Jenderalnya Asyik Berunding, Tentara India China Bentrok Lagi di Lapangan, China Coba Rayu Rusia

Tentara India dan China berdebat sengit di daerah bersalju, saling melontarkan pukulan dan teriakan kemarahan atas pelanggaran teritorial.

Editor: Tariden Turnip
twitter
Jenderalnya Asyik Berunding, Tentara India China Bentrok Lagi di Lapangan, China Coba Rayu Rusia . Tentara India baku pukul dengan Tentara China 

KETIKA jenderal India dan China berunding tentara kedua negara kembali bentrok di perbatasan kedua negara.

Ini adalah bentrok terbaru tentara India vs China setelah bentrok berdarah yang menewaskan 20 tentara India di perbatasan line of actual control (LAC) Lembah Galwan, 15 Juni 2020 malam.

Video bentrok kedua tentara India vs China viral saat Komandan Korps 16 India Letnan Jenderal India Harinder Singh bertemu Komdan Tentara China Distrik Tibet Mayor Jenderal Lin Liu di Chushul-Moldo China, 22-23 Juni 2020.

Video berdurasi kurang dari 5 menit, menggambarkan personil tentara India dan China berdebat sengit di daerah bersalju, saling melontarkan pukulan dan teriakan kemarahan atas pelanggaran teritorial.

India Today TV melansir baku pukul tentara India Vs China terjadi di Sikkim Utara, perbatasan India- Tibet (China) yang berada di antara Nepal dan Bhutan.

Meskipun tidak ada konfirmasi pasti, beberapa sumber mengatakan video itu terjadi kaki Gunung Chomo Yummo setinggi 22.000 kaki di Sikkim Utara, yang merupakan perbatasan internasional.

Perbatasan Sikkim dan Tibet sudah kelar dan tidak ada lagi sengketa LAC seperti di Ladakh.

Chomo Yummo merupakan situs populer bagi pendaki gunung Angkatan Darat India, dengan ekspedisi reguler yang diselenggarakan untuk mencapai puncaknya.

Chomo Yummo hanya berjarak 6 km dari Naku La, di mana pasukan kedua negara terlibat perkelahian sengit pada 9 Mei.

Sementara perkelahian terbaru ini hanya melibatkan antara 20-30 tentara, sedikit dibanding perkelahian 9 Mei yang melibatkan lebih dari 150 tentara, dan kedua pihak mengalami korban luka-luka.

Perkelahian 9 Mei terjadi tiga hari setelah perkelahian serupa di tepi Danau Pangong, Ladakh.

Pertikaian terbaru merupakan bentrokan antara dua patroli, termasuk melibatkan perwira dari kedua belah pihak.

Bentrok terbaru tentara India vs China di Sikkim utara
Bentrok terbaru tentara India vs China di Sikkim utara (tribuneindia)

Kedua belah pihak saling meneriakkan kembali atau mundur, lalu secara cepat berubah jadi perkelahian dan memerintahkan perekam video terus bekerja.

Seorang prajurit India berbicara kepada seorang perwira India, kemungkinan seorang Kapten atau Mayor, terlihat tiba-tiba dan dengan keras diinterupsi oleh seorang perwira China, yang kemudian dipukul mundur. Sesaat berubah  tenang, sebelum meletus perkelahian saling melepaskan pukulan, saling memiting.

Momen yang paling lucu saat perekam video dari tentara India mengarahkan kameranya pada dua tentara China sambil mengejek,'' Lihat wajahnya ... apakah dia akan makan golgappas (penganan khas India)? "

Menhan India Tolak Bertemu Menhan China

Sedangkan Menteri Pertahanan India Rajnath Singh berada di Moskow untuk mempercepat pembelian alutsista besar-besaran dari Rusia mulai dari kapal selam kelas Kilo, Tank T-90, jet tempur Sukhoi 30 MMKI, MIG-29 dan bahkan sistem pertahanan udara SAM-400.

Menhan India mengatakan pihaknya ingin Rusia mengirimkan lebih cepat dari jadwal sistem pertahanan udara SAM-400 yang sudah dipesan.

"Saya telah diyakinkan bahwa kontrak yang sedang berlangsung akan dipertahankan dan tidak hanya dipertahankan, dalam sejumlah kasus, akan dipercepat pengirimannya. Semua proposal kami telah menerima tanggapan positif dari pihak Rusia. Saya sepenuhnya puas dengan diskusi saya, " ujar Rajnath Singh.

India sudah melunasi beberapa pembelian alutsista yang diincar, tapi pengiriman SAM-400 semula dilaksanakan Desember 2021.

Rajnath Singh juga menggambarkan hubungan India-Rusia sebagai "kemitraan strategis".

