News Video

Dokter Dewi Ungkap Tahap Pemeriksaan Sampel Metode PCR, yang Dilakukan Laboratorium PCR Covid-19 USU

Pemeriksaan sampel atau spesimen dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) memakan waktu sekitar paling lama tiga hari.

Editor: M.Andimaz Kahfi

Dokter Dewi Ungkap Tahap Pemeriksaan Sampel Metode PCR, yang Dilakukan Laboratorium PCR Covid-19 USU

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Kepala Laboratorium Rumah Sakit USU, dr Dewi Indah Sari Siregar M.Ked (Clinpath) SpPK mengatakan, dalam pemeriksaan sampel atau spesimen dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) memakan waktu sekitar paling lama tiga hari.

Sementara jika tidak ada hambatan dan persediaan reagensia memadai proses pemeriksaan bisa lebih cepat lagi.

"Prosesnya memakan waktu kurang lebih tiga hari, tapi kalau tidak ada hambatan bisa lebih cepat lagi. Kami pernah mengerjakan sampel hari ini dan besoknya sudah selesai, waktu itu saat reagensianya memadai dan tidak ada hambatan teknis," kata dr Dewi saat diwawancarai Tribun Medan, Senin (11/5/2020).

Sementara itu, diterangkannya dalam beberapa waktu terakhir, proses pemeriksaan PCR yang dilakukannya bersama tim laboratorium PCR USU bisa mencapai lebih dari tiga hari.

Hal ini dikarenakan pengadaan reagensia yang masih sangat terbatas.

"Kalau untuk saat ini proses pemeriksaan kita hampir selalu lebih dari tiga hari, karena keterbatasan reagensia itu tadi," katanya.

Dewi mengatakan bahwa dalam pemeriksaan sampel atau spesimen, dibutuhkan dua cairan dari pasien yang terindikasi virus corona.

Yakni sampel hasil usap hidung dan tenggorok serta sampel dahak.

"Pertama itu kita lakukan persiapan sampel. Di mana sampel itu terdiri dari dua, pertama hasil usap hidung dan tenggorok, dan ada juga dahak. Itu dikirim dari masing-masing rumah sakit atau puskesmas melalui Dinas Kesehatan. Ketika sampai di sini kita lihat kelengkapan datanya, dari mulai nama pasien, asalnya, dan lain-lain," terang Dewi.

"Kemudian kita proses di dalam laboratorium dan diekstraksi, barulah nanti sampai kepada tes dengan alat PCR nanti ketahuan apakah RNA pasien terdapat gen positif covid-19 atau tidak," tambahnya.

Dewi juga mengatakan bahwa cairan reagensia saat ini masih dipasok dari luar negeri seperti China, Korea, Jepang, Jerman, dan lain-lain.

Sementara untuk Indonesia sendiri kini tengah dalam proses produksi reagensia sendiri namun masih tahap uji coba.

"Pengadaannya kita dapat dari pemerintah tapi barangnya itu ada dari berbagai negara. Untuk Indonesia sendiri sudah produksi reagensia tapi masih dalam tahap uji coba, kita doakan saja supaya bisa segera dilaunching penggunaannya," ungkapnya.

Laboratorium PCR USU Akui Belum Bisa Lakukan Penelitian Lebih Mengenai Terapi Plasma Untuk Sembuhkan Covid-19

Sebagai Laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) Covid-19 pertama yang ada di Sumut, Rumah Sakit USU masih terus menerima sampel pemeriksaan pasien yang berasal dari berbagai daerah di Sumut.

Hingga kini telah memeriksa lebih dari 500 specimen yang masuk ke rumah sakit USU.

dr. Dewi Indah Sari Siregar Mked (ClinPath) SpPK mengatakan, bahwa saat ini timnya tengah fokus memeriksa sampel atau spesimen yang jumlahnya fluktuatif dari waktu ke waktu.

"Sampai sekarang sudah ada total 800 spesimen yang masuk, yang sudah kita selesaikan pemeriksaannya sebanyak 500 lebih. Jadi ada sekitar 300 an spesimen yang belum selesai diperiksa," ungkap dr Dewi.

Terkait terapi plasma darah yang diklaim berbagai negara ampuh untuk sembuhkan corona, Dewi mengaku sejauh ini pihaknya masih belum memiliki kapasitas untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait penyembuhan pasien covid-19 seperti penelitian vaksin ataupun plasma darah.

Hal ini dikarenakan dengan jumlah sampel yang terus masuk dan kapasitas Sumber Daya Manusia yang masih mencukupi untuk melakukan pemeriksaan saja.

"Di sini kan ada dua hal yang berbeda, satu penelitian dan satu lagi diagnostik. Nah kita sekarang masih fokus melakukan pemeriksaan atau proses diagnostik, karena sumber daya manusia dan peralatan juga masih hanya memungkinkan untuk melakukan hal ini dulu dan dirasa urgen," ungkapnya.

Jika kapasitas sudah memadai dan juga peralatan bertambah, Dewi mengatakan barulah pihaknya akan mulai melalukan diagnostik dan juga penelitian.

"Nanti kalau sudah berkembang lagi, SDM kita sudah bertambah dan alat juga tersedia mungkin baru kita bisa melakukan usaha-usaha penelitian," tuturnya.

Sejauh ini kendala paling besar dalam pemeriksaan sampel adalah jumlah reagensia yang terbatas. Ia mengatakan bahwa dalam satu spesimen, bisa digunakan lebih dari satu reagensia.

Keterbatasan reagensia juga bisa memperlama proses pemeriksaan sampel.

"Karena ini juga permasalahan dunia, enggak cuma di Medan saja. Yang jelas kita sudah usahakan. Sempat juga waktu itu kosong reagensia jadi kita enggak bekerja selama beberapa hari," kata perempuan yang juga menjabat sebagai Direktur Umum, Keuangan dan SDM Rumah Sakit USU ini.

Jumlah tim yang bertugas dalam pemeriksaan PCR di laboratorium USU ini, terang Dewi sebanyak 10 orang yang terdiri dari beberapa instansi.

Termasuk di antaranya beberapa anggota dari rumah sakit USU, Fakultas Kedokteran USU dan beberapa analis dari Balai Teknologi Lingkungan.

"Kalau untuk ketersediaan sumber daya kita masih cukup ya. Meskipun setiap hari datang terus sampel sejauh ini masih bisa dikerjakan," katanya.

Dewi berharap seluruh timnya selalu dalam kondisi sehat agar bisa terus bertugas dalam melayani masyarakat.

"Tentu saya berharap mereka semua di sini selalu sehat dan fit agar tetap bisa bertugas. Juga kepada masyarakat agar bisa patuh terhadap protokol kesehatan," pungkasnya.

(cr14/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved