Nasib Lettu Aprianto, Pilot Pesawat TNI AU Selamat Berkat Kursi Pelontar, Jatuh di Semak-semak
Pilot Lettu Aprianto Ismail tersebut jatuh bersama parasutnya di semak-semak, warga yang melihat pilot langsung memberikan pertolongan
Sangat penting bagi pesawat tempur untuk memiliki kursi lontar.
Kursi lontar merupakan sistem yang kompleks dengan ribuan komponen.
Tujuan dari pemasangannya sederhana: untuk melontarkan penerbang seketika dari pesawat pada jarak yang aman, kemudian membuka parasut, sehingga memungkinkannya untuk mendarat dengan aman.
Untuk memahami bagaimana sebuah kursi lontar bekerja, kita harus memahami beberapa komponen dasar dalam sistem pelontaran.
Semua harus terlaksana dengan benar dalam hitungan detik, dengan urutan tertentu untuk bisa menyelamatkan hidup pilot.
Jika salah satu bagian dari peralatan penting tak bekerja, akibatnya bisa fatal.
Letak kursi lontar di dalam kokpit dan biasanya menempel pada rel vertikal dengan serangkaian roda gulir di tepi kursi.
Selama fase pelontaran, rel berfungsi mengarahkan kursi keluar dari pesawat pada sudut tertentu.
Cara kerja sistem kursi lontar dimulai dengan penerbang menarik handel pelontar.
Selanjutnya, dengan hampir seketika, canopy (kaca penutup) terlontar diikuti roket pendorong meledak dan kursi dilontarkan bergulir pada rel di punggung kursi.
Kursi lontar diaktifkan melalui metode yang berbeda.
Beberapa sistem memiliki pegangan tarik di sisi atau di tengah-tengah kursi.
Lainnya diaktifkan di atas kepala penerbang, yang bila ia menarik handel sekaligus menarik tirai untuk menutupi dan melindungi wajahnya.
Waktu lontaran tak lebih dari empat detik dari waktu handel pelontar ditarik.
Jumlah waktu yang tepat tergantung pada model kursi dan berat badan penerbang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/bidik-layar-video-amatir-jatuhnya-pesawat-tempur-tni-au.jpg)