Kisah Presiden RI Pertama Soekarno Meninggal Dunia Ternyata di Pangkuan Perempuan Ini. . . .

Sosok Soekarno bukan hanya dikenal karismatik karena jiwa kepemimpinannya. Tetapi jika kepemimpinannya

Editor: AbdiTumanggor
Yoyok Prima Maulana/tribun/istimewa
Bung Karno (kanan) 

Setelah 1 bulan Soekarno berada di Parapat, di situlah Sang Proklamator bisa berkomunikasi dengan gerilyawan Indonesia melalui Oppung Tindaon dan Buka Sinaga.

Informasi kepada gerilyawan disampaikan melalui makanan dan sayur-sayuran.

Soekarno meminta Oppung Tindaon untuk membawakan makanan paha ayam.

Setelah selesai makan, Soekarno membersihkan tulang paha ayam agar bisa menyelipkan surat di bagian dalam tulang tersebut.

Setelah itu, Soekarno memberitahukan kepada Oppung Tindaon dan Buka Sinaga bahwa dari sisa makanan tulang paha ayam itu, terdapat sebuah surat untuk disampaikan kepada gerilyawan Indonesia.

Begitu juga ketika Presiden Sukarno jalan-jalan di luar rumah.

Ia meminta tolong kepada Buka Sinaga dibawakan sayur kangkung.

Dari batang kangkung itulah Soekarno memasukkan surat untuk diberikan kepada gerilyawan Indonesia.

Pesanggrahan Soekarno di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
Pesanggrahan Soekarno di atas Danau Toba, di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. (Tribun-Medan.com/Arjuna Bakkara)

Setelah beberapa kali komunikasi lancar dan informasi sampai kepada prajurit TNI, kemudian diutus pasukan TNI untuk menjemput Presiden Soekarno di Parapat.

Prajurit TNI kemudian bergerak mengepung Parapat, baik dari daratan maupun melalui Danau Toba.

Tetapi, pergerakan tersebut ditahan oleh Perdana Menteri RI, Sutan Sjahrir dengan alasan mau dipindahkan ke Bangka.

Akhirnya Soekarno dibawa ke Bangka pada awal 1949, dan di situlah dia dipertemukan dengan pemimpin-pemimpin lainnya, antara lain Bung Hatta.

Lebih jauh disampaikan Mangasi, ketika itu memang pemisahan atau pengkotak-kotakan jelas dilakukan Belanda, yang dikenal dengan bahasa "Devide Et Impera”.

Sejumlah orang di Parapat ada yang diangkat dengan jabatan yang lebih tinggi dengan sebutan Tuan, dan di sisi lain ada yang tetap jadi pesuruh seperti kakeknya Buka Sinaga yang menjadi tukang kebun.

"Saat itu memang sudah dikotak-kotakkan, ada yang jadi tuan dan ada yang tukang kebun seperti Oppung Buka dan Oppung Tindaon. Makanya ada pengangkatan nama Tuan. Diangkat lima orang tuan, itulah orangnya Belanda," ujar Mangasi.

Pengawal Presiden Soekarno
Soekarno (istimewa/tribun)

Senang Jaga Pesanggrahan

Disinggung soal kesan menjaga rumah bersejarah bagi Bangsa Indonesia itu, Mangasi mengatakan rasa senang dan bangsa bisa menjaga pesanggrahan tersebut.

Kata Mangasi, nama besar Soekarno membuatnya merasa bertanggung jawab secara moral menjadi penjaga rumah tersebut.

"Nama Besar Bapak Proklamator membuat kita ada tanggung jawab moral, dan sangat berarti bagi saya dan keluarga," kata Mangasi.

Mangasi tidak mau berkomentar banyak, selain hanya merasa bersyukur dan menganggap suatu kehormatan baginya menjaga pengasingan Bung Karno di kampung halamannya itu.

Namun, secara pribadi dia berharap agar ada perawatan yang lebih baik dari pemerintah di pensanggrahan tersebut, tanpa menghilangkan nilai dan estetika sejarah.

Menurut Mangasi, anak-anak Presiden Soekarno beberapa kali datang ke Parapat mengunjungi tempat pengasingan itu.

"Menariknya mereka selalu memperhatikan apa yang pernah ditempati bapaknya. Secara khusus, juga Yayasan Bung Karno pernah mengundang satu di antara pegawai ke Jakarta untuk diberikan bentuk penghargaan pada beberapa tahun lalu," ujarnya.

Seingat Mangasi, anak-anak Soekarno yang pernah berkunjung yakni Guruh Soekarmoputra sekitar tahun 1988-89, Sukmawati pada tahun 1992, dan Megawati tahun 2004 saat menjabat Presiden RI.

Kata Mangasi, Guruh Soekarnoputra ingin keaslian Pesanggrahan seperti saat ayahnya tinggal di sana.

Ia bahkan meminta agar ditanam kembali pohon beringin di titik yang dulunya pernah ada di lokasi tersebut.

Menurut Mangasi, beberapa waktu silam pernah mencuat wacana pembangunan Monumen Bung Karno di Parapat. Sayangnya, rencana itu tersendat hingga saat ini.

“Semoga rencana pembangunan itu nantinya bisa diwujudkan,” ujarnya.

(Jun-tri bun-medan.com/Bangkapos.com)

Kisah Mbah Arjo Meninggal di Usia 193 Tahun pada Selasa (21/5/2019), Kenang Ritual Bareng Soekarno

Sumber: Tribun Medan
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved