TRIBUN-MEDAN-WIKI: Dua Bentuk Rumah Adat Nias
Dalam bahasa Nias, rumah adalah omo. Sementara, rumah adat dalam bahasa Nias, ialah omo hada.
Rumah kaum bangsawan biasanya ditandai ukiran-ukiran kayu bermotif kepala naga (lasara) yang diletakkan di bagian depan.
Motif hiasan lainnya adalah kepala manusia, buaya, cecak, matahari, bulan, alat kelamin laki-laki, payudara, kera, dan lain-lain.
Secara tradisi, sebuah rumah didiami keluarga beramai-ramai secara viriolkal (adat bertempat tinggal atau dekat dengan keluarga laki-laki), kini cenderung setiap keluarga baru membuat rumah sendiri terpisah dari orang tuanya.
Selain itu, ada kecenderungan masing-masing keluarga menggali sumur sendiri, yang menyebabkan fungsi pemandian umum semakin tergeser.
Pada masa lalu, desa-desa di Nias dilengkapi pula dengan tempat pemandian umum, dengan pipa saluran air.
Selain itu ada pula rumah-rumah pemujaan (dalam bahasa Niasnya osali), dan kini digantikan oleh gereja yang juga disebut osali.
Sesuai dengan mata pencaharian di ladang pun mereka mempunyai pedukuhan (halaman).
Biasanya mata pencaharian sebagian masyarakat Nias, hidupnya bertumpu pada pertanian. Seperti, bercocok tanam di ladang (sabe'e), sementara yang lain bersawah (laza).
Pertanian itu menghasilkan padi, jagung, ketela pohon, ubi jalar, kacang-kacangan, terong, cabe, pisang, keladi.
Mereka yang berdiam di daerah pantai dengan berkebun kelapa.
Dalam jangka waktu yang lama, mereka menggunakan alat-alat pertanian sederhana. Seperti, kapak besi (fato), cangkul (foku), parang (belewa), tongkat tugal (taru) untuk melubangi tanah tempat menanam bibit padi, alat menuai padi (balatu wamasi) semacam pisau kecil yang diselipkan pada jari, dan ani-ani (guti).
Terkadang sebagian masyarakat Nias memetik tangkai padi itu dengan tangan saja tanpa alat. (*)
Sumber: M Junus Melalatoa Ensiklopedia Suku Bangsa Jilid L – Z (1995)
(cr22/Tri bun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/rumah-adat-nias.jpg)