"Hubungan pertahanan kami adalah salah satu pilar penting. Saya memiliki kesempatan untuk meninjau kembali hubungan pertahanan kami dengan Wakil Perdana Menteri Yury Borisov dan saya berterima kasih atas kehormatannya mengunjungi saya di hotel ini. Diskusi saya adalah sangat positif dan produktif, " katanya.

Dalam pembicaraannya dengan Wakil Perdana Menteri Yury Borisov, Menhan India berkata, "Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyebutkan bahwa India adalah negara yang cinta damai. Tidak pernah dalam sejarah India mencaplok wilayah negara lain. Kita terus menyelesaikan semua perselisihan melalui dialog. Tapi, jika ada pertanyaan tentang kedaulatan dan integritas teritorial India, kami bertekad untuk melindungi  kepentingan dengan biaya berapa pun tidak dapat diragukan. "

Wakil PM Rusia Yury Borisov adalah Ketua Bersama Komisi Antar Pemerintah dengan India untuk Kerjasama Perdagangan, Ekonomi dan Sains.

Dia juga ikut memimpin Komite Tingkat Tinggi untuk Sains & Teknologi bersama dengan Rajnath Singh.

India juga membantah laporan media pemerintah China, Global Times yang menyebutkan Menteri Pertahanan India Rajnath Singh bertemu dengan Menhan China di Moscow.

"Menteri pertahanan tidak akan bertemu dengan mitranya dari Tiongkok. Laporannya tidak benar," kata sumber di Kementerian Pertahanan di New Delhi.

Rajnath Singh juga mengaku senang mengunjungi Moskow atas undangan Kementerian Pertahanan Rusia untuk menghadiri Parade Hari Peringatan Hari Kemenangan Ke-75.

Menhan India menambahkan bahwa itu adalah suatu kehormatan besar bahwa kontingen Militer India akan berbaris di Lapangan Merah pada 24 Juni, suatu tanda persahabatan abadi antara angkatan bersenjata India dan Rusia.

"Kunjungan saya ke Moskow adalah kunjungan asing pertama dari India dari delegasi resmi setelah pandemi COVID. Ini adalah pertanda persahabatan khusus kami. Terlepas dari semua kesulitan pandemi ini, hubungan bilateral kami menjaga hubungan baik di berbagai tingkatan," kata Rajnath Singh.

Rajnath Singh juga menyampaikan harapan Perdana Menteri Narendra Modi pada Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin agar berkunjung ke India akhir tahun ini.

Sebelumnya pada hari Selasa, Sekretaris Pertahanan Ajay Kumar melakukan diskusi dengan mitranya, Wakil Menteri Pertahanan Rusia Fomin.

China Rayu Rusia tak Jual Senjata ke India

Sementara media-media pemerintah China seperti People's Daily maupun Global Times berharap Rusia tidak menjual senjatanya ke India.

Pemerintah China dan Partai Komunis China mengelola empat media besar di China yakni People's Daily, China Central Television, China News Service, dan Global Times, dan tabloid People's Daily. 

"Seperti yang dikatakan para ahli, jika Rusia ingin melunakkan hati orang China dan India, lebih baik tidak mengirim senjata ke India di saat sensitif seperti saat ini. Dua kekuatan Asia adalah mitra strategis Rusia yang sangat dekat, " tulis People's Daily. 

Dalam posting Facebook-nya, People's Daily mengatakan, "India ingin segera membeli 30 jet tempur menurut surat kabar itu, dengan latar belakang konflik yang sedang berlangsung antara China dan India di Ladakh, termasuk MiG29 dan 12 Sukhoi 30MK."

Media mengatakan saat India dan China melakukan upaya berulang-ulang untuk mengurangi ketegangan di Ladakh timur, China masih bingung dengan kerja sama pertahanan antara India dan Rusia.

People's Daily juga mengakui bahwa ada pertukaran tentara antara India dan China setelah pertempuran sengit di Lembah Galwan pada malam 15 Juni.

"Menurut surat kabar Kommersant, India dan China mengambil langkah-langkah mendesak untuk mengurangi eskalasi pada garis kendali aktual di Ladakh. Sebagai langkah pertama menuju pemulihan hubungan, kedua belah pihak bertukar tentara yang ditahan setelah insiden perbatasan, yang terbesar dari 50 tahun terakhir, " ujar People's Daily.

"Terlepas dari kenyataan bahwa situasi di perbatasan tetap tegang, Delhi dan Beijing menahan diri dari langkah-langkah baru yang tajam dan retorika yang keras terhadap masing-masing pada malam konferensi video para menteri luar negeri Rusia, India, dan China pada 23 Juni ". (india today)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved