Viral Medsos
Viral Video Bocah Mengigau Tidur Sambil Berjalan Ganggu Salat Tarawih, Aksi Lucunya Mengundang Tawa
Makmum tidak bisa berkata-kata sebab dilema mengingat usia anak kecil tersebut sangat dini untuk memahami aturan orang salat.
TRI BUN-MEDAN.com - Tingkah viral bocah balita ganggu salat tarawih sampai bubar beredar di Instagram belum ini.
Gara-gara ulah polos bocah tersebut, salat tarawih jadi batal sebab imam tak tahan dengan godaan anak kecil tersebut.
Sementara itu, makmum salat yang melihat tingkah bocah balita di depannya cuma bisa pasrah dan tertawa.
Makmum tidak bisa berkata-kata sebab dilema mengingat usia anak kecil tersebut sangat dini untuk memahami aturan orang salat.
Aksi viral bocah balita ganggu salat tarawih ini pertama kali diunggah akun Instagram @makassar_iinfo Rabu 6 Mei 2020.
Dalam video pendek berdurasi 1 menit itu terlihat seorang balita telanjang dada hanya mengenakan celana panjang berwarna merah jambu, bermain di dekat keluarganya yang sedang salat jamaah.
Salat jamaah itu tampak dilakukan di dalam rumah, mengingat saat ini himbauan untuk tidak salat di masjid akibat covid-19 digalakkan pemerintah.
'Ada-ada saja tingkah laku kalau sudah punya cucu. Kakek mau taraweh pun masih diganggu' tulis keterangan caption akun @makassar_iinfo
Barisan jamaah dalam salat terdiri dari satu imam dan dua orang makmum di belakang.
Tampak dalam video, yang menjadi imam salat tarawih adalah pria paruh baya atau diduga kakek dari balita tersebut.
Mengutip TribunStyle.com artikel 'Balita Ganggu Imam Sholat Tarawih di Rumah', awalnya, balita itu hanya bermain-main di dekat imam salat.
Kemudian dengan iseng, balita polos itu mulai tidur di dekat kakeknya yang sedang khusyuk salat.
Tidak cukup di situ saja, balita itu mulai menarik sarung kakeknya berkali-kali.
Sampai di sini sang kakek masih tidak bergeming dan tetap melanjutkan memimpin salat.
Namun semakin lama tingkah bocah ini semakin menjadi-jadi.
Bocah itu memasukkan badannya ke dalam sarung si kakek yang ketika itu dalam posisi berdiri bersedekap.
Sontak saja kakeknya langsung kaget dan sudah tidak tahan dengan godaan bocah balita tersebut.
Akhirnya, Kakek itu membatalkan salat dan menoleh ke belakang menghadap bocah balita yang masuk ke dalam sarungnya.
Kakek itu kemudian menarik sarung agar cucunya keluar dari sana.
Namun, kejadian tersebut bisa disaksikan langsung oleh dua makmum wanita di belakang yang spontan ikut tertawa.
Buntutnya salat tarawih yang mereka lakukan jadi batal dan membuat semua orang dalam video tertawa terbahak-bahak.
Bahkan salah satu makmum tertawa sampai tak bisa berhenti.
Salat tarawih pun akhirnya bubar, sebab sang kakek memilih pergi dan meninggalkan lokasi salat berjamaah.
Sementara bocah balita yang membuat onar tersebut dengan tanpa dosa tertawa dan berlari-lari di tempat salat.
Berikut cuplikan video-nya *geser dan klik tanda panah putih untuk melihat video selanjutnya:
Tentu saja video tersebut mengundang banyak reaksi dari netizen, banyak di antara mereka ikut tertawa dan terhibur.
'Mau terbang ginjalku ktwa hahaha' komentar akun @@auliaifanasari.a.
'Lucunya we' tulis akun @@iintanndj.
'Ketawanya nular' tulis akun @diindafirdaus.
Cara Mengedukasi Anak
Belajar dari contoh kasus di atas, ada beberapa cara bijak untuk menegur dengan mengedukasi anak saat membuat onar.
Sebisa mungkin orangtua tidak begitu saja menumpahkan amarah kepada anak.
Anak membutuhkan kasih sayang, kelembutan, dan stimulasi positif untuk pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikisnya.
Maka, orangtua yang bijak hendaknya memahami hal ini, sehingga tidak begitu saja melampiaskan rasa marah kepada anak.
Sikap atau ucapan keras ataupun kasar sangat tidak layak dilontarkan kepada anak.
Dirangkum dari laman Ruang Guru PAUD Kemendikbus melalui Kompas.com artikel 'Ingin Memarahi Anak' berikut 7 hal yang harus dicermati orang tua ketika menasehati anak:
1. Tetap bersabar
Saat rasa amarah mulai timbul, orangtua harus pandai-pandai mengatur emosi.
Orangtua harus bersabar agar tidak terlontar ucapan atau sikap yang negatif.
Cara yang bisa dilakukan misalnya menarik nafas panjang, beristighfar, mengambil posisi duduk atau bersikap diam tanpa berkata-kata untuk sesaat.
2. Tidak ucapkan kata negatif
Contohnya, "Sudah Mama bilang, sekarang harus makan! Biar saja, kalau nggak mau makan, biar diare sekalian!" (Salah).
"Ayo kita makan Dek, supaya nggak masuk angin. Kalau masuk angin, perut bisa sakit, nanti nggak bisa main lho." (Benar)
"Makanya, jangan manjat-manjat pohon. Sekarang tahu sendiri rasanya kan?! Benjol deh, kepala Kakak!" (Salah).
"Pohon itu licin, Kak.. makanya Mama bilang, mainnya di bawah pohon saja. Kalau jatuh begini nggak enak kan. Yuk, kita obati kepalanya. Lain kali nggak diulang lagi ya" (Benar)
3. Berikan alasan mengapa melarang
Misalnya, "Kakak mainnya di dalam rumah saja ya, karena di luar sedang hujan.
Kalau hujan-hujanan nanti Kakak bisa sakit.
Kalau sakit, besok hari Minggu nggak bisa jalan-jalan lho..", atau "Kakak, kalau main air di dalam rumah nanti lantainya jadi licin. Kalau licin, nanti Kakak bisa terpeleset. Ayo, main airnya di luar saja ya.."
4. Menyampaikan cara yang benar
Contohnya, "Kok enak saja langsung makan. Mau sakit perut ya?!" (Salah).
"Dedek, sebelum makan harus cuci tangan dulu ya, supaya tidak sakit perut." (benar).
"Aduh, berserakan semua mainannya!" (Salah).
"Dedek, kalau sudah selesai main, mainannya disimpan di kotak mainan, seperti ini... Bukan diserakkan di lantai ya." (Benar)
5. Tidak menggunakan kata "jangan"
Ganti kata "jangan" dengan kalimat yang menunjukkan maksud orang tua.
Misalnya: jangan merengek! Coba bicara yang jelas, ya. Jangan teriak-teriak! Coba bicaranya yang pelan.
Jangan lari-lari! Ayo, jalan saja, ya. Jangan mainin HP mama! Mama pinjam Hpnya.
Dedek main boneka saja, ya. Jangan nendang-nendang pintu! Kaki untuk berjalan.
Kakinya untuk nendang bola saja yuk.
6. Gunakan seruan bersifat positif
Hindari berkata: awas, minggir, heh, hayo! Tapi ganti dengan astaghfirullah, hati-hati, maaf, bukan. A
nak sering melakukan tindakan yang mengejutkan orangtua, sehingga secara spontan orangtua akan menyerukan kata-kata tertentu.
Seruan negatif atau kasar bisa diganti dengan seruan positif.
Jika dibiasakan seruan positif akan reflek kita ucapkan saat terkejut.
Misalnya: Awas jatuh! diganti hati-hati. Minggir sebentar! diganti maaf, Mama bawa air panas.
Heh, temannya kok dipukul! tapi diganti Maaf, tangan untuk menulis, ya.
7. Tetap ungkapkan kasih sayang
Ketika suasana sudah tenang, sampaikan dengan lemah lembut alasan mengapa tadi orangtua memarahi anak. Lalu meminta maaf dan memohon kepada anak agar tidak mengulangi perbuatannya.
Selanjutnya, ungkapkan kasih sayang dengan sentuhan, misalnya dengan pelukan, kecupan, usapan di tangan, di kepala, di bahu atau di punggung.
Misalnya: "Kak, maaf tadi Mama marahin Kakak. Lain kali kalau pergi main pamit atau bilang dulu ya. Kan Mama kuatir terjadi sesuatu dengan Kakak."
"Dek, maaf tadi Papa marahin Dedek. Lain kali main dengan mainan Dedek ya, bukan dengan laptop Papa, karena laptop Papa buat keperluan kerja."
Demikianlah hal-hal yang perlu dicermati orangtua saat memarahi anak. Sebelumnya, mulai coba lewat menasehati dengan baik dan lembut.
(*)
Artikel ini sudah tayang di Surya Malang dengan judul : Tingkah Viral Bocah Balita Ganggu Salat Tarawih Sampai Bubar, Goda Imam, Makmum Tertawa dan Pasrah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/tingkah-viral-bocah-balita-ganggu-salat-tarawih.jpg)