Jumlah Kasus Covid-19 di Indonesia Bertambah Menjadi 7.135 Pasien, Ilmuwan: Corona Masih Diremehkan
Data yang sama juga menyebutkan bahwa tercatat ada penambahan 26 pasien Covid-19 yang meninggal dalam 24 jam terakhir.
TRIBUN-MEDAN.com - Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan bahwa masih ada penularan virus corona yang menyebabkan kasus Covid-19 masih bertambah.
Berdasarkan data pemerintah hingga Selasa (21/4/2020) pukul 12.00 WIB, terdapat 375 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir.
Ratusan kasus baru tersebut menyebabkan jumlah total kasus Covid-19 di Indonesia ada 7.135 pasien, sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020.
Hal ini diungkapkan Yurianto dalam konferensi pers di Graha BNPB pada Selasa sore.
"Pada hari ini kami dapatkan 375 kasus konfirmasi (positif) yang baru, sehingga total ada 7.135 orang," ujar Achmad Yurianto.
Dalam periode yang sama, diketahui ada penambahan 95 pasien Covid-19 yang sembuh setelah sebelumnya dinyatakan negatif virus corona dari dua kali pemeriksaan.
Penambahan itu menyebabkan jumlah pasien sembuh totalnya ada 842 orang.
Adapun, pemerintah juga menyatakan kabar duka dengan masih adanya pasien yang tutup usia.
Data yang sama juga menyebutkan bahwa tercatat ada penambahan 26 pasien Covid-19 yang meninggal dalam 24 jam terakhir.
"Sehingga jumlahnya (total) menjadi 616 orang," kata Yurianto.
Kasus baru di 23 provinsi
Data pemerintah memperlihatkan bahwa penambahan kasus Covid-19 disebabkan adanya pasien baru di 23 provinsi.
DKI Jakarta mencatatkan penambahan tertinggi sejak 20-21 April 2002 dengan 163 kasus baru Covid-19.
Penambahan tinggu juga dicatat Jawa Tengah dengan 98 kasus baru dan NTB dengan 21 kasus baru.
Berikut data sebaran kasus baru berdasarkan data hingga 21 April 2020:
1. DKI Jakarta: 163 kasus baru
2. Jawa Tengah: 98 kasus baru
3. NTB: 21 kasus baru
4. Jawa Timur: 13 kasus baru
5. Papua: 11 kasus baru
6. Bali: 10 kasus baru
7. Jawa Barat: 9 kasus baru
8. Kalimantan Tengah: 7 kasus baru
9. Kalimantan Barat: 6 kasus baru
10. Kalimantan Timur: 5 kasus baru
11. Jambi: 5 kasus baru
12. Bengkulu: 4 kasus baru
13. Sulawesi Selatan: 4 kasus baru
14. Kalimantan Utara: 3 kasus baru
15. Gorontalo: 3 kasus baru
16. Kalimantan Selatan: 2 kasus baru
17. DIY: 3 kasus baru
18. Kepulauan Riau: 2 kasus baru
19. Sumatera Barat: 2 kasus baru
20. Sumatera Utara: 1 kasus baru
21. Bangka Belitung: 1 kasus baru
22. Lampung: 1 kasus baru
23. Riau: 1 kasus baru
Proses pemakaman jenazah PDP Covid-19 di Kecamatan Gunungtanjung, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (7/4/202/) siang, berjalan lancar. (Tribun Jabar/Firman Suryaman)
Mutasi Corona Masih Diremehkan
Studi baru yang dilakukan para ilmuwan China telah menemukan kemampuan virus corona baru, SARS-CoV-2, dalam bermutasi. Namun, hal ini masih banyak dianggap remeh.
Ilmuwan menilai strain yang berbeda mungkin saja memberi dampak penyakit Covid-19 yang berbeda di dunia.
Profesor Li Lanjuan dan rekan-rekannya di Zhejiang University menemukan mutasi virus corona pada sekelompok kecil pasien yang sebelumnya tidak dilaporkan.
Melansir South China Morning Post (SCMP), Selasa (21/4/2020), mutasi ini termasuk perubahan yang sangat langka, sehingga para ilmuwan tidak pernah menganggapnya mungkin terjadi.
Para peneliti juga telah mengkonfirmasi untuk pertama kalinya dengan bukti laboratorium. Bukti ini menunjukkan mutasi tertentu dari virus penyebab Covid-19 tersebut ternyata dapat menciptakan jenis yang lebih mematikan dari jenis virus lainnya.
"SARS-CoV-2 telah memperoleh mutasi yang mampu secara substansial mengubah patogenisitasnya," kata Prof Li dan timnya dalam makalah yang dirilis pracetak di medRxiv.org pada Minggu (19/4/2020).
Prof Li memberikan bukti yang kuat untuk pertama kalinya, bahwa mutasi dapat memengaruhi seberapa para virus menyebabkan penyakit atau kerusakan pada inangnya.
Untuk lebih menguatkan bukti tersebut, Prof Li menggunakan pendekatan yang tidak biasa untuk menyelidiki mutasi virus corona ini.
Dia menganalisa strain virus yang diisolasi dari 11 pasien Covid-19 yang dipilih secara acak dari Hangzhou di provinsi timur Zhejiang.
Selanjutnya, menguji seberapa efisien strain virus tersebut dapat menginfeksi dan membunuh sel.
Mutasi paling mematikan pada pasien Zhejiang juga telah ditemukan pada sebagian besar pasien di seluruh Eropa.
Sedangkan strain yang lebih ringan adalah varietas dominan yang ditemukan di Amerika Serikat, seperti di negara bagian Washington.
Strain agresif hasilkan lebih banyak mutasi
Studi lain juga menemukan strain virus corona di New York telah 'diimpor' dari Eropa, sehingga tingkat kematian di negara bagian ini serupa dengan di banyak negara di Eropa.
Kendati demikian, Prof Li mengingatkan mutasi yang lebih lemah bukan berarti risiko infeksi virus corona penyebab Covid-19 ini juga lebih rendah bagi semua orang.
Di Zhejiang, dua pasien berusia sekitar 30 tahun dan 50 tahun yang tertular strain virus corona yang lebih lemah menjadi sakit yang parah.
Meskipun keduanya pada akhirnya dapat bertahan, namun pasien yang lebih tua membutuhkan perawatan di unit perawatan intensif.
Ukuran sampel dalam penelitian terbaru ini sangat kecil. Studi lain yang melacak mutasi virus biasanya melibatkan ratusan, atau bahkan ribuan strain.
Tim Li mendeteksi lebih dari 30 mutasi virus corona dan di antara mereka sebanyak 19 mutasi atau sekitar 60 persen adalah mutasi virus baru.
Mereka menemukan beberapa mutasi ini dapat menyebabkan perubahan fungsional pada spike protein virus, struktur unik di atas selubung virus yang memungkinkan virus corona mengikat sel manusia.
Untuk memverifikasi teorinya, Li dan rekannya menginfeksi sel dengan strain yang membawa mutasi berbeda.
Jenis yang paling agresif dapat menghasilkan viral load hingga 270 kali lebih banyak dibandingkan jenis yang paling lemah.
Strain ini juga membunuh sel-sel dengan sangat cepat.
"Itu adalah hasil tak terduga dari sedikitnya selusinan pasien yang menunjukkan perbedaan dari strain virus yang sebagian besar masih diremehkan," jelas Prof Li.
Gen virus corona yang bermutasi berbeda dari strain paling awal yang diisolasi di Wuhan, tempat virus ini pertama kali terdeteksi.
Virus corona berubah dengan kecepatan rata-rata satu mutasi per bulan.
Pada hari Senin, lebih dari 10.000 strain telah diurutkan oleh para ilmuwan di seluruh dunia, dan menurut China National Centre for Bioinformation strain tersebut mengandung 4.300 mutasi.
Pengembangan vaksin pertimbangkan mutasi virus
Temuan dari studi ini bisa menjelaskan perbedaan dalam mortalitas regional. Sebab, infeksi pandemi dan tingkat kematian bervariasi dari satu negara dengan negara lain.
Masalah ini juga semakin rumit, sebab tingkat kelangsungan hidup tergantung juga pada banyak faktor, seperti usia, kondisi kesehatan yang mendasari atau bahkan golongan darah.
Di rumah sakit, Covid-19 telah diperlakukan sebagai salah satu penyakit dan pasien telah menerima pengobatan yang sama terlepas dari strain yang mereka miliki.
Prof Li dan koleganya menyarankan agar kemungkinan mutasi virus corona ini di suatu wilayah dapat dipertegas untuk menentukan tindakan yang dapat dilakukan dalam melawan virus SARS-CoV-2 ini.
"Pengembangan obat-obatan dan vaksin, walaupun mendesak, perlu memperhitungkan dampak akumulasi mutasi virus corona ini. Untuk menghindari potensi yang lebih buruk," jelas Prof Li.
Untuk diketahui, Prof Li adalah ilmuwan China pertama yang mengusulkan lockdown kota Wuhan, yang diketahui sebagai tempat pertama merebaknya wabah virus corona baru ini.(*)
Artikel telah tayang di Kompas.com dengan judul:UPDATE: Bertambah 375, Kini Ada 7.135 Kasus Covid-19 di Indonesia dan Ilmuwan China: Kemampuan Agresif Mutasi Virus Corona Masih Diremehkan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/labotorium-pcr-untuk-pemeriksaan-spesimen-pasien-di-rumah-sakit-usu.jpg)