/Wikimedia Commons
Pagelaran Keraton Yogyakarta

"Setelah perang karya-karya intelektual Keraton Yogyakarta habis dijarah semua, setelah perang mereka menjarah dengan pedati, dipanggul," katanya.

Namun, Lilik meragukan adanya 57.000 ton emas yang turut dijarah dalam perang tersebut.

"Selama meneliti itu tidak ada, jadi yang dijarah adalah uang, manuskrip atau kekayaan intelektual, dan perhiasan milik Ratu Kencana Wulan, istri tercinta HB II," katanya.

Terkait wacana keluarga trah HB 2 untuk mengembalikan manuskrip, Dia mempertanyakan apakah fasilitas sudah disiapkan untuk merawat manuskrip tersebut.

Ibunya Meninggal Kena COVID-19, Keluarga Tidak Terima, Labrak dan Tikam Dokter yang Merawat

"Mereka menganggap manuskrip adalah sesuatu yang penting, makanya dijaga dengan memerhatikan suhu udara agar tidak rusak. Apakah sudah siap dengan fasilitasnya," ucapnya.

Sejarah Geger Sapehi

Geger Sepehi merupakan peristiwa penyerbuan Keraton Yogyakarta yang dilakukan oleh pasukan Inggris pada tanggal 19-20 Juni 1812.

Dikutip dari Wikipedia, nama sepehi berasal dari pasukan Sepoy yang dipekerjakan oleh Inggris untuk menyerang istana.

Setelah Belanda takluk dan meninggalkan wilayah Hindia Belanda di bawah kekuasaan Inggris (1811), Sultan Hamengkubuwana II kembali menduduki tahta Kesultanan Yogyakarta.

Sementara itu, Hamengkubuwana III kembali menjadi putera mahkota serta membuat perdamaian dengan ayahnya pada tanggal 5 November 1811.

Namun, kedatangan Inggris ditentang oleh keraton-keraton di Jawa (Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta) yang mengadakan perjanjian rahasia untuk melawan Inggris.

Ketegangan yang memuncak membuat John Crawfurd (residen Inggris di Yogyakarta) mengontak putera mahkota melalui perantaraan Pangeran Diponegoro.

Pihak Inggris bermaksud untuk mengangkat putera mahkota kembali menjadi sultan karena memiliki sikap lebih ramah dan penurut dibandingkan ayahnya yang kaku.

Di lain pihak, Sultan Hamengkubuwana II bermaksud membujuk Inggris untuk mengganti kedudukan putera mahkota kepada Mangkudinigrat.

Putera mahkota sendiri dikisahkan dalam Babad Bedhahing Ngayogyakarta atau Babad Ngengreng karya Bendara Pangeran Harya Panular dan tinjauan Residen Valck tidak berniat merebut kekuasaan meskipun keselamatan dirinya terancam oleh ayahnya.

Itulah sebabnya dirinya masih berada di keraton pada saat Inggris menyerang.

Pada tanggal 19 Juni 1812, pasukan Inggris mulai membombardir keraton sebagai peringatan, tetapi sultan mengabaikannya.

Terjadi insiden pada bastion timur laut, di mana meriam Kyai Nagarunting meledak ketika ditembakkan, mengakibatkan beberapa pengawaknya (anggota brigade Setabel, pasukan artileri keraton) mengalami luka bakar.

Sebuah gudang munisi yang dijaga anggota brigade Bugis juga dilaporkan meledak terkena peluru meriam Inggris.

Pertempuran utama terjadi pada tanggal 20 Juni 1812 yang dimenangkan oleh Inggris.

Pasukan Inggris menjarah keraton dan mengambil naskah-naskah yang tersimpan untuk dibawa ke Inggris.

Jumlah naskah-naskah yang dibawa diperkirakan lebih dari 7000 buah.

Selain itu, perhiasan, keris, perangkat alat musik di dalam keraton diangkut ke kediaman residen menggunakan pedati dan kuli-kuli panggul.

Namun, saat pengangkatan Sultan Hamengkubuwana III, pusaka keris dikembalikan lagi kepada keraton.

(Wisang Seto Pangaribowo)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Keluarga HB II Tuntut Pemerintah Inggris Minta Maaf dan Kembalikan Emas Jarahan

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved