Selain Borong 33 Jet Tempur Baru, India Borong Senjata & Amunisi, Siap Baku Tembak dengan China

Pemerintahan PM Modi memberikan anggaran untuk membeli sistem senjata apa pun masing tiap angkatan sebesar Rs crore 500 setara Rp 934 miliar.

Editor: Tariden Turnip
india today
Selain Borong 33 Jet Tempur Baru, India Borong Senjata & Amunisi, Siap Baku Tembak dengan China. India menggeser 60 artileri berat meriam Bofors ke Ladakh 

Tak hanya memborong 33 jet tempur terbaru dari Rusia, militer India kini memborong persenjataan dan amunisi pascabentrok di Patrol Point Lembah Galwan, yang menewaskan 20 tentara China.

Ini adalah langkah terbaru India menyikapi bentrokan di perbatasan dengan China di Patrol Point Lembah Galwan Senin (15/6/2020).

Baik India maupun China mengklaim Lembah Galwan adalah wilayahnya.

Pemerintahan PM Modi memberikan anggaran untuk membeli sistem senjata apa pun masing tiap angkatan sebesar Rs crore 500 setara Rp 934 miliar.

“Tiga angkatan telah diberikan kekuatan finansial oleh pemerintah Narendra Modi untuk membeli senjata di bawah prosedur persyaratan darurat. Sekarang mereka dapat membeli persediaan atau senjata baru hingga Rs crore 500, ” ujar sumber pemerintah India seperti dilansir India Today TV.

Di bawah proyek itu, pasukan pertahanan, dalam konsultasi dengan Departemen Urusan Militer, dapat masuk untuk membeli senjata apa pun yang mereka rasa diperlukan untuk berperang atau kekurangan dalam inventaris mereka, kata sumber itu.

Tiga angkatan mulai menyiapkan daftar senjata dan peralatan yang mereka butuhkan dan dapat memperoleh dalam waktu sesingkat mungkin.

Selain itu India juga menambah sekitar 2.000 pasukan tambahan yang dikerahkan ke perbatasan India-China memperkuat Polisi Perbatasan Indo-Tibet (ITBP) 

Personel ITBP, saat ini terlibat dalam tugas yang  berbeda di berbagai bagian negara, diminta segera kembali mengingat situasi yang terjadi di Ladakh.

Sekitar 20 kompi tambahan (2.000 tentara) kemungkinan akan dikerahkan di berbagai lokasi perbatasan India-China, kata seorang pejabat senior pemerintah.

ITBP menjaga perbatasan Line of Actual Control/LAC sepanjang 3.488 km antara India dan China, bersama dengan Angkatan Darat India.

Personil ITBP dikerahkan sekitar 180 pos penjagaan perbatasan - mulai dari Karakoram hingga Jachep La - berlokasi di Wilayah Serikat Ladakh, Himachal Pradesh, Uttarakhand, Sikkim dan dan Arunachal Pradesh.

Sebelumnya Angkatan Udara India (IAF) diberitakan media India memborong 33 jet tempur baru dari Rusia.

Angkatan Udara India mengumumkan pembelian 12 jet tempur Sukhoi dan 21 jet tempur MiG-29.

Proposal pengadaan super cepat 33 jet tempur baru sudah dikirimkan Angkatan Udara India ke Kementerian Pertahanan.

Diperkirakan pembelian 33 jet tempur baru bernilai Rs 5.000 crore setara Rp 9,4 triliun akan diputuskan Kementerian Pertahanan Indian, minggu depan.

India Today melansir khusus untuk pembelian MiG-29 dari Rusia, akan ada modifikasi untuk peningkatan jet tempur MiG-29.

Pembelian jet tempur baru ini merupakan yang kedua kali di era PM Modi.

Sebelum India memborong 36 jet tempur Rafale dari Perancis yang kontraknya ditandatangani pada 2016.

Jet tempur Sukhoi memang menjadi tulang punggung kekuatan udara India.

Jet tempur SU-30 India mendarat di jalan tol
Jet tempur SU-30 India mendarat di jalan tol (facebook)

Melansir AIRSPACE REVIEW, biasanya pesawat-pesawat ini akan dirakit pabrik pesawat Hindustan Aeronautics Limited (HAL) bekerja sama dengan United Aircraft Corporation (UAC) dari Rusia.

Hingga 31 Maret 2020, Hindustan Aeronautics Limited (HAL sudah merakit 272 unit jet tempur Su-30MKI secara lisensi dari Rusia untuk Angkatan Udara India (IAF).

Jet tempur generasi keempat ++ ini dipatok 70,3 juta dolar AS per unit pesawat.

Dalam bentrokan berdarah dengan tentara China di  Lembah Galwan, Senin (15/6/2020) malam, 20 tentara India tewas.

Sebagian jasad tentara India ini tidak utuh karena tentara China menyerang musuhnya dengan potongan besi dipenuhi paku tajam.

Kedua negara terikat perjanjian damai 1996 yang melarang penggunaan senjata api dalam cekcok perbatasan.

Selain itu sebagian tentara India ditawan tentara China yang dibebaskan Kamis (18/6/2020) setelah tiga hari pembicaraan.

 "Sepuluh personel Angkatan Darat India termasuk dua mayor dibebaskan oleh militer Tiongkok pada Kamis malam setelah tiga hari perundingan, kata orang-orang yang mengetahui perkembangan itu," lapor kantor berita PTI.

Angkatan Darat India belum memberikan keterangan resmi terkait pembebasan 10 tentaranya oleh militer China.

Selain itu, 76 personel Angkatan Darat India cedera, di mana 18 di antaranya luka parah dan 58 orang luka ringan.

18 personel luka berat kini menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Leh sementara 58 orang dirawat di berbagai rumah sakit lain. 

Wajah 20 tentara India yang tewas dalam bentrok berdarah dengan tentara China
Wajah 20 tentara India yang tewas dalam bentrok berdarah dengan tentara China (india today)

Terbaru Menteri Pertahanan Rajnath Singh memberi kebebasan pada militer yang bertugas di sepanjang perbatasan LAC dalam memberikan jawaban "sesuai" untuk setiap perilaku agresif China.

Keputusan ini diambil dalam pertemuan Menteri Pertahanan Rajnath Singh kepala staf ketiga angkatan militer India membahas situasi  di Ladakh timur.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kepala Staf Pertahanan Jenderal Bipin Rawat, Panglima Angkatan Darat Jenderal MM Naravane, Panglima Angkatan Laut Laksamana Karambir Singh dan Panglima Angkatan Udara Marsekal RKS Bhadauria.

Sumber itu mengatakan Singh mengatakan kepada petinggi militer untuk menjaga ketat kegiatan China di sekitar perbatasan darat, wilayah udara dan jalur laut strategis, dan meminta mereka untuk mengadopsi pendekatan "keras" dalam menangani segala kesalahan yang dilakukan oleh pasukan China.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri India S Jaishankar menjelaskan tentara India dan China tidak menggunakan senjata api dalam cekcok perbatasan kedua negara.

Perjanjian pertama tentang sengketa perbatasan dan pemeliharaan perdamaian sampai resolusi akhir ditandatangani antara India dan China pada tahun 1993.

Rincian perjanjian tersebut, yang untuk pertama kalinya menyebutkan Garis Kontrol Aktual (LAC), dapat dilihat di sini.

Perjanjian tersebut ditandatangani oleh PM PV Narasimha Rao dari Partai Kongres, menindaklanjuti perdamaian yang dirintis mantan Perdana Menteri Rajiv Gandhi (almarhum ayah Rahul Gandhi) - dimulai dengan kunjungannya ke China pada 1988.

Pada musim dingin Desember 1988, kunjungan PM Rajiv Gandhi memecah kebekuan antara India dan China. Kunjungan sebelumnya ke China oleh seorang perdana menteri India dilakukan oleh Jawaharlal Nehru, kakek buyut Rahul Gandhi, pada tahun 1954.

Perjanjian 1993 menyatakan: "Tidak ada pihak yang akan menggunakan atau mengancam untuk menggunakan kekerasan terhadap yang lain dengan cara apa pun. Tidak ada kegiatan dari kedua belah pihak akan melangkahi garis kontrol yang sebenarnya."

Disebutkan pula, "Dalam hal personil dari satu sisi melewati garis kendali aktual, setelah diperingatkan oleh sisi lain, mereka harus segera menarik kembali ke sisi mereka sendiri garis kendali sebenarnya."

Ini berarti bahwa para prajurit kedua negara akan bekerja sama dan memastikan perdamaian di perbatasan dan LAC sampai kepemimpinan nasional kedua negara tiba di penyelesaian perselisihan inti.

Perjanjian ini dianggap "tidak cukup" oleh kedua negara hingga kedua negara sepakat membuat perjanjian yang lebih rinci pada tahun 1996. Ini perjanjian ini bisa diakses di sini. 

Perjanjian ini ditandatangani oleh pemerintah HD Deve Gowda yang mendapat dukungan partai Kongres.

Perjanjian 1996 membuatnya mengikat tentara untuk "menahan diri" dan memilih untuk "konsultasi langsung" jika situasi yang dihadapi muncul.

Tetapi bagian paling relevan dari perjanjian ini yang menjelaskan mengapa tentara India tidak bersenjata disebutkan dalam Pasal VI.

Dikatakan, "Tidak ada pihak yang akan menembakkan senjata atau bahan peledak atau melakukan pengejaran dalam jarak dua kilometer dari garis kontrol yang sebenarnya."

Ketentuan ini menyebabkan praktik di mana tidak ada pihak yang bahkan mengacungkan senjata api.

Inilah sebabnya saat tentara India dan China cekcok akan terjadi desak-desakan saling mendorong seperti banyak di video-video yang beredar. (india today)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved