News Video

VIRAL Hasil Rapid Test Bocor di Medsos, Ratusan Warga Geruduk Kantor Desa Kolam Deli Serdang

Warga protes akibat hasil Rapid Test yang tersebar di sosial media, menyebabkan mereka dikucilkan dari lingkungan sekitar rumah.

Editor: M.Andimaz Kahfi

VIRAL Hasil Rapid Test Bocor di Medsos, Ratusan Warga Geruduk Kantor Desa Kolam Deli Serdang

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Ratusan warga menyerbu Kantor Kepala Desa Kolam untuk memprotes pihak desa terkait Rapid Test yang dikeluarkan dinas kesehatan Deli Serdang terhadap 16 warga Desa Kolam, Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang, Rabu (27/5/2020) malam.

Pihak desa Kolam bersama Muspika Percut Seituan melakukan pertemuan bersama perwakilan warga untuk membahas hasil Rapid Test yang tersebar dan merugikan warga lingkungan sekitar.

Dalam hasil Rapid Test tersebut, dari 16 warga yang diperiksa terdapat 14 warga reaktif dan dua di antaranya dinyatakan positif setelah dilakukan hasil Swab pada tanggal 15 Mei lalu.

Warga protes akibat hasil Rapid Test yang tersebar di sosial media, menyebabkan mereka dikucilkan dari lingkungan sekitar rumah.

Seorang warga yang melayangkan aksi protes menuturkan bahwa akibat isu warga kampung kolam positif Covid-19, banyak pelanggan yang membatalkan orderan kepada dirinya.

"Konsumen pada takut ke rumah kami karena banyak dibatalkan karena dianggap "Ibu ini kena Covid", batal semua tidak ada job sama kami. Jadi mau makan apa kami, itu yang kami tidak terima. Satu kampung imbasnya kena semua," ungkapnya.

Nama-nama hasil rapid test yang dinyatakan positif menyebar hingga keluar desa Kolam yang menyebabkan banyak warga desa dikucilkan karena dinilai akan membawa virus corona.

Hal ini disampaikan oleh seorang warga, inisial N yang dikucilkan lantaran banyak yang menyebutkan jika warga Desa Kolam positif Covid-19.

"Kita harus menyadari viralnya ini tidak karuan, itu yang sangat menyakitkan. Hoaks ini memang ngeri, siapa yang bisa menangkal hoaks," bebernya.

Keriuhan yang terjadi di kantor desa ini ditanggapi oleh Kepala Desa Kolam, Jupri Purwanto.

Ia menuturkan bahwa aksi keriuhan masyarakat ini dikarenakan banyak warga yang belum menerima dan minimnya pengetahuan terkait Covid-19.

"Peristiwa ini riuh karena pihak keluarga belum bisa menerima, pemahaman tentang Covid masih sangat minim. Mereka ramai-ramai datang ke desa kita menanyakan hasil lab pada warga yang positif Covid itu sendiri, miskomunikasi yang terjadi adalah ketidakpahaman sebagian masyarakat kalau saya lihat," ungkap Jupri.

Aksi pertemuan bersama pihak desa sempat ricuh lantaran tiga warga meninggalkan pertemuan di tengah-tengah pembicaraan dalam pembahasan terkait isu penyebaran corona di desa Kolam.

Aksi unjuk rasa warga berakhir pukul 22.00 WIB setelah pihak Muspika menuturkan bahwa akan ada tes Swab kepada warga yang sebelumnya dinyatakan reaktif beberapa waktu lalu untuk memastikan hasil tes sebelumnya.

(cr13/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved